Sabtu, 07 Mei 2011

PEDOMAN MEMBUAT ILUSTRASI KHOTBAH

PEDOMAN MEMBUAT ILUSTRASI KHOTBAH

oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Para ahli homiletik menggambarkan peranan ilustrasi seperti peranan jendela bagi sebuah rumah. Melalui jendela tersebut seseorang bisa melihat isi rumah. Begitu juga dengan ilustrasi. Melalui ilustrasi pengkhotbah bisa memberikan “penerangan” terhadap apa yang ia sampaikan.

Penggunaan ilustrasi sendiri sebenarnya bukanlah penemuan yang baru. Allah berkali-kali menyatakan diri-Nya melalui berbagai ilustrasi, misalnya tipologi, simbol, metafora, dan lain-lain. Yesus juga menggunakan berbagai perumpamaan, metafora dan analogi untuk memperjelas berita-Nya. Tradisi ini terus dipegang oleh bapa-bapa gereja sampai pengkhotbah modern.


Fungsi Ilustrasi
Ilustrasi memiliki peranan yang cukup besar bagi keberhasilan sebuah kotbah. Berikut ini adalah beberapa fungsi utama penggunaan ilustrasi dalam kotbah:
(1) Ilustrasi berfungsi untuk memperjelas berita. Tidak semua jemaat memiliki tingkat kemampuan pemahaman yang sama. Dengan menggunakan ilustrasi, pengkhotbah bisa mengajarkan sesuatu dengan cara yang sederhana. Pendeknya, kesederhanaan dalam ilustrasi mampu mencakup seluruh segmen jemaat.
(2) Ilustrasi berfungsi untuk memberikan ‘istirahat’ pada pikiran jemaat. Tidak semua jemaat bisa berpikir keras dalam jangka waktu yang lama. Sebagian dari mereka juga tidak terbiasa dengan pola penalaran yang rumit. Kesederhanaan dalam ilustrasi berguna untuk “mengistirahatkan” pikiran sejenak, sehingga jemaat bisa berkonsentrasi lagi pada bagian lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi, misalnya penyelidikan teks yang cukup rumit.
(3) Ilustrasi berfungsi untuk membuat kebenaran menjadi menarik dan berkesan. Betapa pun variatifnya segmen jemaat, mereka tetap memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menyukai cerita (non fiksi dan fiksi), tokoh terkenal dan data. Dengan menggunakan ilustrasi, pengkhotbah mampu menarik perhatian jemaat. Cerita non fiksi, baik pengalaman pribadi pengkhotbah maupun tokoh terkenal, sering kali mampu mendaratkan kebenaran dengan cara yang berkesan.
(4) Ilustrasi berfungsi untuk membuat kotbah lebih lama diingat. Tidak dapat disangkal, mayoritas jemaat mengalami kesulitan dalam mengingat penyelidikan teks yang rumit. Mereka biasanya hanya mengingat ide besar, bagian utama dan ilustrasi yang menjelaskan dua hal tersebut.
(5) Ilustrasi berfungsi untuk mengulang kebenaran yang sama dengan cara yang berbeda. Berita yang agak rumit biasanya membutuhkan pengulangan. Pengkhotbah bisa menjelaskan ulang hal yang sama dengan cara yang sama, tetapi hal ini sering kali menyebabkan kejenuhan bagi sebagian jemaat, terutama mereka yang memiliki tingkat pemahaman yang cukup baik. Penggunaan ilustrasi memampukan pengkhotbah untuk menjelaskan ulang inti suatu berita tetapi dengan cara yang berbeda.


Bahan Ilustrasi
Bahan ilustrasi sangat beragam. Berikut ini adalah daftar jenis ilustrasi yang bisa dipakai dalam kotbah. Daftar tersebut disusun berdasarkan tingkat signifikansi masing-masing:
(1) Teks Alkitab di bagian lain.
Sebagian pengkhotbah menganggap bahwa teks Alkitab di bagian lain tidak boleh dipakai sebagai ilustrasi (misalnya Jay Adams dalam bukunya Preaching With Purpose). Mereka berpendapat bahwa cerita Alkitab harus dipakai untuk membuat poin, bukan menjelaskan (mengilustrasikan) poin. Penggunaan cerita Alkitab untuk ilustrasi dianggap bisa mengurangi otoritas cerita tersebut. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat. Dengan menggunakan teks lain sebagai ilustrasi, pengkhotbah justru secara tidak langsung telah mengajarkan jemaat tentang kesatuan antar bagian Alkitab. Jemaat juga tidak akan berpikir terlalu jauh bahwa penggunaan cerita Alkitab untuk ilustrasi akan mengurangi otoritas cerita tersebut.

(2) Sejarah gereja.
Bahan ilustrasi ini merupakan salah satu yang paling sering diabaikan oleh pengkhotbah. Pola pengajaran di sekolah tinggi yang tidak terlalu menekankan sejarah, minimnya sumber daya dosen sejarah gereja yang berkualitas dan pola pengajaran sejarah gereja yang kurang kreatif telah menyebabkan matakuliah ini kurang diminati oleh sebagian besar mahasiswa. Hal ini pada akhirnya juga berdampak pada relevansi sejarah gereja dalam pelayanan kotbah. Tidak banyak pengkhotbah yang menggunakan sejarah gereja sebagai ilustrasi. Akibatnya, jemaat juga tidak mengetahui akar historis Kekristenan. Dengan menggunakan ilustrasi dari sejarah gereja, pengkhotbah memberikan kesan pada jemaat bahwa kebenaran Alkitab tidak pernah lekang oleh zaman. Selain itu, pemahaman jemaat tentang akar Kekristenan secara umum juga akan meningkat.

(3) Ucapan tokoh terkenal.
Ucapan tokoh-tokoh terkenal biasanya memiliki keindahan kata-kata maupun pemikiran filosofis yang dalam. Ucapan tersebut umumnya merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi tokoh-tokoh tersebut. Kumpulan ucapan terkenal ini bisa diakses melalui software “Quick Verse”. Dalam software ini semua ucapan tokoh terkenal disusun berdasarkan topik, sehingga sangat memudahkan pengkhotbah untuk mengakses dengan cepat.

(4) Biografi tokoh terkenal.
Tingkat apresiasi mayoritas orang Indonesia terhadap biografi suatu tokoh memang masih rendah. Buku-buku biografi jarang diterbitkan. Kalaupun diterbitkan, tingkat penjualannya pun tidak terlalu tinggi. Hal ini merupakan fenomena yang sangat disayangkan, terutama berkaitan dengan biografi tokoh-tokoh Kekristenan yang terkenal. Ada banyak hal-hal yang berkesan dalam perjalanan hidup tokoh-tokoh tersebut. Jemaat akan terkesan apabila mengetahui perubahan karakter John Calvin setelah melalui fase pernikahan yang sangat berbeda dengan yang ia harapkan. Jemaat juga pasti terkesima apabila melihat harga yang telah dibayar oleh William Carey dalam pelayanan misinya atau John Sung dengan loyalitas dan dedikasinya yang total. Daftar ini masih bisa diperpanjang seandainya pengkhotbah membiasakan diri membaca buku-buku biografi tokoh Kristen yang terkenal.

(5) Statistik/hasil riset/berita dari media yang diakui kredibilitasnya.
Statistik memberikan kesan akurasi, sehingga menambah bobot berita yang disampaikan. Orang biasanya mengidentikkan statistik (hasil riset) dengan fakta. Anggapan ini dalam taraf tertentu memang bisa dibenarkan, namun pengkhotbah tetap perlu memperhatikan beberapa hal: ketepatan teori, objektivitas akumulasi dan analisa data, daerah dan objek penelitian, waktu penelitian.

(6) Kesaksian pribadi pengkhotbah.
Pengkhotbah yang memiliki pengalaman rohani pribadi sesuai dengan yang dikotbahkan akan mampu membuat jemaat terkesan. Pengalaman tersebut memberikan kesan bahwa hamba Tuhan memiliki integritas diri yang jelas. Hal ini juga mengajarkan kepada jemaat bahwa hamba Tuhan adalah manusia biasa yang juga terus bergumul untuk bertumbuh dalam Tuhan. Pengalaman tersebut tidak harus yang bersifat positif (keberhasilan), tetapi juga negatif (kegagalan).

(7) Peristiwa sehari-hari yang menarik dan berkesan.
Ilustrasi jenis ini tidak dapat disangkal merupakan media yang sangat efektif, karena jemaat menghadapi peristiwa-peristiwa itu setiap hari, sehingga mereka akan terus mengingat apa yang diilustrasikan. Ini juga bisa melatih kepekaan jemaat untuk belajar tentang Allah dari hal-hal yang tampaknya biasa dan sepele. Pengkhotbah bukan hanya perlu mengamati perasaan seseorang ketika ia berada dalam situasi khusus, tetapi pengkhotbah juga perlu memahami perasaan tersebut, sehingga ketika menyampaikannya sebagai ilustrasi pengkhotbah benar-benar mengerti mengapa cerita tersebut berkesan.
(8) Analogi.
(9) Anekdot (cerita lucu yang singkat).
(10) Dongeng.


Pedoman
Signifikansi ilustrasi seperti dijelaskan di atas menuntut pengkhotbah untuk berhati-hati dalam menggunakannya. Untuk menghindari kesalahan (ekses) yang mungkin terjadi, pengkhotbah perlu memperhatikan beberapa pedoman berikut ini:
(1) Poin analogi harus tunggal dan jelas.
Sebuah cerita bisa diinterpretasikan dan dipahami dalam banyak cara. Apa yang jelas bagi penyampai ilustrasi belum tentu jelas bagi yang mendengarkan. Pengkhotbah perlu memilih ilustrasi yang memiliki inti tunggal dan jelas. Dalam beberapa kasus pengkhotbah perlu menjelaskan pelajaran yang ingin dipetik dari ilustrasi tersebut, sehingga jemaat tidak perlu menduga-duga apa inti ilustrasi tersebut. Dengan kata lain, ilustrasi harus mudah dipahami.

(2) Penyampaian tidak perlu terlalu detail.
Kesalahan umum yang sering ditemui dalam penyampaian ilustrasi adalah pengkhotbah terlalu detil dalam bercerita. Pengkhotbah seharusnya mampu memilih bagian mana yang langsung berkaitan (relevan) dengan inti ilustrasi yang ingin disampaikan. Detail yang tidak mendukung inti harus diabaikan. Penyampaian detail yang tidak relevan justru akan membuat jemaat kesulitan menangkap poin analogi yang ingin disampaikan. Selain itu, hal tersebut akan menyita waktu kotbah yang seharusnya bisa dialokasikan untuk bagian lain yang lebih penting.

(3) Relevan dengan situasi pendengar (Berko, at al., 376).
Terkait dengan poin sebelumnya, pengkhotbah juga perlu menyeleksi ilustrasi yang dipakai supaya benar-benar relevan dengan pendengar. Detil-detil yang tidak relevan sebaiknya diabaikan. Contoh: pada saat berkotbah kepada jemaat di pedesaan, pengkhotbah tidak perlu menyampaikan bahwa suatu cerita terjadi di negara tertentu, apalagi jika penjelasan tersebut tidak mendukung poin analogi (inti) ilustrasi.

(4) Tidak boleh terlalu banyak digunakan.
Tidak setiap poin khotbah memerlukan ilustrasi. Bagian-bagian yang sudah jelas tidak perlu ditambah dengan ilustrasi, kecuali ilustrasi dari kisah nyata yang berfungsi untuk mendaratkan berita.

(5) Harus jujur dan terbuka terhadap historisitas cerita (Berko, at al., 376).
Pengkhotbah sebisa mungkin menginformasikan apakah yang dia sampaikan adalah sebuah kisah fiksi atau non-fiksi. Dalam kasus ilustrasi dari kisah non-fiksi, pengkhotbah tidak diperbolehkan membumbui cerita yang ada. Bahkan untuk bagian yang agak bias, pengkhotbah perlu menginformasikan kebiasan yang ada.
(6) Ilustrasi tidak bisa dijadikan dasar kotbah.
(7) Ilustrasi bukanlah argumentasi (Berko, at al., 375).
Sebuah ilustrasi tidak membuktikan apakah pernyataan yang dijelaskan tersebut benar atau tidak. Pengalaman pribadi seseorang, betapa pun itu benar dan berkesan, tidak bisa dipakai untuk membuktikan suatu berita. Kebenaran suatu berita terletak pada kesetiaan berita tersebut terhadap penyataan Allah di Alkitab.

(8) Ilustrasi harus menarik.


Koleksi Ilustrasi
Buku-buku ilustrasi dalam bahasa Inggris sudah banyak diterbitkan. Mereka memberikan ilustrasi-ilustrasi besar yang terkenal. Bagaimanapun, penggunaan materi tersebut sebenarnya memiliki beberapa kelemahan. Pertama, sebuah cerita atau anekdot dari luar negeri belum tentu sesuai dengan cara berpikir atau situasi jemaat di Indonesia. Kedua, beberapa ilustrasi yang populer sangat mungkin sudah pernah didengar oleh jemaat dari hamba Tuhan lain. Pengkhotbah harus menyeleksi dengan cermat buku-buku ilustrasi yang ada, sesuai dengan pedoman/prinsip ilustrasi.

Berikut ini adalah beberapa saran untuk mengoleksi ilustrasi:
(1) Mengumpulkan bahan.
Pengkhotbah sebaiknya membaca segala jenis buku (ilustrasi, sejarah, filsafat, konseling, pernikahan, dll) sebanyak mungkin. Pengkhotbah juga bisa membuat kliping dari surat kabar/majalah. Mengikuti berita di radio dan televisi juga merupakan cara tepat untuk mendapatkan ilustrasi yang aktual. Ahli homiletis umumnya menyarankan setiap pengkhotbah untuk membawa catatan kecil (note) dan pena pada setiap waktu di segala tempat, karena banyak ilustrasi indah terjadi di sekeliling kita, yang kalau tidak langsung ditulis biasanya akan hilang begitu saja. Perlu diingat, dalam tahap ini pengkhotbah belum mengadakan seleksi. Pengkhotbah hanya mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Pedoman yang perlu diperhatikan dalam taraf ini hanyalah seberapa menarik ilustrasi yang dikumpulkan.

(2) Menyeleksi bahan.
Pengkhotbah perlu meluangkan waktu khusus untuk menyeleksi semua bahan yang telah didapat, karena tidak semua bahan sesuai dengan situasi jemaat yang pengkhotbah layani. Bahan-bahan tersebut juga belum tentu memenuhi syarat sebagai ilustrasi yang baik. Pengkhotbah juga perlu meredaksi ulang sebuah cerita tanpa menghilangkan inti cerita tersebut, misalnya dengan menghilangkan detil-detil yang tidak penting dan relevan.

(3) Mengorganisir bahan (filing).
Pengkhotbah bisa mengorganisir ilustrasi yang sudah diseleksi dengan cara tradisional, yaitu secara manual dalam bentuk data tertulis. Cara terbaik, bagaimanapun, adalah dengan sistem komputerisasi. Beberapa software khusus untuk kotbah/ilustrasi kotbah sudah diterbitkan dengan sistem pencarian data yang cepat dan teliti. Satu-satunya kekurangan adalah harga software yang relatif mahal untuk sebagian besar hamba Tuhan di Indonesia. Cara yang lebih mudah adalah dengan memanfaatkan fasilitas MS Word. Pengkhotbah hanya perlu mengetik ulang ilustrasi yang sudah diseleksi dan memberikan beberapa subjek untuk entry, misalnya inti ilustrasi, teks yang dipakai, dan lain-lain. Setelah itu, setiap kali berkotbah hanya perlu membuka Edit à Find (tuliskan entry yang ingin dipakai).

Berikut ini adalah usulan untuk mengorganisir ilustrasi menggunakan MS Word.
Judul ilustrasi : Sengsara membawa nikmat
Topik ilustrasi : Karakter Kristen/penderitaan
Jenis ilustrasi : Sejarah Gereja
Inti ilustrasi : Penderitaan membuat karakter Kekristenan bertambah baik
Teks : Yakobus 1:2-12
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
Sumber ilustrasi : Harta Dalam Bejana
Informasi penggunaan:
Tanggal : 21 Juli 2000
Gereja : Gereja Tanpa Tembok (GTT)
Jenis ibadah : Ibadah (persekutuan) Kaum Muda
Tanggal : 17 Maret 2003
Gereja : Gereja Tanpa Kolekte (GTK)
Jenis ibadah : Pendalaman Alkitab (PA)




Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?IL-Pedoman_Membuat




Profil Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.), yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Beliau menikah dengan Nike Pamela, M.A. dan dikaruniai 2 orang putra: Calvin Gratia Handoko dan Aurel Fide Handoko. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta di sinode GKRI pada tanggal 27 Maret 2011.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar: