Selasa, 06 September 2011

KESATUAN DAN KERAGAMAN: Perspektif Iman Kristen Berdasarkan Studi Biblika


KESATUAN DAN KERAGAMAN:
Perspektif Iman Kristen Berdasarkan Studi Biblika

oleh: Denny Teguh Sutandio



Di dunia ini, kita mendapati begitu banyak keragaman: suku, agama, bangsa, bahasa, etnis, kebudayaan, status sosial, dll. Khususnya di Indonesia, secara dasar negara, meskipun terdiri dari beragam budaya, agama, dll, bangsa ini mengaku bahwa semuanya itu satu yaitu bangsa Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Apa arti kesatuan dan keberagaman? Bagaimana iman Kristen menyikapi kesatuan di dalam keberagaman (unity in diversity)?

Mari kita menyelidiki apa kata Alkitab berkaitan dengan keragaman dan kesatuan sejati.
Kalau kita kembali ke Alkitab, khususnya dari kitab pertama yaitu Kejadian, kita telah mendapati adanya keragaman. Allah sendiri di dalam penciptaan menciptakan keberagaman itu: “Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian.” (Kej. 1:11), “Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” (Kej. 1:21; bdk. ay. 24), dan terakhir tentunya Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan. Kesemuanya itu membuktikan bahwa keberagaman itu adalah ide Allah sendiri. Bahkan perintah Allah sendiri kepada manusia pertama di Kejadian 1:28 menunjukkan bahwa Allah menyukai keberagaman, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Namun, manusia pertama bukannya menaati Allah, namun memberontak, sehingga mereka diusir dari Taman Eden. Dan sejak saat itulah, mereka membenci ide keragaman dan berusaha bersatu melawan Allah. Hal itu ditandai dengan rencana mereka membangun Menara Babel di Kejadian 11. Di sini, dosa mengakibatkan persatuan, namun persatuan itu melawan Allah. Namun Allah yang berdaulat menggagalkan rencana mereka, sehingga akhirnya mereka kembali terserak.

Di dalam Perjanjian Lama, kita mendapati bahwa Allah memilih umat-Nya pun bukan dari satu bangsa, tetapi dari beberapa bangsa. Nuh yang merupakan anak dari Lamekh (keturunan Adam) dipilih Allah untuk menjadi saksi-Nya ketika manusia di zamannya berdosa melawan Allah (Kej. 5:30). Abraham (dahulu bernama Abram) yang merupakan anak dari Terah yang tinggal di Ur-Kasdim (Kej. 11:27) dipanggil Allah untuk menerima perjanjian-Nya (Kej. 12:1-3). Dari keturunannya, lahirlah Ishak, Ishak melahirkan Yakub, dan dari Yakub, Allah menyebut Yakub sebagai Israel dan nama ini menjadi cikal bakal nama suatu bangsa (Kej. 32:28). Semenjak itulah, Allah memelihara umat Israel sebagai umat kepunyaan-Nya. Namun, umat Israel tidak sama dengan bangsa Israel, karena umat Israel merupakan umat khusus Allah yang TIDAK dibatasi oleh bangsa Israel atau lahir di Israel (bdk. Rm. 9:6). Selain itu, Tuhan Yesus langsung menjawab para orang Yahudi yang mengklaim bapanya adalah Allah dengan berfirman, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.” (Yoh. 8:42-47) Dengan kata lain, Ia hendak mengajar mereka dan kita bahwa umat Allah bukan dinilai dari orang yang lahir di Israel atau mengikuti syariat keagamaan, tetapi umat yang telah mendapat kovenan dari Allah atau dilahirkan dari Allah. Di sini, kita belajar yang namanya anak-anak Tuhan BUKANlah mereka yang menjadi anggota suatu gereja tertentu atau telah menerima sakramen tertentu, tetapi mereka yang sungguh-sungguh telah dipilih dan ditentukan-Nya dari semula (Rm. 8:29-30).

Lama-kelamaan, umat Israel bertambah banyak, namun apakah dengan semakin banyak umat Israel, mereka menjadi tanpa arah? TIDAK. Untuk mencegah hidup mereka yang tanpa arah, Allah yang telah mengeluarkan umat Israel dari Mesir memberikan 10 perintah untuk ditaati umat Israel (Kel. 20). Dasa titah itu merupakan dasar pemersatu umat Israel agar mereka yang beraneka ragam bisa bersatu menjalankan firman Allah. Di sini, kita belajar konsep kesatuan (Ing.: oneness; keseragaman) ala manusia berdosa di Menara Babel diruntuhkan oleh Allah dan diganti dengan konsep persatuan sejati (Ing. unity) yaitu bersatu di dalam Allah dan firman-Nya. Selain Dasa Titah, Allah juga memberitakan aturan baku di dalam kitab Imamat tentang tata cara ibadah dan kelakuan yang mengatur hidup umat Israel. Cara Allah memberikan dasar persatuan bagi umat-Nya ternyata tidak ditaati, bahkan mereka memberontak dan menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa lain (1Sam. 8). Mereka berpikir bahwa dengan hadirnya seorang raja dunia, maka sang raja bisa memerintah sekaligus mempersatukan mereka, padahal mereka tidak menyadari bahaya dipilihnya seorang raja tersebut (1Sam. 8:10-18). Namun, meskipun sudah diberi tahu bahaya dipilihnya seorang raja, bangsa Israel tetap bersikeras minta raja (1Sam. 8:19). Kelakuan mereka secara tidak sadar hendak mengulang sejarah kelam Menara Babel yang menginginkan persatuan duniawi atau seseorang yang kelihatan yang mempersatukan mereka dengan menolak Allah dan pemerintahan-Nya.

Tegar tengkuknya orang Israel ternyata menuai akibatnya sendiri. Saul yang dipilih sebagai raja pertama Israel ternyata juga tidak beres (1Sam. 13, 15), karena bukan dia yang Tuhan pilih, tetapi Daud (1Sam. 16:1-13). Daud memang menjalankan pemerintahannya dengan benar, namun dia tidak tahan dengan godaan dosa seksual, sehingga Batsyeba yang sedang mandi pun diincarnya untuk dijadikan istrinya. Cara licik pun dipakai Daud dengan membunuh Uria, istri Batsyeba untuk mempersunting Batsyeba (2Sam. 11). Sesudah Daud menjadi raja dan meninggal, maka Salomo menggantikannya. Salomo pada awalnya memang tulus yaitu meminta hikmat Tuhan untuk memerintah Israel, karena waktu itu usianya masih muda (1Raj. 3:6-9). Namun ketulusan hatinya berlangsung sebentar. Karena Salomo makin kaya dan terkenal, maka Salomo menjadi lupa diri. Ia jatuh ke dalam penyembahan berhala melalui banyak perempuan asing yang dinikahinya (1Raj. 11). Akibatnya, Tuhan murka dan membagi kerajaan Israel menjadi 2 (1Raj. 12). Penerusnya, Yerobeam dan Rehabeam juga tidak takut akan Tuhan. Kemudian, sejak 1 Raja-raja 15 hingga kitab 2 Raja-raja selesai, kita mendapati riwayat 2 kerajaan: Israel dan Yehuda bergantian diperintah oleh raja yang berganti-ganti: raja pertama takut akan Tuhan, penerusnya tidak (atau sebaliknya). Di sini, kita belajar bahwa ketika dasar persatuan sejati yaitu firman Allah ditolak, maka bangsa akan menjadi porak poranda. Kedegilan hati mereka mengakibatkan mereka dibuang oleh Allah ke Filistin, dll. Di masa intertestamental, Allah tidak berfirman apa pun kepada umat-Nya karena Ia akan mengutus Sang Mesias yaitu Kristus untuk benar-benar memberitakan Kabar Baik kepada umat-Nya.

Ketika Kristus datang, Ia memberitakan Injil kepada banyak orang tanpa melihat status sosial, etnis, dll. Keragaman kembali dimulai oleh Kristus, namun sekali lagi bukan tanpa dasar yang mempersatukan, karena yang diberitakannya adalah Injil yaitu Kabar Baik bahwa ada pengharapan di dalam Dia. Injil yang Kristus beritakan adalah dasar pemersatu keragaman manusia saat itu, sehingga manusia dari beragam status, etnis, dll dapat mendengar Injil tersebut. Setelah Ia mati disalib dan bangkit, maka sebelum Ia naik ke Sorga, Ia berfirman, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mat. 28:18-19) dan “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8) Kembali, Kristus menekankan pentingnya keragaman etnis, bangsa, dll dengan dasar pemersatu: Injil Kristus.

Bukan hanya Kristus, rasul Paulus pun menekankan hal ini. Di dalam 2 suratnya, Paulus mengajar tentang keragaman etnis, status, dll di dalam kesatuan: Kristus. Misalnya, di Galatia 3:28, Paulus mengajar, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” dan di Kolose 3:11, ia mengajar, “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Dua ayat ini TIDAK berarti semuanya seragam antara Yahudi dan Yunani, hamba dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, dll. TIDAK. Kesatuan di dalam Kristus TIDAK meniadakan keragaman, tetapi menghargai dan mempersatukan. Jika dua ayat ini ditafsirkan bahwa laki-laki dan perempuan itu seragam tanpa ordo/urutan, maka tentu saja Paulus tidak perlu mengajar bahwa istri tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istrinya (Ef. 5:22-33; Kol. 3:18-19). Bahkan untuk mengajarkan pentingnya kesatuan dalam keberagaman, maka Paulus mengajar bahwa setiap anak Tuhan diberikan karunia yang beraneka ragam, namun semuanya dipakai untuk membangun tubuh Kristus (1Kor. 12:5-10). Keragaman karunia itu dijelaskan Paulus di ayat 4 sebagai dasarnya yaitu, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” Dengan kata lain, keragaman karunia rohani itu yang berasal dari satu Roh dan bertujuan untuk membangun tubuh Kristus seharusnya tidak membuat umat Tuhan bertengkar memperebutkan mana yang lebih penting, karena semuanya itu satu tubuh (bdk. 1Kor. 12:12-30) dan didasari oleh kasih sebagai dasar pemersatunya (1Kor. 12:31-13:13). Bahkan ia mengajar pentingnya kesatuan tubuh Kristus khusus di Filipi 2:1-11 dengan tujuan agar mereka yang bersatu di dalam Kristus tidak meninggikan diri mereka masing-masing, tetapi saling merendahkan diri seperti Kristus yang merendahkan diri-Nya untuk mati menebus dosa manusia.

Kesatuan di dalam keragaman juga ditandai dengan dicatatnya para pahlawan iman di dalam Ibrani 11:4-40. Mereka dipakai Tuhan secara berbeda-beda sesuai konteks panggilan mereka, namun intinya satu: IMAN kepada Allah dan kekuatan-Nya yang menguatkan mereka meresponi panggilan Allah tersebut.

Dari studi singkat Alkitab baik dari PL maupun PB, maka apa saja yang bisa kita pelajari tentang keragaman dan kesatuan?
Pertama, Tuhan adalah sumber keragaman sejati. Di titik pertama, di kitab Kejadian 1, kita telah membaca bahwa Allah menciptakan manusia, binatang, dan tumbuhan di dalam keanekaragaman. Diserakkannya para pembangun Menara Babel juga membuktikan Dia tidak mau manusia bersatu dengan tujuan melawan Allah dan perintah-Nya untuk memenuhi bumi. Di dalam PB, kita belajar bahwa Allah yang sama juga menghendaki keragaman melalui: Kristus yang memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi, diakuinya beragam karunia rohani dari anak-anak Tuhan, dll dengan tujuan agar masing-masing anak Tuhan dengan latar belakang berbeda dan karunia yang dimilikinya sama-sama memuliakan-Nya. Dengan kata lain, meskipun ada keragaman, tujuannya jelas yaitu untuk kemuliaan Allah, bukan keragaman tanpa arah!
Bagaimana dengan kita khususnya orang Kristen? Terkadang, saya pribadi menjumpai beberapa orang Kristen dengan pola pikir theologi tertentu (sangat) anti dengan keragaman. Dengan pola pikir generalisasi tanpa dasar yang jelas, keragaman dicap postmodernisme dan sesat, padahal Alkitab dari Kejadian 1 jelas-jelas mencatat adanya keragaman. Di dalam satu gereja, jika ada sedikit perbedaan ajaran secara sekunder antara satu jemaat dengan pendetanya (misalnya berkaitan dengan gaya ibadah: kuno/pakai liturgi vs modern, lagu-lagu rohani himne dan klasik vs kontemporer, dll), si pendeta dengan gegabah mungkin akan mencap jemaatnya sesat atau sudah menjadi sekuler/duniawi, padahal itu hanya perbedaan sekunder, bahkan tersier/tidak terlalu penting! Di dalam lingkup Kekristenan keseluruhan, ada pendeta yang percaya baptisan anak dengan tanpa mikir langsung mengatakan sesat bagi mereka yang tidak menjalankan baptisan anak. Perbedaan sekunder dianggap berasal dari setan, dll, padahal perbedaan itu bukanlah perbedaan inti. Saya benar-benar prihatin dengan kondisi Kekristenan khususnya yang ekstrem. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada orang kaku yang dengan kolot menolak mentah-mentah keberbedaan dengan memaksakan cara pikir, sikap, dll dari si orang kaku ini dengan orang lain. Semua harus seragam dengan si orang kaku ini, jika ada yang tidak sama, orang kaku ini akan kebakaran jenggot.
Saya tidak mengatakan bahwa keragaman dalam segala sesuatu itu suci, karena memang saya mengakui bahwa dunia kita menganut banyak keragaman yang tanpa arah (alias suka-suka gue). Kalau Anda membaca paragraf di atas, yang saya soroti adalah keragaman dalam hal sekunder, bukan primer, sehingga jangan salah menafsirkan maksud saya!
Jika kita sebagai orang Kristen mengakui keragaman, maka sikap kita seharusnya terhadap keragaman itu adalah saling menghargai. Untuk hal-hal sekunder, misalnya perbedaan konsep akhir zaman, cara baptisan, dll, kita bisa menjelaskan tentang prinsip kepercayaan kita kepada saudara Kristen lain yang berbeda pandangan dengan kita, namun jika saudara Kristen kita itu tidak menerimanya, maka kita tidak usah lagi meributkannya dan kita perlu menghargai perbedaan konsep itu. Kalau untuk hal-hal tersier, misalnya perbedaan selera makanan, model pakaian, dll, kita tidak perlu menjelaskannya (kecuali kalau itu berhubungan dengan hubungan lawan jenis, entah itu pacaran maupun sudah menikah), karena penjelasan itu kurang berguna. Apa gunanya meributkan selera makanan atau selera berpakaian, karena Tuhan memberikan kepada kita masing-masing variasi selera yang beragam. Bayangkan jika semua orang Kristen memiliki selera warna pakaian yang sama, apakah itu indah? TIDAK. Di dalam hal doktrinal, perbedaan tersier, misalnya apakah X itu seorang Calvinis yang menganut infralapsarian Vs supralapsarian atau predestinasi tunggal (Allah hanya memilih beberapa manusia untuk diselamatkan) Vs predestinasi ganda (Allah hanya memilih beberapa manusia untuk diselamatkan dan membuang sisanya untuk dimasukkan ke dalam neraka), bagi saya, itu tidak usah diributkan.

Kedua, di dalam keragaman, Tuhan tetap menghendaki kesatuan. Di dalam keanekaragaman, Tuhan tidak membiarkan keragaman itu berjalan tanpa arah. Hal ini bisa kita lihat dari diwahyukannya Dasa Titah, diberitakan Injil, dan dikaruniakannya karunia-karunia Roh, dll sebagai dasar yang mempersatukan dan mengarahkan keragaman umat Tuhan di dalam hidup menjalankan panggilan-Nya. Dengan kata lain, kesatuan sejati (the true unity) TIDAK boleh dilepaskan dari Allah dan firman-Nya!
Bagaimana dengan kita? Di dunia ini, bahkan di dalam Kekristenan, kita terlalu banyak mendapati kata “persatuan”, namun sayang persatuan yang ditekankan kebanyakan mereka adalah persatuan tanpa arah. Mereka mau bersatu artinya mereka bukan bersatu di dalam firman Tuhan, tetapi maksudnya bersatu: tidak menekankan doktrin/ajaran theologi tertentu. Yang lebih memprihatinkan, seorang pendeta Reformed pernah berkata bahwa beliau diundang berkhotbah di dalam suatu persekutuan interdenominasi dan disuruh berkhotbah/mengajar dengan tema Predestinasi, namun si panitia memberikan “pesan sponsor” kepada si pendeta agar si pendeta tidak membicarakan doktrin tertentu. Cape dechJ Tema yang akan dibahas: Predestinasi (dipilih sebelum dunia dijadikan), tetapi tidak boleh membicarakan doktrin tertentu? Suatu ketidakmasukakalan! Dengan kata lain, di dalam suatu persekutuan yang bersifat interdenominasi, kalau mau konsisten, si panitia akan mengundang para pengkhotbah lintas denominasi: Protestan Injili, Karismatik, Methodist, Orthodoks Syria, bahkan Katolik. Pengkhotbah yang satu mengajar bahwa ikut Kristus pasti kaya, sehat, sukses, sedangkan pengkhotbah yang lain mengajar bahwa ikut Kristus harus menderita, yang lebih konyol pengkhotbah terakhir malah meragukan apakah Kristus itu Tuhan atau bukan. Silahkan pikir sendiri apa yang akan terjadi pada orang Kristen yang mengikuti persekutuan gado-gado ini. Tetapi sejujurnya, saya mengamati beberapa persekutuan yang mengaku bersifat interdenominasi, para pengkhotbah yang diundang mayoritas berasal dari gereja kontemporer yang pop, sedangkan sedikit sekali pengkhotbah berasal dari gereja Protestan Injili.
Saya tidak mengatakan bahwa interdenominasi itu salah, tetapi yang saya soroti adalah semangat di balik perkataan “interdenominasi.” Bagi saya, interdenominasi sejati adalah orang Kristen dari berbagai macam aliran gereja bersama-sama belajar firman Tuhan/Alkitab dengan prinsip penafsiran yang bertanggung jawab (memperhatikan teks asli: Ibrani dan Yunani, konteks dan latar belakang, perbandingan terjemahan, tafsiran, dll), lalu setelah itu, mereka diizinkan kembali ke gereja asal mereka masing-masing untuk membagikan berkat rohani yang telah didapatkannya itu. Yayasan Kristen atau seminari theologi yang bersifat interdenominasi bukanlah yayasan Kristen atau seminari yang tidak memiliki fondasi doktrin, tetapi memiliki fondasi doktrin yang kokoh, namun menerima pengurus, dosen, staf, dan mahasiswa dari berbagai denominasi gereja untuk melayani dan belajar firman Tuhan bersama dengan dasar yang jelas.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita benar-benar memaknai keragaman dan kesatuan sebagaimana yang diajarkan Alkitab? Biarlah kita makin hari makin bijak menyikapi keragaman dan kesatuan, lalu mengaitkannya di atas dasar Alkitab, sehingga kita tidak terjebak ke dalam sikap ekstrem: kompromi tanpa arah yang jelas (semua itu sama) atau eksklusif yang berlebihan. Amin. Soli DEO Gloria.

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar: