Sabtu, 07 Mei 2011

THEOLOGY AND SCIENCE: Short History of Debate & Theological-Philosophical Assesment

THEOLOGY AND SCIENCE:
Short History of Debate & Theological-Philosophical Assesment

oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Signifikansi
Perdebatan antara theologi dan sains sudah berlangsung sangat lama. Perdebatan ini telah menghasilkan beragam sikap untuk menjelaskan relasi antara theologi dan sains. Sebagian orang menganggap bahwa dua hal ini sama sekali terpisah dan tidak seharusnya dibicarakan bersama-sama, apalagi dalam konteks mencari kaitan antara keduanya. Yang lain berpandangan bahwa salah satu dari bidang ini memiliki kebenaran yang lebih tinggi daripada yang lain. Jika keduanya bertentangan, maka kebenaran terletak pada salah satu bidang yang dianggap lebih otoritatif, entah itu theologi atau sains. Sebagian yang lain mempercayai bahwa dua bidang ini masih dapat diharmoniskan.

Walaupun perdebatan di atas sudah berlangsung sangat lama, namun hal ini masih signifikan untuk dibahas. Ada dua hal yang mendasari keyakinan ini. Pertama, pelajaran dari sejarah. Sejarah perdebatan yang panjang antara theologi dan sains telah mengubah pandangan banyak orang terhadap gereja, theologi, bahkan otoritas Alkitab itu sendiri. Perubahan yang terjadi cenderung ke arah yang negatif. Dampak yang sudah terjadi ini semakin sulit untuk diperbaiki dalam sebuah zaman yang semakin sekuler dan humanis. Kecil kemungkinan bagi para theolog untuk mempengaruhi dan mengubah opini yang sudah tercipta, karena hanya sedikit orang yang belajar theologi. Mereka lebih banyak bersentuhan denga buku-buku sains daripada theologi. Di samping itu, alam memang tampak lebih dekat dengan manusia daripada Allah yang terkesan jauh sekalian abstrak bagi kebanyakan orang. Manusia cenderung memusatkan perhatian pada yang tampak, sedangkan yang tidak tampak kurang diminati.[1]

Kedua, beragam kepentingan di balik perdebatan. Selain melibatkan motivasi theologis seperti disinggung di atas, perseteruan antara theologi dan sains juga merambah pada bidang lain, misalnya moral. Willem B. Drees dengan tepat menjelaskan bahwa sebagian orang yang tertarik dengan perdebatan ini ternyata lebih mengedepankan aspek pragmatis daripada teoritis. Mereka ingin melihat kontribusi apa yang dapat diberikan oleh para theolog dan ilmuwan bagi kesejahteraan umat manusia. Secara khusus mereka menggumulkan tentang solusi bagi problem-problem ekologis.[2] Mereka bukan hanya tertarik pada isu epistemologis (siapa yang benar dan bagaimana hal itu dapat dibuktikan), tetapi pada isu praktis.


SEJARAH SINGKAT PERDEBATAN ANTARA THEOLOGI DAN SAINS
Dalam sejarah perkembangannya, theologi terus mendapatkan lawan tangguh yang berusaha menjadikan diri sebagai ratu ilmu pengetahuan (the Queen of Science). Dari awal Kekristenan ilmu filsafat selalu bersaing dengan theologi. Dalam beberapa kasus fisafat berhasil mempengaruhi jemaat Kristen mula-mula (1Kor. 1:23; 15:12; Kol. 2:8; 1Yoh. 4:2). Pada abad permulaan filsafat semakin merajalela, terutama filsafat gnostisisme. Sepanjang sejarah gereja pun filsafat terus berebut posisi dengan theologi.

Tanpa mengecilkan pengaruh dari filsafat terhadap orang-orang Kristen, makalah ini hanya akan memfokuskan pada satu ilmu, yaitu ilmu alam (sains). Pembatasan ini didasari pada judul seminar yang memang membahas tentang relasi Kitab Suci dan alam. Walaupun fokus utama dalam makalah ini bukanlah filsafat, namun - seperti akan dipaparkan berikut ini – filsafat tetap tidak bisa diabaikan secara total, karena perdebatan antara theologi dan sains juga mencakup filsafat. Baik theologi maupun sains sama-sama mengandung muatan filosofis di dalamnya.

Jika perdebatan hanya difokuskan pada sains, maka titik awal pertama yang perlu disinggung berkaitan dengan seorang ilmuwan yang bernama Nikolas Kopernikus (1473-1543 M) dan Galileo Galilei (1564-1542 M). Keduanya dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Pada waktu konsep ini mulai berkembang, gereja merespon pandangan ini secara negatif dan menganggap keduanya sebagai pengajar ajaran sesat yang merendahkan otoritas gereja dan Alkitab. Mereka pun dipaksa untuk mengubah pandangan.

Satu hal yang perlu diketahui dalam perseteruan ini adalah perseteruan ini lebih bersifat filosofis daripada theologis. Yang ditentang oleh dua ilmuwan tersebut bukanlah otoritas Alkitab tetapi validitas filsafat Aristotelian yang mendasari pandangan geosentris (bumi sebagai pusat dari tata surya) yang dianut oleh gereja. Thomas H. Henderson menulis, “It was not a simple conflict between science and religion, as usually portrayed. Rather it was a conflict between Copernican science and Aristotelian science which had become Church tradition.”[3] Berdasarkan konsep kosmologisnya yang bertingkat-tingkat, Aristotle meyakini bahwa alam semesta memiliki batasan dan berbentuk sebuah bola dengan bumi sebagai pusat yang tidak bergerak.[4] Konsep inilah yang diadopsi oleh gereja dan dijadikan ajaran resmi. John Dillenberger mengungkapkan hal ini dalam sebuah kalimat, “The Ptolemaic system which had originated in Hellenic soil and which subsequently acquired Aristotelian form, had been brought into close relationship with the Biblical picture...his understanding of nature had been accepted but it was given Christian baptism.[5] Jadi, perseteruan ini “was not a choice between one science and another, or between one philosophy and a scientific view; it was a choice between philosophies, between the Aristotelian-Ptolemaic or the Neo-Platonic-Phthagorean.” [6]
Bukti lain bahwa Kopernikus dan Galileo tidak berusaha merendahkan ajaran ALkitab dapat dilihat dari kesalehan dan iman mereka. Dari semua catatan tentang kehidupan dan perkataan Galileo terlihat bahwa dia adalah seorang Katholik yang ketat.[7] Dalam suratnya kepada Madame Christina, pemimpin di Tuscany, Galileo menulis dengan tegas bahwa Kitab Suci tidak mungkin menyatakan sesuatu yang tidak benar. Ia juga menegaskan bahwa Kopernikus tidak mengabaikan Alkitab.[8]

Apa yang diajarkan oleh Kopernikus dan Galileo jelas merupakan sesuatu yang sangat serius di mata gereja pada waktu itu. Jika pandangan Aristotle yang sudah sedemikian terhisap dalam dogma gereja ternyata salah, maka berbagai masalah akan mencuat ke permukaan. Menurut Dillenberger ada tiga alasan utama mengapa teori yang baru ini menimbulkan masalah bagi para theolog: “First, it seemed to run counter to those Bible passages which assumed the centrality of the earth and the movement of the sun. Second, it dislodged the comfortable interrelation of space and destiny. Third, it confronted man with the anxiety engendered by infinity.”[9]

Seiring dengan “kemenangan” Kopernikus dan Galileo atas gereja, sebagian orang mulai menyangsikan wibawa para pemimpin gereja. Pada akhirnya sikap skeptis ini juga diarahkan pada Alkitab. Mulai akhir abad ke-18 otoritas Alkitab dalam hal-hal yang berkaitan dengan alam mulai dipertanyakan secara serius. Pada masa inilah terjadi perubahan pemahaman yang sangat radikal dan kritis terhadap Alkitab. Hal ini berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu baru dalam bidang geogologi, palaentologi dan biologi. Kalau penemuan Kopernikus dan Galileo sebelumnya hanya berhubungan dengan sesuatu di luar dunia ini, penemuan-penemuan baru dalam tiga bidang ini lebih berkaitan dengan sejarah dunia. Ketika hasil penemuan ini berkontradiksi dengan catatan Alkitab, maka akibat yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius. Langdon Gilkey menyatakan, “When Copernican, Galilean, and Newtonian astronomy had taken away the view of the spatial realms of the universe implied in scriptre, that was incidental to the Bible, which was in essence no geographical tract. But when the new sciences showed that the Biblical history was in error, that was something else again, and the understanding of what Biblical truth was had perforce to change.” [10] Pendapat yang senada juga disuarakan oleh Bernard Ramm, “The battle to keep the Bible as a respected book among the earned scholars and the academic world was fought and lost in the nineteenth century. The astronomy of Copernicus did not begin to have the influence on human thought as did the events of the nineteenth century. During that period there was a mushrooming of anti-Biblical, anti-Christian movements.”[11]

Kalau pada masa sebelumnya semua catatan Alkitab yang berkaitan dengan alam dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi, mulai abad ke-19 kecenderungan ini berbalik arah. Semua keterangan Akitab tentang alam, sejarah maupun geografi mulai ditolak. Sains sekarang menjadi hakim atas Alkitab.

Situasi di atas pada gilirannya membawa banyak perubahan penting yang bersifat negatif. Pengaruh ini pun akhirnya merambah pada bidang keagamaan secara umum. Gilkey berpendapat bahwa “the most important change in the understanding of religious truth in the last centuries – a change that still dominates our thought today – has been caused more by the work of science than by any other factor, religious or cultural.”[12] Situasi ini semakin diperparah dengan perkembangan berbagai filsafat yang anti Kekristenan seperti rasionalisme, empirisisme dan eksistensialisme. Salah satu perubahan yang esensial pada masa ini adalah cara pandang terhadap Alkitab yang hanya dilihat sebagai buku yang penuh simbol, bukan catatan historis, sebagaimana dirangkum dengan baik oeh Gilkey, “The change referred to is that from the understanding of religious truths as made up of propositions containing, among other things, divinely revealed “information” on almost any topic of interest, to the understanding of them as a system of symbols which make no authoritative assertions about concrete matters of fact.”[13]

Kondisi di atas memberikan tantangan yang berat bagi para theolog Injili yang masih mempercayai kebenaran Alkitab. Mengingat pada waktu itu bukti-bukti ilmiah yang mendukung Alkitab tidak terlalu banyak, sebagian theolog terjebak untuk mengikuti kebenaran sains. Mereka berpendapat bahwa jika theologi dan sains berbeda pendapat, maka theologi harus menyesuaikan dengan sains. Salah satu contoh dari hal ini adalah upaya beberapa orang untuk menerapkan Gap Theory pada waktu menafsirkan Kejadian 1:1-2.[14] Kecenderungan yang salah seperti ini disinggung sekaligus ditentang oleh Weston W. Field. Ia mengatakan:

Some have intentionally abandoned the clear implications of Scripture that the earth and everything on it, the universe and everything in it (even allowing for reasonable gaps in the genealogies of Genesis) were created ex nihilo (out of nothing) but a few thousand years ago. Others, in an unconscious, or perhaps even a conscious, desire to gain respectability with those in the fields of science who completely dismiss the Bible as unscientific and, therefore, of little or no value where it impinges upon matters of scientific interest, have unwittingly compromised the truth of Scripture by seeking what appear to be unnatural interpretations of Scripture, in order to form supposed harmonisations between the facts of the Bible and what are felt to be the facts of science, many of which are only theories.[15]




INTEGRASI: SEBUAH PERSPEKTIF THEOLOGIS
Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi perdebatan antara theologi dan sains? Apakah keduanya memang bertentangan dan tidak mungkin diharmonisasikan? Penjelasan berikut ini akan membuktikan bahwa kontradiksi sebenarnya hanya terjadi pada tingkat penafsiran (theologi versus sains). Secara ontologis kitab suci (scripture) dan alam (nature) tidak tidak mungkin mengandung kontradiksi. Jika keduanya ditafsirkan secara tepat, maka tidak mungkin ada kontradiksi antara keduanya. Raam menulis:
If we believe that the God of creation is the God of redemption, and that the God of redemption is the God of creation, then we are committed to some very positive theory of harmonization between science and evangelicalism. God cannot contradict His speech in Nature by His speech in Scripture. If the Author of Nature and Scipture are the same God, then the two books of God must eventually recite the same story.[16]

Jack Wood Sears dengan yakin menyatakan:
I recognize that conflicts now exist between our understanding of scientific truth and our understanding of Biblical truth, but I believe these conflicts should not surprise anyone but should be expected. I also believe that as we approach more nearly the Truth (and I believe that there is Absolute Truth) these conflicts will diminish. If ultimate truth is ever attained in science and in our understanding of the Bible, I believe the conflict will evaporate completely.[17]

Pendapat di atas mendapat dukungan yang kuat dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dimulai dengan Allah yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).[18] Pemunculan di bagian paling awal Alkitab menunjukkan betapa pentingnya teks ini. Posisi seperti ini menyiratkan bahwa konsep penciptaan dunia oleh Allah merupakan dasar dari seluruh Alkitab. Dalam salah satu judul bab dari bukunya yang terkenal yaitu Philosophy for Understanding Theology, Diogenes Allen menyebut bahwa pondasi dari theologi Kristen adalah fakta bahwa dunia diciptakan.[19]

Kisah penciptaan selanjutnya menunjukkan bahwa manusia adalah pusat dari dunia. Manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaan yang diberi mandat untuk menguasai bumi (Kej. 1:26, 28).[20] Untuk menguasai bumi jelas diperlukan pengenalan terhadap alam. Manusia harus mengeksplorasi semua informasi tentang alam supaya mereka mampu menaklukkannya. Ayat inilah yang telah menjadi dasar sekaligus keunikan Kristiani dalam pergumulan ilmiah. Pandangan Timur kuno umumnya menganggap alam bersifat ilahi,[21] karena itu tidak mungkin diselidiki sedemikian rupa seolah-olah manusia berada di atas alam. Di sisi lain pandangan Hellenis justru melihat alam (materi) sebagai sesuatu yang sangat rendah,[22] karena itu tidak layak untuk diselidiki. Hanya Alkitab yang memberikan pandangan seimbang tentang alam. Kebenaran ini seharusnya mendorong orang Kristen untuk berani meneliti alam dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah.

Kedua, Allah dapat dikenal melalui alam (wahyu umum). Keyakinan bahwa alam dapat menyatakan sesuatu tentang Allah bukanlah ide yang baru ditemukan pada masa sains modern. Mazmur 19:1 mengajarkan bahwa ciptaan menyatakan kemuliaan Allah. Paulus pun menegaskan bahwa melalui alam semesa manusia seharusnya dapat mengetahui kekuatan yang kekal dan keilahian Allah (Rm. 1:19-21). Pemberian hujan dan pengaturan musim pun di mata Paulus membuktikan bahwa sesuatu dalam diri Allah, yaitu kebaikan-Nya (Kis. 14:17; bdk. Mat. 5:45; Kis. 17:26-27).

Kebenaran ini tetap didengungkan oleh bapa-bapa gereja dan para pemikir Kristen pada periode-periode selanjutnya.[23] Menurut Origen (sekitar 185-254 M), bapa gereja yang menganut penafsiran alegoris, Allah telah meletakkan pengajaran dan pengetahuan tentang hal-hal yang tidak terlihat dalam benda-benda yang terlihat di dunia ini. Konsep ini diteruskan oleh Ambrose dari Milan (340-397 M) dan Basil Agung (329-379 M). Agustinus (354-430 M) adalah orang pertama yang memakai istilah “kitab alam” sebagai rujukan pada alam semesta sebagai refleksi kebenaran ilahi. Konsep yang lebih integratif dan konkrit tentang penggunaan alam sebagai sarana mengenal Allah dipopulerkan oleh Anselmus dan Thomas Aquinas. Keduanya berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui argumentasi yang alamiah dan rasional.[24]

Ketiga, kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Alkitab memberikan bukti yang melimpah tentang bagaimana Allah menguasai alam. Ia bukan hanya menciptakannya, tetapi juga menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Allah berada di balik semua fenomena alam, baik yang ada di langit, bumi maupun lautan (Mzm. 135:6). Dia memberikan hujan dan mengatur musim-musim (Kis. 14:17; 17:26; bdk. Kej. 2:7; Im. 26:4). Api, hujan es, salju, kabut dan angin badai dikatakan “melakukan firman-Nya” (Mzm. 148:8; bdk. Ayb. 37:6-13; 38:22-30). Mazmur 135:6 “Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya.” Kemunculan matahari dan fajar setiap hari membutuhkan perintah Dia (Ayb. 38:12; Mat. 5:45a). Allah menumbuhkan rumput untuk binatang maupun tanaman untuk manusia (Mzm. 104:14-15). Ia memelihara burung di udara (Mat. 6:26), sehingga tidak ada satu pun yang jatuh ke tanah di luar kehendak Allah (Mat. 10:29). Tentang binatang-binatang di laut, pemazmur berkata kepada Tuhan, “semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya” (Mzm. 104:27). Jika Allah sedemikian berdaulat atas alam, sulit dimengerti jika kebenaran yang Dia letakkan di alam dan Dia jaga akhirnya berkontradiksi dengan kebenaran-Nya di kitab suci.


Problem Epistemologi: Sebuah Perspektif Filosofis
Dalam perdebatan antara theologi dan sains muncul suatu kesan bahwa apa yang dikatakan Alkitab baru akan diterima sebagai kebenaran kalau sudah dibuktikan. Di sisi lain sains mendapat posisi yang lebih kuat. Penemuan dalam sains diasumsikan sebagai sesuatu yang objektif dan pasti benar. Mereka yang tetap mempercayai catatan Alkitab yang berkontradiksi dengan suatu teori sains secara otomatis dianggap sebagai orang yang kurang rasional. Di kalangan para ilmuwan sendiri sempat timbul suatu kesan bahwa mereka yang percaya kepada kebenaran Alkitab dianggap bukan seorang ilmuwan yang sejati.

Kecenderungan di atas jelas masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Sayangnya dalam banyak kasus, asumsi seseorang lebih banyak berperan. Inti persoalan bukan lagi terletak pada ketersediaan fakta yang mendukung satu pandangan, tetapi pada asumsi dasar yang dipakai. Dengan kata lain, inti perdebatan terletak pada masalah epistemologi.

Benarkah sains bersifat objektif dan tanpa penafsiran? Benarkah sesuatu yang benar harus dapat dibuktikan terlebih dahulu baru diterima sebagai kebenaran? Apakah sains dapat menjadi hakim atas Alkitab? Penjelasan berikut akan menjawab deretan persoalan ini.

Pertama-tama yang perlu diketahui adalah bahwa sains tidak seobjektif yang dipikirkan oleh sebagian orang.[25] Dalam sains ada penafsiran. Dalam sains bahkan ada “iman” terhadap beberapa asumsi yang tidak mungkin dibuktikan dan karena itu dianggap sebagai “kebenaran yang tidak perlu dibuktikan.” Sains kadangkala lebih merupakan suat kepercayaan daripada penyimpulan ilmiah. Walaupun hal ini dapat dimengerti, tetapi tetap tidak dapat dipertanggungjawabakan.[26]

Dalam diskusi seputar asal-usul dunia maupun manusia, sains tidak akan pernah dapat memberikan bukti yang konklusif. Scott M. Huse menulis, “it is impossible to prove scientifically any theory of origins. This is because the very essence of the scientific method is based on observation and experimentation, and it is impossible to make observations or conduct experiments on the origin of the universe.”[27] Apabila seorang ilmuwan ingin meneliti asal-usul dunia, maka dia harus memiliki iman tertentu terhadap sebuah asumsi. Dia harus beriman pada “the doctrine of uniformity, which assumes that these present processes may be extrapolated indefinitely into the past or future.”[28]

“Iman” dalam sains juga dapat dilihat dalam kasus evolusi. Huse mengutip pernyataan Harrison Matthews yang memberikan prakata untuk buku Darwin Origin of Species edisi tahun 1971 sebagai berikut: “belief in the theory of evolution is thus exactly parallel to belief in special creation – both are concepts which believers know to be true but neither, up to the present, has been capable of proof.”[29] Dengan kata lain, “evolution can only be correctly labelled as a belief, a subjective philosophy of origins, the religion of many scientists.”[30]

Hal lain yang perlu kita pahami sehubungan dengan sains adalah titik tolaknya yang berbeda dengan kebenaran Alkitab. Dalam beberapa kasus perdebatan, inti masaah terletak pada titik tolak yang berbeda. Sebagai contoh, dalam hal usia bumi. Dengan memperhitungkan kecepatan cahaya dan jarak bintang-bintang dengan bumi, sebagian ilmuwan meyakini bahwa usia alam semesta pasti sudah jutaan tahun. Pandangan ini sekalipun secara perhitungan matematis masuk akal, namun tetap didasarkan pada satu asumsi dasar yang linear (setelah bintang diciptakan, bintang memerlukan waktu jutaan tahun untuk mencapai bumi). Asumsi dasar linear ini berbeda dengan konsep penciptaan yang simultan. Dalam Kejadian 1:1 disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Frase “langit dan bumi” merujuk pada segala sesuatu, termasuk bumi dan bintang-bintang. Karena keadaan bumi masih belum siap didiami (Kej. 1:2), maka Allah mulai menata dan menciptakan apa yang belum ada (Kej 1:3-31).[31] Di antara dua asumsi dasar ini – linear atau simultan - sulit ditentukan mana yang secara objektif tepat, karena tidak ada cara ilmiah apa pun untuk membuktikan mana yang tepat. Dalam hal ini orang Kristen harus mempercayai apa yang diajarkan dalam Alkitab sekalipun hal itu tidak bisa dibuktikan benar atau salah. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa “karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3).

“Beriman” dalam hal-hal yang ilmiah adalah tidak salah. Jika para ilmuwan mau jujur, dalam kasus-kasus tertentu secara logika lebih masuk akal mengimani ajaran Alkitab daripada ajaran sains. Contoh yang paling jelas adalah Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory). Untuk mempercayai bahwa alam semesta yang relatif teratur ini berasal dari sebuah ledakan diperlukan iman yang lebih besar daripada mempercayai bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah yang mahakuasa dan bijaksana. Begitu pula dengan evolusi. Diperlukan iman yang sangat besar untuk mengamini bahwa sistem tubuh manusia yang begitu kompleks dan relatif teratur merupakan hasil proses alamiah yang panjang dari sebuah zat yang paling sederhana. Diperlukan iman yang sangat besar untuk percaya bahwa sebuah keberadaan yang berpribadi dihasilkan dari sesuatu yang tidak berpribadi.


Meninjau Ulang Hermeneutika Tradisional
Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kontradiksi tidak mungkin terjadi antara kitab suci dan alam. Kontradiksi hanya terjadi antara theologi dan sains. Kekalahan gereja melawan sains pada zaman dulu seharusnya memberi pelajaran yang berharga bagi orang Kristen modern untuk jeli dalam menafsirkan Alkitab.

Hal mendasar yang harus diketahui adalah bahwa Alkitab bukan buku pegangan sains. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengandung kebenaran ilmiah sama sekali. Beberapa buku sudah ditulis untuk membuktikan bahwa Alkitab sejak dulu sudah memberikan banyak kebenaran ilmiah yang baru diungkap oleh sains modern, misalnya bumi berbentuk bulat (Yes. 40:22), bumi terletak pada kehampaan (Ayb. 26:7).[32]

Semua “bukti ilmiah” tersebut memang membuktikan keunikan Alkitab, tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab harus ditafsirkan secara ilmiah tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dari teks tersebut. Orang Kristen harus memahami jenis literatur (genre), konsep dunia kuno maupun konteks suatu teks, sehingga tidak salah dalam menafsirkannya. Ketika Yosua memberhentikan matahari di Gibeon (Yos. 10), peristiwa ini tampaknya memang faktual karena banyak suku bangsa di dunia memiliki kisah leluhur tentang matahari yang tidak keluar dalam satu hari.[33] Bagaimanapun, kisah ini tampaknya tidak mengajarkan bahwa matahari yang bergerak mengelilingi bumi. Penulis Kitab Yosua hanya mencatat apa yang dikatakan Yosua waktu itu sesuai dengan konsep berpikir dunia kuno. Apa yang dikatakan Yosua hanyalah sebuah ungkapan waktu itu yang menggambarkan pergerakan matahari. Sampai sekarang pun orang modern tetap memiliki ungkapan tertentu yang menyiratkan pergerakan matahari, misalnya “matahari terbit dari timur”, “terbenam di barat.” Orang modern juga kadangkala masih menggunakan istilah “ujung dunia” sekalipun mereka mengetahui bahwa bumi adalah bulat.

Hal lain yang perlu dimiliki orang Kristen adalah keterbukaan untuk menyelidiki alam atau hal lain. Orang Kristen tidak perlu alergi dengan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, kebenaran Alkitab justru semakin lebih jelas dan diteguhkan. Dalam bidang arkheologi misalnya, berbagai penemuan baru telah memberi kontribusi positif bagi studi biblika maupun apologetika.[34] Jika ilmu alam semakin berkembang, maka di kemudian hari kebenaran Alkitab justru akan semakin terlihat. Orang Kristen harus menyatakan kebenaran dari dua buku Allah: scripture (kitab suci) dan nature (alam). #


Catatan kaki:
[1] W. Stanley Heath, Sains Iman & Teknologi (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1997), hlm. 42.
[2] “Where to Look for Guidance: On the Nature of “Religion and Science”, Zygon, Vol. 39, no. 2 (June 2004), hlm. 367-368.
[3] Dikutip dari “What were Galileo's scientific and biblical conflicts with the Church?”, http://www.christiananswers.net/q-eden/galileo.html.
[4] Charles E. Hummel, The Galileo Connection (Downer Grove: InterVarsityPress, 1986), hlm. 27-29.
[5] John Dillenberger, Protestant Thought & Natural Science: A Historical Study (Nashville/New York: Abingdon Press, 1960), hlm. 22. Italics ditambahkan.
[6] Ibid., 27.
[7] Salah satu sumber yang bermanfaat untuk melihat figur Galileo dari perspektif yang lain – selain dari perspektif gereja yang cenderung menempatkan Galileo sebagai tokoh sejarah gereja yang sangat negatif – adalah Dava Sobel, Galileo’s Daughter (New York: Walker & Company, 1999), hlm. 11-12; Stillman Drake, Discoveries and Opinions of Galileo (New York: Doubleday Anchor Books, 1957), hlm. 173-216.
[8] Henderson, “What were…”
[9] Protestant Thought, hlm. 26.
[10] Langdon Gilkey, Religion and the Scientific Future (New York: Harper & Row Publishers, 1970), hlm. 9.
[11] The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1954), 15.
[12] Religion and the Scientific Future, hlm. 4.
[13] Ibid.
[14] Sebagai contoh George H. Pember, Earth’s Earliest Ages (London: Hodder and Stoughton, reprinted, 1907).
[15] Unformed and Unfilled: The Gap Theory (Phillipsburg: Presybterian and Reformed Pblishing Co., 1976), hlm. 5.
[16] Ramm, The Christian View, hlm. 25.
[17] Conflict and Harmony in Science and the Bible (Grand Rapids: Baker Book House, 1968), hlm. 13.
[18] Ibid., 26.
[19] (Atlanta: John Knox Press, 1985), 1-14.
[20] “Berkuasa” dalam konteks ini tidak menagndung makna eksploitasi seperti yang sempat dituduhkan oleh beberapa orang terhadap Kekristenan sebagai penyebab kerusakan ekologis. Untuk jawaban singkat tapi berbobot terhadap tuduhan ini, lihat Walter C. Kaiser, Hard Saying of the Old Testament (Downer Grove: InterVarsityPress, 1988), hlm. 16-19.
[21] W. Andrew Hoffecker, ed., Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 2 (diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong; Surabaya: Momentum, 2008), hlm. 11-24.
[22] Ibid.,25-44.
[23] Untuk ringkasan yang baik dan bermanfaat tentang hal ini, lihat Peter Harrison, “The Bible and the Emergence of Modern Science”, Science & Chrisian Belief, Vol. 18, No. 2 (2006), hlm. 116-119.
[24] Lihat Collin Brown, Philosophy & the Christian Faith (Downer Grove: InterVarsityPress, 1968), hlm. 20-32.
[25] Untuk pembahasan lebih detil tentang mitos seputar sains, lihat Rousas John Rushdoony, The Mythology of Science ( Nutley, NJ: The Craig Press, 1978), hlm. 1-15.
[26] Heath, Sains, Iman & Teknologi, 8.
[27] The Collapse of Evolution (Grand Rapids: Baker Book House, 1983), 1.
[28] Henry M. Morris, Studies in the Bible and Science (Philadelphia: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1966), hlm. 109.
[29] Ibid., hlm. 1.
[30] Ibid.
[31] John Sailhamer, “Genesis”, Expositor’s Bible Commentary Vol. II (Grand Rapids: Zondervan Publishing House). Electronic edition.
[32] Jeff Harvey & Charles Pallaghy, Alkitab & Ilmu Pengetahuan (diterjemahkan oleh Wimanjaya K. Liotohe; Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”, 1984), hlm. 17. Harvey & Pallaghy juga memberikan banyak contoh lain dari beragam disiplin sains.
[33] Ibid., 8.
[34] Lihat William Ramsay, St. Paul the Traveller and the Roman Citizen (London: Hodder and Stoughton, 1908); The Cities of St. Paul (London: Hodder and Stoughton, 1907); The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament (Grand Rapids: Baker Book House, 1953); Alfred J. Hoerth, Archaeology and the Old Testament (Grand Rapids; Baker Books, 1998); John McRay, Archaeology & the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 1991); Merrill F. Unger, Archaeology and the New Testament (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1962).



Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/APO%2012%20History%20of%20Debate.pdf




Profil Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.), yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Beliau menikah dengan Nike Pamela, M.A. dan dikaruniai 2 orang putra: Calvin Gratia Handoko dan Aurel Fide Handoko. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta di sinode GKRI pada tanggal 27 Maret 2011.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar: