Selasa, 06 September 2011

KEBERHASILAN ALLAH DALAM KEBERHASILAN MANUSIA


KEBERHASILAN ALLAH DALAM KEBERHASILAN MANUSIA

oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.


Nats: 2 Raja-raja 20:1-11



 Kisah tentang Hizkia yang sakit keras dan akhirnya diperpanjang usianya 15 tahun lagi oleh Tuhan merupakan salah satu kisah yang terkenal dalam Alkitab. Bagi sebagian orang peristiwa ini dipahami sebagai bukti bahwa doa bisa mengubah rencana Allah. Yang lain berusaha dengan keras menolak implikasi seperti itu, namun gagal memberikan alasan yang meyakinkan. Mereka mengatakan bahwa nubuat yang disampaikan Yesaya bersifat bersyarat (conditional), sama seperti nubuat penghancuran Niniwe (Yun. 1-3).

2 Raja-raja 20:1-11 justru memaparkan keseimbangan yang sangat indah antara kebebasan manusia dan kedaulatan Allah. Dua hal ini bukanlah musuh bebuyutan, tetapi sahabat karib. Kedaulatan Allah tidak dijalankan secara mekanis seperti sebuah mesin. Kedaulatan ini berada dalam sebuah proses yang dinamis dan kreatif. Kisah Hizkia ibarat sebuah lukisan indah hasil perpaduan antara kebebasan dan keberhasilan seorang manusia yang dibingkai dalam kedaulatan dan keberhasilan Allah.

Alasan inilah yang membuat kisah Hizkia cocok untuk direnungkan dalam sebuah khotbah sulung. Penahbisan seseorang sebagai pendeta di satu sisi adalah keberhasilan orang tersebut untuk menunjukkan dedikasi, prestasi, dan integritasnya. Di sisi lain, keberhasilan ini sebenarnya harus dilihat sebagai perayaan keberhasilan Allah menjaga hamba-Nya. Dalam ketidaklayakan kita, Allah terus menganggap kita layak. Dia bekerja di dalam kelemahan, keterbatasan, dan keberdosaan hamba-hamba-Nya.


Pergumulan Berat yang Sulit Dipahami (20:1-3)
Pembaca yang teliti akan dengan mudah menemukan kejanggalan dalam kisah ini dari sisi kronologi (urutan waktu/peristiwa). Di akhir pasal 19 diceritakan bahwa bangsa Asyur sudah kalah dan pulang ke negaranya (19:35-37), tetapi dalam cerita ini Hizkia dan seluruh penduduk kota dijanjikan TUHAN akan dibebaskan dari tangan Asyur (20:6). Pengaturan kisah yang tidak kronologis seperti ini merupakan fenomena biasa dalam Alkitab (bdk. Yes. 37:36-38:1), karena para penulis sering kali lebih mengutamakan progresivitas tema/topik daripada waktu/peristiwa. Dalam kasus 2 Raja-raja 20:1-11, penulis mungkin sengaja meletakkannya di bagian terakhir kisah hidup Hizkia sebagai jembatan yang mulus sebelum berpindah pada nubuat simbolis tentang invasi Babel (20:12-21) dan pergantian kepemimpinan ke tangan Manasye (21:1-18).

Walaupun dari sisi kronologi tidak terlalu penting, tetapi keterangan waktu yang diberikan di 20:1 sangat perlu untuk dicermati. Sakit parah yang dialami Hizkia terjadi “pada hari-hari itu”. Keterangan ini sangat umum dan bisa mencakup rentang waktu yang cukup lama. Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah fakta bahwa Hizkia sakit bersamaan dengan invasi bangsa Asyur ke Yehuda. Bagaimana kita dapat mengetahui hal ini? Di 18:1-2 dikatakan bahwa Hizkia memerintah selama 29 tahun. Jika dikurangi dengan 15 tahun perpanjangan umur yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, maka sakit keras yang ia alami terjadi pada tahun ke-14 pemerintahannya. Nah, 18:13 menginformasikan bahwa bangsa Asyur mulai menyerang dan mengalahkan Yehuda.

Situasi politis dan keadaan fisik Hizkia jelas merupakan keadaan yang sukar dipahami oleh Hizkia dalam konteks teologi retribusi mekanis (taat = berkat, tidak taat = kutuk) yang dipegang teguh oleh bangsa Yehuda waktu itu. Hizkia baru saja mengadakan reformasi rohani yang luar biasa (18:3-8). Dibandingkan dengan kebanyakan raja Israel maupun Yehuda, Hizkia termasuk yang paling menonjol dalam hal kesalehan (18:5). Sehubungan dengan hal ini, apa yang menimpa Hizkia dan bangsa Yehuda waktu itu memang cukup pelik untuk dipahami. Hizkia sulit mengerti mengapa seseorang yang saleh justru menghadapi penyakit yang parah, apalagi penyakit barah yang ia alami (20:7b) sama dengan orang-orang Mesir yang dihukum oleh Tuhan (Kel. 9). Penyakit ini bahkan termasuk salah satu penyakit kulit yang membuat orang menjadi najis (Kel. 13). Ini pula yang menjadi penyebab mengapa Hizkia tidak bisa datang ke rumah TUHAN selama ia sakit (20:5, 8). Seandainya ia benar-benar mati waktu itu, orang-orang pasti mempertanyakan umurnya yang pendek, karena Amsal 10:27 mengatakan, “takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek”.

Pergumulan ini sama dengan yang dihadapi oleh Ayub (Ayb. 1-2) dan Asaf (Mzm. 73). Seandainya semua keadaan negatif ini muncul sebagai hukuman dari Tuhan atas dosa tertentu, maka situasinya menjadi mudah untuk diterima. Ketika seseorang sudah berusaha hidup benar di hadapan Allah tetapi ia tetap mengalami berbagai penderitaan, mudah bagi orang itu untuk mempertanyakan segala sesuatu kepada Allah.

Hal itulah yang dilakukan Hizkia. Di tengah segala penderitaannya, ia memutuskan untuk menghadap ke tembok dan berdoa (20:2). Respon ini sangat kontras dengan Ahab. Ketika Ahab tidak berhasil mendapatkan kebun anggur Nabot, ia pergi ke kamar dan menelungkupkan wajahnya dalam kekesalan, namun ia sama sekali tidak berdoa (1Raj. 21:4). Hizkia mengambil langkah yang tepat. Isi doa yang berfokus pada kesalehan dan ketulusan (20:3) bukanlah sebuah ungkapan kesombongan. Ini merupakan kejujuran Hizkia yang mencoba memahami semua yang terjadi dalam kacamata teologi retribusi.

Kebaikannya bukan hanya terletak pada hal-hal eksternal, tetapi juga mencakup kedalaman hatinya. Ia melakukan semuanya dengan tulus (LAI:TB/NJB). Beberapa versi memilih terjemahan “hati yang sempurna” (KJV/ASV/YLT) atau “sepenuh hati” (NASB/ESV/RSV/NRSV/NIV). Terjemahan mana pun yang benar, hal itu tetap merujuk pada kesalehan yang berasal dari dalam diri Hizkia. Poin ini sangat perlu disinggung oleh Hizkia, karena sebagian orang mungkin menganggap penderitaannya sebagai bukti bahwa kesalehannya tidak bersumber dari ketulusan hati sehingga TUHAN menghukum dia.


Respons TUHAN Terhadap Doa Sebagai Bukti Kesetiaan-Nya (20:4-6)
Sikap Hizkia yang merendahkan diri di hadapan TUHAN ternyata membuat Dia berbelas kasihan. Kesegeraan respon dari pihak TUHAN dapat dilihat dari posisi Yesaya pada saat diperintahkan untuk kembali kepada Hizkia dan membawa berita kesembuhan. Yesaya belum meninggalkan pelataran tengah (20:4).

Apa yang sebelumnya telah dinubuatkan akhirnya diubah sendiri oleh TUHAN. Fenomena seperti ini beberapa kali kita temukan dalam kitab para nabi. Yang paling terkenal adalah berita penghukuman kepada Niniwe (1:2; 3:2-4) yang akhirnya tidak terlaksana karena mereka bertobat (3:10; 4:2). Dalam hal ini bukan berarti rencana TUHAN berubah, hanya saja nubuat yang disampaikan memang bersifat bersyarat (conditional), walaupun syarat yang diberikan tidak selalu diungkapkan secara eksplisit.

TUHAN mengubah situasi Hizkia karena doa dan tangisan Hizkia (20:5). Ini mencakup isi doa maupun cara berdoa. Apa yang didoakan Hizkia memang sesuatu yang benar. TUHAN pasti mengenal dan membela jalan orang benar (Mzm. 1:6; 5:13; 34:20; 37:25). Ia pun menampung tiap tetesan air mata kita (Mzm. 56:9).

Penjelasan di atas tidak berarti bahwa Hizkia telah menjadi faktor penentu. Ini bukanlah keberhasilan Hizkia, tetapi keberhasilan TUHAN dalam menepati janji-Nya. Beberapa ungkapan yang dipakai di bagian ini menunjukkan bahwa pengabulan doa Hizkia tidak boleh dipahami secara sempit. Doanya dikabulkan karena kepentingan TUHAN dan janji-Nya kepada Daud (20:6 “oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku”). Alasan ini dicatat kembali di 19:34 sesaat sebelum bangsa Asyur benar-benar dikalahkan.

Seandainya TUHAN tidak menyembuhkan Hizkia maupun menyelamatkan Yehuda, maka bangsa Asyur akan menghina TUHAN (19:10-13, 17-19), karena pada zaman itu kekalahan suatu bangsa diidentikkan dengan kekalahan dewa/allah yang disembah bangsa itu. Kekalahan Hizkia sangat berbeda dengan kasus pembuangan ke Babel. Dalam pembuangan ke Babel bangsa Yehuda memang berbuat dosa sehingga kekalahan mereka bisa dijelaskan sebagai hukuman dari Allah. Dalam kasus Hizkia bangsa Yehuda justru sedang berada dalam reformasi kerohanian. Jika dalam situasi seperti ini mereka tetap kalah, maka kesimpulan yang muncul adalah superioritas dewa Asyur atas TUHAN. Oleh sebab itu, TUHAN sendiri bertindak untuk menyembuhkan Hizkia dan menyelamatkan Yerusalem dari tangan Asyur.

Jawaban doa juga berkaitan erat dengan janji TUHAN kepada Daud (20:6 “oleh karena Daud, hamba-Ku”). Poin ini bahkan ditegaskan melalui dua cara: (1) Hizkia disebut sebagai “raja umat-Ku” (20:5; bdk. 20:1-3); (2) nama TUHAN diberi keterangan “Allah Daud, bapa leluhurmu” (20:5; bdk. 20:1). Dari sini terlihat bahwa pengabulan doa Hizkia tidak hanya berhubungan dengan Hizkia secara pribadi, tetapi sebagai penerus tahta Daud. Allah memang sudah berjanji bahwa keturunan Daud akan tetap ada di atas tahta Israel/Yehuda. Hizkia hanyalah alat di tangan TUHAN untuk merealisasikan janji-Nya.


Tanda dan Kesembuhan Ajaib Sebagai Peneguhan (20:7-11)
Persoalan rumit dalam bagian ini terletak pada ayat 7 bagian terakhir. Beberapa versi menyiratkan bahwa pada saat itu kesembuhan sudah terjadi (LAI:TB; KJV/ASV/NASB/NIV). Beberapa yang lain menyiratkan bahwa kesembuhan belum terjadi di ayat tersebut (RSV/NRSV “that he may recover”), karena itu Hizkia masih perlu meminta tanda sebagai peneguhan (20:8-11). Pilihan ke-1 lebih didukung oleh kalimat Ibrani yang dipakai. Penerjemah Septuaginta (LXX) pun mengadopsi pandangan ini. Pandangan ke-2 lebih didukung oleh alur logis dari cerita ini (karena di ayat 7 tidak langsung sembuh, maka Hizkia meminta tanda). Konteks juga menyiratkan bahwa kesembuhan terjadi dalam tiga hari. Pilihan mana yang benar sulit untuk dicapai. Kita sebaiknya memilih opsi ke-1, karena lebih didukung oleh tata bahasa dalam teks aslinya. Jika ini diterima, maka ayat 8 dapat dipahami sebagai peristiwa yang terjadi sebelum kesembuhan di ayat 7 (LAI:TB “sebelum itu”).

Pengobatan menggunakan kue ara (20:7) telah memancing beragam pertanyaan. Apa yang dimaksud dengan kue ara di sini? Mengapa kue ini malah dibubuhkan ke atas barah dan tidak dimakan saja? Sebagian penerjemah memakai kata “kue ara” (LAI:TB/ASV/RSV/NASB/ESV), sementara yang lain memilih “gumpalan ara” (KJV/NRSV) atau “minyak ara” (NLT). Dari kata Ibrani yang digunakan, yang dimaksud adalah buah ara yang ditumbuk sampai halus menjadi seperti bubur.

Sebagian teolog liberal menolak aspek mujizat dari kisah ini. Mereka berpendapat bahwa cara pengobatan menggunakan tumbukan ara merupakan praktek yang biasa ditemukan di daerah Mediterania. Obat tradisional ini memang sering dipakai untuk menyembuhkan penyakit kulit tertentu. Menurut mereka, kesembuhan Hizkia terjadi karena obat ini.

Pandangan di atas harus ditolak dengan tegas. Ada beberapa alasan kuat yang melemahkan pandangan tersebut. Pertama, seandainya cara pengobatan menggunakan buah ara sudah sedemikian terkenal pada waktu itu, maka semua orang, termasuk Hizkia dan para tabib di Yehuda, pasti sudah mengetahuinya. Mereka pasti sudah pernah mencoba mempraktekkannya pada Hizkia tetapi tidak terjadi kesembuhan.

Kedua, internal waktu antara penyakit dan kesembuhan terlalu pendek, yaitu hanya 3 hari (20:5, 8). Seandainya kesembuhan terjadi alamiah, sulit dipahami bagaimana penyakit kulit yang sudah sedemikian parah dan nyaris membawa kematian dapat disembuhkan dalam tempo yang begitu singkat. Bukan hanya penyembuhannya saja, tetapi pemulihan kulit Hizkia juga terjadi terlalu singkat untuk ukuran sebuah pengobatan alamiah.

Ketiga, kesembuhan ini disertai dengan tanda yang ajaib (20:9-11). Tidak seperti Ahaz yang menolak untuk meminta tanda dari TUHAN karena ia memang tidak mau percaya (Yes. 7:11-12), Hizkia mengakui ketidakmampuannya untuk beriman. Ia meminta tanda dari TUHAN sebagai peneguhan. Permintaan ini menunjukkan bahwa apa yang dijanjikan oleh TUHAN terdengar seperti hal yang mustahil di pikiran Hizkia.

Tanda yang diminta Hizkia sering kali dipahami penerjemah dan penafsir modern dalam konteks alat pengukur waktu berdasarkan baying-bayang matahari. Kata “tapak” (LAI:TB) dalam versi lain dipakai “derajat” (KJV), dengan asumsi bahwa Yesaya sedang membicarakan alar penghitung waktu matahari. Kata Ibrani yang dipakai sebenarnya merujuk pada anak tangga.

Kemungkinan besar pada waktu itu Hizkia dan Ahab (20:9, 11) terbiasa melihat waktu berdasarkan sinar matahari yang mencapai anak tangga tertentu di ruangan mereka. Semakin sore bayangan itu akan semakin maju, begitu sebaliknya. Permintaan Hizkia sebenarnya memiliki maksud simbolis. Pemunduran bayangan menyiratkan bahwa sebuah hari lebih lama usai daripada biasanya. Ini pula yang terjadi dengan Hizkia. Kematiannya diundur oleh TUHAN sehingga dengan demikian hidupnya menjadi lebih panjang daripada seharusnya.


Aplikasi
Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa TUHAN adalah aktor utama dalam kisah ini, bukan Hizkia. Tanpa bermaksud mengabaikan nilai penting doa dan tangisan (kenyataannya TUHAN sering kali bekerja melalui sarana ini), faktor penentu kesembuhan Hizkia lebih terletak pada diri Allah. Dia tidak ingin nama-Nya dipermalukan. Ia juga setia memegang janji-Nya kepada Daud. Hizkia dan doanya adalah sarana yang digunakan Allah untuk memenuhi janji-Nya. Doa mengubah keadaan kita, tetapi tidak mengubah rencana Allah. Sebaliknya, doa membuat kita semakin selaras dengan rencana-Nya.

Dalam momen penahbisan pendeta dan penginjil kali ini biarlah kita semua mengingat bahwa TUHANlah yang menjadi pemain penting. Ini bukan tentang keberhasilan hamba Tuhan atau sebuah gereja lokal. Ini adalah keberhasilan Allah. Ia bekerja di dalam diri majelis dan seluruh jemaat, sehingga mereka mampu menjadi mitra pelayanan yang baik bagi hamba Tuhan dan membuat para hamba Tuhan menjadi lebih dewasa serta layak untuk ditahbiskan. Ia bekerja dalam diri para hamba Tuhan sehingga mereka tetap setia melayani Dia. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi TUHAN yang telah mempercayakan pekerjaan-Nya yang besar kepada para hamba-Nya yang kecil, karya-Nya yang sempurna dalam kelemahan hamba-hamba-Nya. Amin.



Sumber:
Khotbah sulung penahbisan pendeta dan penginjil sinode GKRI di Surabaya, 27 Maret 2011



Profil Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.) yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di  Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Pada tanggal 27 Maret 2011, beliau ditahbiskan menjadi pendeta di sinode GKRI.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar: