Selasa, 06 September 2011

FOLLOW ME


FOLLOW ME

oleh: Pdt. Tommy Elim, M.Div.



Nats: Yohanes 21:17-23



Ketika kita membicarakan mengenai tema Follow Me, setidaknya tema ini melibatkan 2 pihak yaitu: pihak yang mengatakan/mengajak untuk mengikuti dia dan pihak yang diajak untuk ikut. Kita akan mencoba melihat kedua belah pihak ini, yaitu Yesus yang memanggil dan berkata kepada Petrus :”Ikutlah Aku” dan Petrus yang mengikut Yesus.

PEMIMPIN. Dalam kehidupan ini ketika kita bertemu dengan orang yang berkata Ikutlah aku”, pertanyaannya adalah apakah kita otomatis akan mengikuti undangan tersebut? Menarik sekali ketika mendapati undangan sesuatu/orang, maka sebuah pertanyaan yang tanpa sadar muncul adalah: “Mengapa saya harus ikut engkau?” Apa alasan dan dasarnya sehingga saya harus mengikuti engkau? Ini adalah kalimat yang berbicara mengenai kualifikasi. Ketika kita ingin mengikuti seseorang, maka kualifikasi orang yang kita ikuti menjadi penting. Semakin tinggi besar dan hebat kualifikasi orang itu, maka kita bisa menyingkirkan apa pun juga untuk mengikuti orang tersebut. Tetapi sebaliknya kalau kualifikasi orang tersebut seadanya, kita akan berpikir ulang untuk mengikuti dia.

Di antara figur-figur di dunia ini, banyak figur besar yang menarik untuk diikuti. Akan tetapi selalu ada batasan di mana seseorang akan berhenti mengikuti figur tersebut karena bagaimana pun juga, setiap orang memiliki keterbatasan. Uniknya, kita tetap berani bayar harga untuk mengikuti figur-figur tersebut yang adalah manusia biasa. Bagaimana dengan Yesus? Untuk Yesus yang lebih dari figur-figur tersebut, apakah kita memiliki sikap mau menaklukkan diri untuk tunduk dan mengikuti Dia? Ingatlah bahwa Yesus berada diatas segala-galanya. Kualifikasi Yesus tidak bisa dibandingkan dengan semua figur-figur besar yang ada di dunia. Semakin membaca Firman Tuhan, kita akan semakin kagum dengan Pribadi yang satu ini. Kalimat-kalimat yang sangat agung yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun juga. Apalagi Yesus bukan sekadar seorang pemimpin yang agung tetapi juga figur yang mengatakan, “Aku akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga.” Dan kalimat ini betul-betul digenapkan dalam hidup-Nya. Hanya Yesus yang bangkit dan kebangkitan yang menunjukkan kenyataan hanya Dialah yang paling berotoritas dan berkualifikasi mengatakan kepada manusia di dunia ini “IKUTLAH AKU”. Maka, jelas sekali bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk menolak dan bertanya, “Siapa Engkau sehingga saya harus mengikuti Engkau?

Mengikut Kristus juga harus diikuti dengan sebuah penaklukan diri, penundukkan diri terhadap keinginan Kristus. Di sini terjadi suatu masalah, sering kali kita mau mengikuti seseorang tetapi tidak mau mengikuti aturan mainnya. Kita mau mengikuti Yesus, tetapi tidak mau menaklukkan diri kepada-Nya. Ketika Yesus mengundang kita mengikuti Dia, sering kali muncul pertanyaan TAPI yang kita lontarkan kepada Tuhan. Ketika muncul sikap seperti ini, Tuhan Yesus berkata, “Ini bukan urusanmu. Urusanmu adalah mengikuti Aku dengan setia.” Apa yang Tuhan inginkan dan kehendaki, ikut saja. Jika kita sungguh mengerti anugerah yang kita terima, maka ketika Ia meminta sesuatu dari kita, kita seharusnya berkata, “Saya di sini, Tuhan. Saya siap melakukannya.

PENGIKUT. Mengikuti pemimpin yang baru dan pemimpin yang sudah terkenal, adalah dua hal yang berbeda. Mengikuti pemimpin yang baru naik, maka sang pemimpin itu yang mencari-cari pengikut. Tetapi, mengikuti pemimpin yang terkenal, maka sang pemimpin menuntut kualifikasi tertentu dari mereka yang mengikut dia. Tidak semua orang akan diberikan hak untuk mengikutinya. Ia akan menyortir calon pengikutnya berdasarkan kualifikasi tertentu. Kalau pertanyaan yang diajukan pengikut kepada pemimpin tadi berbunyi, “Siapa engkau sehingga saya harus ikut engkau?” maka pertanyaan dari seorang pemimpin kepada pengikut berbunyi, “Siapa engkau sehingga engkau mau mengikuti saya? Apakah engkau cukup layak atau tidak?

Kalau pemimpin itu adalah Kristus, pertanyaannya adalah: “Siapa kita sehingga kita hendak mengikut Dia? Apa kualifikasi kita?” Sesungguhnya kita ini seperti sampah. Ajaibnya, Tuhan mau memakai kita. Seperti kisah Hosea dan Gomer, Gomer adalah sampah. Tetapi Hosea mengambilnya. Tetapi, apa yang kemudian Gomer lakukan? Ia melacurkan diri lagi. Gomer yang sudah diambil dari tempat sampah, melacurkan diri kembali. Dia bagaikan sampah yang dipungut lalu dibuang lagi. Tetapi tentang sampah seperti ini, Tuhan berkata, “Hosea, ambil kembali Gomer”. Bukankah kita juga sampah yang sudah dipungut oleh Allah, tetapi kita kembali menjadikan diri kita sampah?

Mengapa Yesus, Sang Pemimpin Agung, mau mengatakan, “Ikutlah Aku!” kepada kita yang adalah sampah yang busuk? Siapa kita sehingga kita layak untuk mengikuti Dia? Selayaknyalah kita dibuang tetapi Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku. Maka respons kita yang tepat bukanlah berkata, “Aku mau iring Yesus sampai selama-lamanya.” Bukan usaha dan kemampuan kita yang memungkinkan kita mengikut Dia. Respons kita yang selayaknya adalah berkata seperti seorang anak kecil, “Tuhan, Pakai aku.
Pakai, pakailah aku
s'bagai pelayan kecil-Mu
walau aku masih terlalu kecil,
Tuhan pakai aku
T'rima, t'rimalah aku
s'bagai persembahan hidup
kar'na tiada lagi yang kumiliki
selain diriku sendiri
Ingatkan tekadku ini,
sampai ku besar nanti
ku mau serahkan hidupku
Yesus Sahabatku
Untuk Sahabatku, Yesus...
Maukah kita berkata seperti anak kecil ini, “Pakai, pakailah aku”?
Tuhan Yesus memberkati kita semua.



Sumber:
Ringkasan Khotbah Kebaktian Umum I di Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta hari Minggu, 24 April 2011



Profil Pdt. Tommy Elim:
Pdt. Tommy Elim, S.Th., M.Div. yang lahir di Kupang, 15 September 1971 adalah gembala sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Suk Ie dan dikaruniai seorang anak: Charissia (Tjia Ce)


“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar: