Sabtu, 07 Mei 2011

BAHASA ROH/LIDAH: Masih Adakah?

BAHASA ROH/LIDAH:
Masih Adakah?

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: 1 Korintus 12-14



I. PENDAHULUAN
Semenjak bidat (ajaran sesat) Montanisme yang muncul di periode gereja mula-mula dilanjutkan dengan munculnya gerakan Azusa Street pada tahun 1906, gejala Toronto Blessing pada akhir abad XX, dan merebak hingga sekarang, salah satu gejala yang begitu merajalela di dalam dunia Kekristenan adalah maraknya bahasa roh/lidah. Bahasa roh/lidah menjadi fenomena yang menarik banyak pihak karena bahasa roh ini dianggap berasal dari “Roh Kudus”. Apa itu bahasa roh/lidah? Bagaimana sikap orang Kristen terhadap fenomena ini? Bagaimana pandangan Alkitab terhadap fenomena ini?




II. SIKAP ORANG KRISTEN TERHADAP BAHASA ROH
Karena fenomena bahasa roh/lidah merupakan fenomena yang merajalela di kalangan Kekristenan hari-hari ini, maka tidak heran, banyak orang Kristen memberikan tanggapan terhadap gejala ini:
A. Menerima Mentah-mentah
Karena kita hidup di zaman yang menggandrungi hal-hal spiritual (sebenarnya: mistik), maka tidak heran banyak orang Kristen yang menggandrungi fenomena bahasa roh. Mereka menganggap bahasa roh adalah tanda supranatural yang hebat yang diklaim berasal dari “Roh Kudus.” Beberapa (atau banyak?) pemimpin gereja khususnya dari gereja kontemporer yang pop mengajarkan bahwa tanda orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah HARUS berbahasa roh/lidah. Ajaran ini dimasukkan di dalam salah satu poin dalam pengakuan iman beberapa gereja yang menggandrungi fenomena ini. Bahkan beberapa pemimpin gereja tersebut memberikan les bahasa roh kepada orang Kristen yang rindu berbahasa roh. Yang lebih ekstrem, seorang pemimpin gereja pernah mengatakan bahwa orang Kristen yang tidak bisa berbahasa roh tidak bisa masuk Sorga.

Tidak heran, karena diindoktrinasi oleh ajaran semacam demikian, banyak orang Kristen meng“amin”i dan mempraktikannya tanpa pernah mengkritisinya. Di dalam kebaktian dari banyak gereja kontemporer yang pop yang menggandrungi fenomena ini, hampir semua jemaatnya berbahasa roh pada waktu sesi penyembahan (worship). Jika ada orang Kristen atau pemimpin gereja yang mengkritik fenomena ini, mereka yang menggandrungi fenomena ini langsung mengeluarkan beberapa kritikan balik, “Jangan menghakimi” (sambil berkata “Jangan menghakimi”, orang ini TIDAK sadar bahwa ia pun sedang menghakimi orang lain untuk tidak menghakimi—logika yang melawan dirinya sendiri, hehehe) atau/dan “Jangan menghujat Roh Kudus” atau/dan kata-kata lain yang seolah-olah “rohani.”

Karena tidak berjiwa kritis, banyak dari mereka tertipu dengan banyak bahasa roh yang palsu dan aliran-aliran kebatinan lain yang juga memiliki daya tarik bahasa-bahasa asing demikian.


B. Menolak Mentah-mentah
Sebaliknya, ada beberapa orang Kristen yang keberatan bahkan menolak mentah-mentah fenomena bahasa roh ini dengan alasan bahwa hal-hal supranatural (mukjizat kesembuhan, bahasa roh, dll) telah berhenti setelah Alkitab selesai ditulis. Mereka yang menolak hal-hal spiritual ini disebut kaum cessationist. Mereka yang berpaham ini tidak tentu harus berasal dari kalangan “Kristen” liberal yang anti hal-hal supranatural, namun juga ada dari kalangan Injili bahkan Reformed. Mungkin sekali, paham ini disebabkan oleh ajaran Demitologisasi-nya Rudolf Bultmann yang mengajarkan bahwa beberapa bagian dalam Alkitab yang mengandung unsur-unsur mitos (misalnya mukjizat, dll) harus dibuang.

Paham ini jelas memiliki kelemahan:
Pertama, penganut paham ini tidak benar-benar percaya pada Allah yang Mahakuasa. Penganut paham ini mungkin percaya dan menyembah Allah, namun sayangnya Allah yang dipercaya dan disembah oleh mereka bukanlah Allah sejati, karena Allah mereka adalah Allah yang terbatas yang tidak bisa berbuat sesuatu yang melebihi hukum alam yang dibuat-Nya. Adalah konyol berkata bahwa mereka percaya pada Allah yang Mahakuasa, namun TIDAK mempercayai bahwa Allah yang Mahakuasa sanggup mengadakan hal-hal yang di luar pikiran manusia. Mereka lebih cocok disebut sebagai penyembah “Allah” yang terbatas, tak berpribadi, dan bisa diatur manusia. Jika “Allah” itu terbatas dan bisa diatur manusia, apa gunanya percaya Allah? Lagi-lagi, logika yang benar-benar aneh…

Kedua, menguji konsistensi. Jika penganut paham ini tidak percaya pada karunia bahasa roh dan kesembuhan ilahi dengan alasan bahwa itu semua sudah berhenti setelah Alkitab selesai ditulis, berarti mereka juga HARUS percaya bahwa karunia untuk berkata-kata dengan hikmat (1Kor. 12:8), karunia iman (1Kor. 12:9), dll adalah karunia-karunia yang berhenti setelah Alkitab selesai ditulis. Mengapa demikian? Karena karunia-karunia Roh Kudus tidak hanya bahasa roh atau/dan mengadakan mukjizat, tetapi juga beragam: berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, iman, dll (1Kor. 12:8-10). Jika mereka mengatakan bahwa karunia iman dan berkata-kata dengan hikmat itu masih ada, sedangkan karunia bahasa roh dan mengadakan mukjizat itu sudah berhenti, apakah dasar Alkitab yang jelas mengenai hal ini?


C. Wait and See
Karena tidak mau terlibat dalam banyak diskusi dan perdebatan seputar bahasa roh itu Alkitabiah atau tidak, maka beberapa orang Kristen yang skeptis mengambil jalan “tengah” yaitu menunggu dan melihat. Artinya, mereka seolah-olah tidak gegabah mengambil sikap, namun sebenarnya mereka tidak mau menjawab karena mereka enggan berkanjang di dalam perdebatan demikian. Dengan tidak mau menjawab seperti demikian, mereka berprinsip bahwa mereka menjaga “kedamaian” dan “persatuan” dalam Kekristenan. Namun sayangnya, makin mereka tidak menjawab masalah ini menandakan bahwa mereka TIDAK pernah mengerti Alkitab dengan bertanggung jawab dan melarikan diri dari memberitakan Kebenaran yang harus dilakukan oleh setiap orang yang berani menyebut diri pengikut Kristus apalagi pemimpin gereja! Dengan kata lain, sikap wait and see adalah sikap seorang pengecut yang tidak memiliki nyali untuk memberitakan firman, persis seperti sikap Petrus yang menyangkal Kristus sampai 3x.




III. SIKAP ORANG KRISTEN YANG BENAR TERHADAP BAHASA ROH (PANDANGAN ALKITABIAH)
Ketiga sikap di atas bukanlah sikap orang Kristen yang bertanggung jawab. Lalu, bagaimana sikap orang Kristen yang benar terhadap bahasa roh? Orang Kristen yang benar adalah orang Kristen yang percaya mutlak bahwa Allah itu adalah Allah yang berdaulat, Mahakuasa, dll yang sanggup mengadakan hal-hal supranatural di luar pikiran manusia. Orang Kristen yang mempercayai bahwa Allah itu berdaulat dan Mahakuasa juga percaya bahwa Alkitab itu diwahyukan oleh Allah sebagai satu-satunya standar kebenaran yang paling mutlak bagi iman dan praktik hidup Kristen. Dengan kata lain, orang Kristen sejati bukan percaya pada kebenaran dari perkataan pemimpin gereja atau buku ajaran gereja, namun harus kembali kepada Alkitab, karena Alkitab adalah firman Allah yang menuntun kita mengerti kebenaran Allah secara komprehensif, konsisten, dan tuntas. Mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab mengakibatkan iman dan praktik hidup orang Kristen makin menyeleweng dari kebenaran dan maksud Allah.

Karena percaya bahwa Alkitab itu firman Allah dan merupakan satu-satunya standar objektif dan mutlak akan kebenaran iman dan praktik hidup Kristen, maka adalah suatu sikap yang bijaksana ketika orang Kristen yang benar mengizinkan Alkitab menjelaskan dan mengajarkan sendiri tentang bahasa roh. Kemudian, setelah Alkitab mengajarkannya, adalah suatu sikap yang bijaksana dan rendah hati, ketika orang Kristen yang benar taat mutlak akan apa yang Tuhan firmankan kepada kita di dalam Alkitab. Berbicara tentang karunia-karunia Roh Kudus secara umum dan karunia bahasa roh secara khusus, maka kita harus kembali kepada Alkitab di dalam 1 Korintus 12-14.

A. Berbahasa Lidah: Karunia
Fakta pertama dari Alkitab yang harus kita pelajari tentang bahasa roh adalah bahasa roh termasuk karunia. Apa itu bahasa roh? Apa itu karunia? Kata “bahasa roh” dalam 1 Korintus 12:10 sebenarnya bukan bahasa roh, tetapi bahasa lidah, karena kata Yunani yang dipakai di ayat ini adalah glōssa yang berarti lidah. Bahasa lidah yang dimaksud di sini adalah bahasa yang dipakai oleh seseorang tanpa seseorang itu pernah mempelajarinya. Meskipun tak pernah mempelajarinya, namun bahasa lidah tersebut adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh orang lain. Mari kita lihat gejala ini di dalam Kisah Para Rasul 2. Waktu Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, Alkitab mencatat bahwa para rasul berkata-kata dengan bahasa lidah/asing yang dimengerti oleh orang-orang yang ada di sekitarnya (Kis. 2:4; kata Yunani yang dipakai dalam ayat ini juga: glōssa). Dan Alkitab juga mencatat bahwa orang-orang di sekitarnya mengenal para rasul sebagai orang Galilea yang tentu saja TIDAK pernah mengetahui dan mempelajari bahasa-bahasa lain (Kis. 2:7). Siapa saja orang-orang yang ada di sekitar mereka waktu itu? Alkitab mencatat, “orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab” (Kis. 2:9-11) Berarti semua rasul berbicara dalam lebih dari 10 bahasa yang dipakai oleh orang-orang di sekitar mereka dan faktanya, semua orang tersebut MENGERTI apa yang para rasul katakan (Kis. 2:11b). Dengan kata lain, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, bahasa lidah sejati adalah bahasa yang membuat orang yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Lalu, menurut Alkitab, bahasa lidah termasuk karunia. Apa itu karunia? Matthew Henry dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible membedakan karunia (gift) dengan anugerah (grace). Bagi Henry, kedua kata ini sama-sama diberikan oleh Allah secara gratis, namun perbedaannya: anugerah (grace) diberikan bagi keselamatan masing-masing orang, sedangkan karunia (gift) diberikan bagi keselamatan orang lain. Dengan kata lain, bahasa roh yang termasuk karunia itu:
1. Diberikan oleh Allah.
Dokter Lukas mencatat hal ini di dalam Kisah Para Rasul 2:4, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Di ayat ini, Alkitab dengan jelas mengajar kita bahwa bahasa lidah itu diberikan oleh Roh Kudus. Karena diberikan oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus sendiri yang menentukan siapa saja yang perlu diberikan karunia bahasa lidah tersebut. Oleh karena itu, bahasa lidah bukan suatu keharusan bagi orang Kristen!

2. Diberikan bagi keselamatan orang lain.
Karena karunia juga diberikan bagi keselamatan orang lain, maka karunia bahasa lidah pun diberikan oleh Tuhan bagi keselamatan orang lain. Artinya, karunia bahasa lidah dipergunakan bukan untuk dikonsumsi sendiri, tetapi dipergunakan untuk memberitakan Injil. Hal ini bisa dilihat faktanya dari penggunaan bahasa lidah oleh para rasul pada waktu Pentakosta, di mana banyak orang di sekitar mereka yang mengerti bahasa lidah yang mereka ucapkan mendengarkan khotbah Petrus dan hasilnya, 3000 jiwa dimenangkan bagi Kristus (Kis. 2:41).


B. Karunia Berbahasa Lidah: Salah Satu Karunia Roh Kudus (1Kor. 12:8-10)
Karena bahasa roh adalah karunia, maka Alkitab mengajarkan bahwa karunia bahasa roh termasuk salah satu (bukan satu-satunya) karunia Roh Kudus. Di dalam 1 Korintus 12:8-10, Paulus mendaftarkan 9 macam karunia Roh Kudus: berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, iman, menyembuhkan, mengadakan mukjizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Dan menariknya, dari 9 macam karunia Roh Kudus tersebut, karunia bahasa roh diletakkan pada bagian agak terakhir (karunia kedelapan dan kesembilan). Jika karunia bahasa roh termasuk salah satu karunia Roh Kudus, maka berarti:
1. Karunia bahasa roh/lidah SEJATI berasal dari Roh Kudus.
Sebagaimana semua karunia Roh Kudus diberikan oleh Roh Kudus (1Kor. 12:11a), maka karunia bahasa roh yang asli juga diberikan oleh Roh Kudus. Karena diberikan oleh Roh Kudus, maka tentu ada maksud khusus yang Roh Kudus inginkan dengan memberi karunia bahasa roh tersebut (ay. 11c). Apa maksudnya? Hal ini akan dibahas tuntas di 1 Korintus 14.

2. Karunia bahasa roh/lidah tidak dimiliki oleh semua orang Kristen.
Selain dari Roh Kudus, karunia bahasa roh TIDAK dimiliki oleh semua orang. Artinya, tidak semua orang Kristen memiliki karunia bahasa roh. Di dalam 1 Korintus 12:11, Paulus mengajar kita dengan jelas tentang hal ini, “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” Dengan kata lain, ada orang Kristen yang dikaruniai iman, bernubuat, berkata-kata dengan hikmat, berbahasa roh, dll. Bahkan di 1 Korintus 12:27-30, Paulus mengajarkan prinsip tentang kesatuan tubuh Kristus, di mana masing-masing anggota tubuh Kristus yang diberikan karunia-karunia yang berlainan dari Allah hendaklah mempergunakan masing-masing karunia tersebut untuk membangun tubuh Kristus. Dengan menggunakan kalimat retoris yang tentunya perlu dijawab TIDAK, Paulus bertanya, “Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?” (1Kor. 12:29b-30) Berarti tidak ada pemutlakan bahwa semua orang Kristen harus berbahasa roh. Memutlakkan apa yang TIDAK dimutlakkan oleh Alkitab mengakibatkan ajaran yang justru melawan Alkitab dan itu sangat berbahaya. Waspadalah!

3. Karunia bahasa roh/lidah harus dibarengi dengan karunia menafsirkan bahasa roh/lidah.
Dari 1 Korintus 12:10, kita mendapatkan pengajaran menarik dari Alkitab yaitu karunia bahasa lidah dibarengi dengan karunia menafsirkan bahasa lidah (karunia kedelapan dan kesembilan). Mengapa? Karena bahasa lidah supaya dapat dimengerti oleh orang lain harus diterjemahkan (hal ini akan dibahas nanti di poin E). Pertanyaan lain yang muncul, mengapa di dalam Kisah Para Rasul 2 tidak diperlukan karunia untuk menafsirkan/menerjemahkan? Jawabannya mudah, karena konteksnya waktu itu, para rasul berbicara kepada orang-orang yang berkumpul di Yerusalem dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh orang-orang yang berkumpul tersebut (bahasa itu asing bagi para rasul karena mereka tidak pernah mempelajarinya, namun bahasa itu TIDAK asing bagi orang-orang di situ, karena mereka memang berasal dari daerah tersebut).


C. Karunia Berbahasa Lidah Vs Kasih (1Kor. 13)
Setelah menjelaskan beragam karunia Roh di pasal 12 ayat 1-11, maka mulai ayat 12 s/d 30, Paulus menjelaskan bahwa semua karunia Roh di dalam masing-masing anggota tubuh Kristus itu dipergunakan untuk membangun tubuh Kristus. Dengan kata lain, semua karunia Roh tersebut sama pentingnya, namun di ayat 31, ada karunia yang terpenting yang Paulus mau jelaskan. Apa itu? Itulah kasih yang akan dijelaskannya di pasal 13. Prof. William L. Hendricks, Ph.D. dalam artikelnya Spiritual Gifts di dalam buku Holman Bible Handbook (1992) membedakan 3 macam karunia rohani: karunia rohani esensial yang harus dimiliki oleh semua orang Kristen (iman, pengharapan, dan kasih—1Kor. 13:13), karunia rohani yang dinamis (karunia iman, menyembuhkan, mengadakan mukjizat, membedakan bermacam-macam roh, berbahasa lidah, menerjemahkan bahasa lidah—1Kor. 12:9-10), dan karunia rohani fungsional (penting bagi struktur dan pelayanan gerejawi, misalnya: rasul, nabi, penginjil, pendeta/gembala, guru-guru, pelayanan kepada orang lain, menegur, menunjukkan belas kasihan, kata-kata bijaksana, kata-kata pengetahuan, karunia mengatur, karunia menolong, dll) (hlm. 692-693) Di 1 Korintus 13, ia menguraikan tuntas tentang kasih sebagai karunia terpenting dari segala karunia Roh Kudus yang lain. Di ayat 1, Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” Di ayat 8, Paulus lebih mempertajam pengajarannya, “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Dari dua ayat ini, kita mendapatkan penjelasan Paulus bahwa kasih lebih penting dari karunia bahasa lidah, karena:
1. Kasih itu tidak memegahkan diri vs bahasa lidah itu memegahkan diri (ay. 4)
Di dalam 1 Korintus 13:4b, Paulus mengemukakan beberapa ciri kasih, “Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” “Memegahkan diri” bisa diterjemahkan membanggakan diri artinya menganggap diri hebat dan berarti. Karena sifatnya sabar dan murah hati, maka otomatis kasih itu tentu tidak pernah membanggakan diri sebagai sesuatu yang paling berarti. Dengan kata lain, seorang yang memiliki kasih adalah seorang yang terus-menerus rendah hati, bukan malahan menganggap diri lebih hebat, pandai, dll dari orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan bahasa lidah. Karunia bahasa lidah memang sejatinya dipergunakan untuk memberitakan Injil, namun hari-hari ini bahasa lidah telah diselewengkan artinya, sehingga orang Kristen yang mengaku sudah bisa berbahasa lidah menjadi sombong rohani. Hari-hari ini, banyak orang yang berbahasa lidah menjadi seorang yang sombong rohaninya karena menganggap sudah bisa bercakap-cakap langsung dengan “Allah.”

2. Kasih itu tidak berkesudahan vs bahasa lidah akan berhenti (ay. 8)
Di dalam 1 Korintus 13:8, Paulus sudah mengajarkan realitas bahwa bahasa roh/lidah itu akan berhenti, sedangkan kasih itu tidak berkesudahan. Mengapa? Karena kasih itu kekal adanya, karena menyangkut Pribadi Allah sendiri yang adalah Kasih itu (1Yoh. 4:16b). Karena Allah itu Kekal dan tidak mungkin mengalami perubahan, maka Kasih (sejati) yang ada di dalam Pribadi Allah juga bersifat kekal. Karena tidak mungkin berubah, maka setiap orang Kristen secara individual harus memiliki kasih yang bersumber dari Allah ini. Sedangkan apa pun yang tidak berdasarkan kasih Allah pasti berubah, termasuk salah satunya bahasa lidah. Mengapa? Karena bahasa lidah termasuk karunia Allah yang diberikan hanya kepada beberapa orang untuk memberitakan Injil. Jika tugas si pemberita Injil itu sudah selesai di dunia ini, maka karunia itu akan dicabut dan tidak akan berlaku di Sorga nanti.


D. Karunia Berbahasa Lidah Vs Karunia Bernubuat (1Kor. 14:1-5, 22)
Pentingnya kasih diulang kembali oleh Paulus di dalam 1 Korintus 14:1, namun pengulangan ini disertai dengan perintah agar jemaat Korintus merindukan karunia rohani, khususnya karunia bernubuat/menyampaikan pesan Allah. Perhatikan keseluruhan ayat 1 ini, “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.” Kata “usahakanlah” dalam teks Yunaninya: ‎zēloúte lebih tepat diterjemahkan: rindukanlah (banyak Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkannya: desire yang berarti rindukanlah/inginkanlah). Kata kerja ini dalam struktur bahasa aslinya menggunakan bentuk present, aktif, dan imperatif. Berarti, Paulus memerintahkan jemaat Korintus dan kita untuk secara aktif merindukan karunia-karunia rohani/Roh. Karunia Roh apa yang penting setelah kasih? Paulus mengkhususkannya: karunia bernubuat. Dalam teks Yunaninya, kata ini adalah: prophēteúēte yang berasal dari kata Yunani prophētēs yang berarti nabi atau kitab nabi. Kalau kita membaca Perjanjian Lama, apa fungsi nabi? Nabi diutus oleh Allah untuk menyampaikan pesan Allah kepada umat-Nya. Dengan kata lain, bernubuat identik dengan berfungsi sebagai nabi yaitu menyampaikan/memberitakan pesan Allah. Di sini, kita lebih mengerti bahwa di bawah kasih, karunia Roh yang penting yang harus dikejar oleh orang Kristen adalah karunia untuk bernubuat atau menyampaikan pesan Allah dan bukannya karunia untuk berbahasa lidah. Mengapa? Apa perbedaannya? Di ayat-ayat selanjutnya mulai ay. 2 s/d 5, Paulus mengemukakan perbedaannya:
1. Karunia berbahasa lidah: berkata-kata kepada Allah vs karunia bernubuat: berkata-kata kepada manusia (ay. 2-3)
Seorang yang berkata-kata dengan bahasa lidah itu sedang berkata-kata kepada Allah dan tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya. Sedangkan ketika seorang menyampaikan pesan Allah (yang disebut karunia bernubuat), tentu orang lain mengerti apa yang diucapkannya, karena apa yang diucapkannya itu menggunakan bahasa yang dapat dimengerti. Pesan Allah yang dapat dimengerti ini isinya: “membangun, menasihati dan menghibur.” (ay. 3) Berarti pesan Allah yang harus disampaikan kepada jemaat Tuhan harus mengandung 3 unsur ini: membangun, menasihati, dan menghibur. Membangun (dan menguatkan) di kala orang Kristen lemah, menasihati di kala orang Kristen berbuat salah, dan menghibur di kala orang Kristen putus asa. Khotbah yang benar-benar mengandung pesan Allah seharusnya berisi tiga hal di atas dan bukannya berat sebelah.

2. Karunia berbahasa lidah: membangun diri sendiri vs karunia bernubuat: membangun Jemaat (ay. 4-5)
Karena berkata-kata kepada Allah dan tidak ada seorang pun yang mengerti, maka berkata-kata dengan bahasa lidah tentu membangun diri sendiri, karena hanya diri sendiri yang mengerti perkataan rahasia tersebut. Sedangkan ketika seseorang bernubuat, ia membangun Jemaat melalui pesan Allah tersebut. Dengan kata lain, berbahasa lidah adalah suatu keegoisan (demi kepentingan diri), sedangkan bernubuat itu demi kepentingan orang banyak.

3. Karunia berbahasa lidah tidak dilarang oleh Paulus, namun karunia bernubuat lebih penting daripada karunia berbahasa lidah (ay. 5)
Dari ayat 2 s/d 4, seolah-olah kita mendapatkan pengertian bahwa Paulus tidak menghargai bahasa lidah dan mengagungkan karunia bernubuat, benarkah? TIDAK. Di ayat 5, ia memberikan kesimpulan yang cukup jelas, “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.” Paulus TIDAK pernah melarang seseorang berbahasa lidah, bahkan ia menyukai orang yang berbahasa lidah, namun ia lebih menyukai seseorang itu bernubuat, karena yang dipentingkan Paulus adalah pembangunan tubuh Kristus (bdk. 1Kor. 12-13). Dan karena yang dipentingkan Paulus adalah pembangunan tubuh Kristus atau kesatuan dalam Kristus, maka karunia-karunia Allah harus dipergunakan untuk kepentingan bersama di dalam tubuh Kristus, sehingga bernubuat lebih penting daripada berbahasa lidah yang TIDAK diterjemahkan.


E. Penggunaan Bahasa Lidah Menurut Alkitab (1Kor. 14:5-40)
Jika demikian, bagaimana pandangan Alkitab mengenai berkata-kata dalam bahasa lidah? Alkitab TIDAK pernah melarang karunia berbahasa lidah, namun Alkitab memberikan batasan-batasan yang jelas tentang karunia berbahasa lidah dengan tujuan agar bahasa lidah ini TIDAK disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Alkitab memberikan 7 konsep tentang bahasa lidah:
1. Bahasa lidah harus diterjemahkan/ditafsirkan supaya jemaat dapat dibangun (ay. 5-19, 27c)
Konsep pertama tentang bahasa lidah adalah bahasa lidah HARUS ditafsirkan atau diterjemahkan supaya jemaat dapat dibangun. Konsep ini sudah dijelaskan Paulus di ayat 5. Untuk menajamkannya, mulai ayat 6 s/d 9, Paulus memberikan ilustrasi dirinya dan alat musik. Di ayat 6, Paulus mengilustrasikan, jika ia datang kepada jemaat Korintus dan berbahasa lidah, apakah itu berguna bagi jemaat Korintus? Tentu jawabannya TIDAK. Lalu, ia mencoba membandingkannya, bagi jemaat Korintus, mana yang lebih berguna: Paulus berkata-kata dalam bahasa lidah ataukah ia menyampaikan “penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran”? Tentu jawabannya: lebih berguna jika Paulus menyampaikan pesan Allah yang jelas ketimbang berbahasa lidah yang tidak dapat dimengerti itu. Dari ilustrasi tentang diri, Paulus beralih ke ilustrasi tentang musik. Di ayat 7, Paulus memberi 2 contoh alat musik: seruling dan kecapi. Jika ada dua orang yang memainkan lagu dengan menggunakan dua alat musik ini, maka pasti ada dua suara lagu yang berbeda yang dihasilkan dari 2 jenis alat musik ini. Orang yang memainkan lagu dengan menggunakan seruling tentu suaranya berbeda dengan orang yang menggunakan kecapi. Orang yang sering mendengarkan 2 jenis alat musik ini tentu bisa membedakan mana lagu yang dihasilkan dari seruling vs kecapi. Itu sebabnya, jika bahasa lidah diucapkan tetapi tidak memiliki arti, bagaimana orang lain bisa mengerti artinya? Di ayat 8, Paulus kembali memberi contoh ketiga, yaitu tentang nafiri. Alat musik nafiri dipergunakan sebagai simbol untuk berperang. Ketika nafiri dibunyikan, itu berarti tanda siap perang. Nah, Paulus bertanya, jika nafiri TIDAK mengeluarkan bunyi yang terang, lalu siapa yang menyiapkan diri untuk berperang? Hal yang sama terjadi dengan penggunaan bahasa lidah: jika bahasa lidah tidak mengeluarkan ucapan yang dapat dimengerti, lalu apa faedahnya? Kesimpulan Paulus di ayat 9b, “Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!”

Di ayat 10 s/d 12, Paulus menjelaskan tentang pentingnya bahasa. Dia menjelaskan bahwa semua bahasa di dunia seberapa pun banyaknya pasti memiliki bunyi yang berarti. Jika Paulus tidak mengetahui bahasa tertentu (misalnya X), maka dia menjadi orang asing bagi orang yang berbahasa X dan sebaliknya orang yang berbahasa X itu juga menjadi orang asing bagi Paulus, sehingga tidak terjalin komunikasi antara Paulus dan orang yang berbahasa X. Dengan kata lain, tidak ada gunanya orang yang berbahasa X berkata kepada Paulus dengan bahasa X, karena Paulus tidak akan mengerti bahasa tersebut. Oleh karena itu, supaya antar saudara seiman tidak menjadi asing satu sama lain, maka bahasa lidah perlu diterjemahkan.

Di ayat 13, ia menjelaskan bahwa orang yang berbahasa lidah harus berdoa, supaya ia juga diberi karunia untuk menafsirkannya. Berarti orang yang sama yang berbahasa lidah juga bertanggung jawab untuk menafsirkannya. Mengapa? Alasannya dijelaskan di ayat 14 s/d 17: karena ketika kita berdoa dan menyanyi, kita harus melakukannya dengan roh dan akal budi (bukan hanya dengan roh saja), sehingga para pendengar di dalam kebaktian tersebut dapat mengerti dan mengatakan, “amin” atas pengucapan syukur yang kita lakukan.

Di ayat 18, Paulus mengatakan sesuatu yang seolah-olah mengejutkan kita, “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.” Mengapa Paulus mengatakan hal ini? Karena Paulus ingin agar jemaat Korintus tidak salah sangka, lalu mengira Paulus iri dengan karunia bahasa lidah yang ada di jemaat Korintus. Di ayat ini, ia mengajar kita bahwa Paulus pun juga memiliki karunia berkata-kata dalam bahasa lidah, namun di ayat selanjutnya, di ayat 19, ia mengatakan, “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” Berarti, ketika berdoa sendirian, Paulus mendapat karunia berbahasa lidah, namun ketika dalam pertemuan Jemaat atau kebaktian, ia lebih suka mengucapkan 5 kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain daripada berpuluh ribu kata dengan bahasa yang tak dapat dimengerti. “Beribu-ribu” dalam teks Yunaninya muríous berarti sepuluh ribu/berpuluh ribu (angka terbesar dalam bahasa Yunani). Kata ini menandakan sebuah angka yang tak terhitung.

2. Karunia bahasa lidah: tanda untuk orang yang TIDAK beriman (ay. 20-25)
Agar jemaat Korintus TIDAK terlalu membangga-banggakan bahasa lidah, Paulus mengingatkan mereka bahwa bahasa lidah selain termasuk salah satu karunia Roh Kudus juga termasuk tanda untuk orang yang TIDAK beriman (ay. 22). Mengapa Paulus berkata demikian? Karena di ayat 21, Paulus mengemukakan bahwa bahasa asing dipergunakan oleh Allah untuk menghukum bangsa Israel, “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.” Ayat ini dikutip Paulus dari Yesaya 28:11-12. Ayat ini mengacu kepada tanda penghakiman di mana Allah memakai bangsa Asyur dengan bahasanya yang tidak dimengerti oleh Israel untuk menghukum Israel (bdk. Yes. 33:19; Kel. 28:49) (InterVarsity Press Bible Background: New Testament). Dengan kata lain, kepada bangsa Israel yang tidak mau bertobat (dan tentu tidak beriman), Allah menggunakan bahasa asing yang tak dimengerti oleh orang Israel. Mengutip Prof. S. Lewis Johnson, Th.D. dalam tafsiran 1 Korintus dalam The Wycliffe Bible Commentary (Tafsiran Alkitab Wycliffe) mengatakan, “Sang rasul memasukkan sebuah kutipan bebas dari hukum Taurat (maksudnya, Perjanjian Lama) untuk menunjukkan bahwa bahasa roh dimaksudkan sebagai tanda kehadiran Allah bersama orang-orang bukan Yahudi.” (hlm. 648) Di sisi lain, menurut The Teacher’s Commentary, di dalam kebudayaan Yunani, perkataan yang bergairah/ekstatik merupakan sebuah tanda kehadiran ilahi, sehingga Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa bahasa lidah itu tanda bagi orang yang tak beriman dan bukan tanda kerohanian sejati.

Oleh karena itu, di ayat 23-25, Paulus kembali mengulang penjelasannya bahwa bernubuat lebih penting daripada berbahasa lidah. Jika seseorang berbahasa lidah di dalam suatu kebaktian, kemudian ada orang asing masuk ke dalam kebaktian tersebut, tentu orang asing itu menyangka jemaat yang berbahasa lidah itu gila, karena orang asing itu tidak mengerti artinya. Sedangkan jika jemaat bernubuat, lalu masuk orang asing/baru, maka orang asing/baru itu akan diyakinkan oleh pesan Allah dan kemudian menyembah-Nya dengan mengaku, “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.” (ay. 25)

3. Bahasa lidah HARUS diucapkan oleh minimal 2 orang dan maksimal 3 orang (ay. 27a, 29)
Setelah menjelaskan tentang karunia bernubuat lebih penting daripada karunia berbahasa lidah, maka apakah hanya karunia bernubuat yang diperbolehkan? TIDAK. Di ayat 26, Paulus memberikan kebebasan di dalam mengembangkan karunia Roh Kudus di dalam diri setiap anak Tuhan, “Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.” Namun kebebasan dalam mengembangkan karunia Roh Kudus harus tetap dibatasi, karena jika tidak, akan menimbulkan kekacauan. Supaya tidak kacau, berkaitan dengan bahasa lidah, maka Paulus mengajar bahwa bahasa lidah HARUS diucapkan oleh minimal 2 orang dan maksimal 3 orang. Perhatikan ayat 27a berikut, “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang,” Mengapa harus maksimal 3 orang? Di ayat 29, Paulus memberikan alasannya, “Tentang nabi-nabi--baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.” Alasannya adalah supaya orang lain yang hadir di situ dapat menanggapi apa yang mereka katakan. Kata “menanggapi” dalam ayat 29 ini kurang tepat terjemahannya, karena kata Yunani yang dipakai adalah diakrinétōsan yang berarti mempertimbangkan atau membedakan. Dengan kata lain, orang lain yang hadir di situ dapat membedakan/mempertimbangkan (atau menguji) apakah yang dikatakan oleh maksimal 3 orang itu benar-benar dari Roh Kudus atau bukan. Bible Knowledge Commentary mengaitkan kata Yunani yang dipakai di ayat ini dengan kata Yunani untuk “membedakan bermacam-macam roh” di 1 Korintus 12:10. Bandingkan ajaran Alkitab ini dengan fakta banyak orang Kristen hari-hari ini yang ribut dan kacau di mana hampir semua jemaat gereja berbahasa lidah, padahal Alkitab membatasi hanya maksimal 3 orang saja. Inilah bentuk penyimpangan dari ajaran Alkitab.

4. Bahasa lidah HARUS diucapkan bergiliran (ay. 27b)
Selain harus maksimal 3 orang, bahasa lidah pun harus diucapkan secara bergiliran. Di ayat 27b, Paulus mengajar, “…seorang demi seorang” Frase “seorang demi seorang” dalam teks Yunani berarti menurut giliran (Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, hlm. 940). Berarti, maksimal 3 orang yang mengucapkan bahasa lidah itu pun harus silih berganti, BUKAN serentak/bersamaan. Mengapa harus bergiliran? Hal ini penting untuk memberi kesempatan kepada jemaat lain yang diberikan karunia oleh Tuhan untuk menafsirkannya (ay. 27c). Jika 3 orang secara serentak berbahasa lidah, lalu, bagaimana orang bisa menafsirkan apa yang dikatakannya? Bandingkan kembali ajaran Alkitab dengan fenomena yang kita lihat di banyak orang Kristen yang hari ini menggandrungi bahasa lidah di mana hampir semua orang secara bersamaan/serentak berbahasa lidah, sehingga membuat orang luar yang datang ke kebaktian ini menjadi bingung.

5. Jika TIDAK ada yang menafsirkan bahasa lidah, orang yang berbahasa lidah itu HARUS berdiam diri (ay. 28)
Jika tidak ada orang yang menafsirkan bahasa lidah, maka Paulus dengan keras berkata di ayat 28, “hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.” Mengapa Paulus menyuruh mereka berdiam? Karena jika tidak ada orang yang menafsirkan bahasa lidah itu, maka bahasa lidah itu menjadi suatu kesia-siaan karena tidak ada orang yang dapat mengerti artinya. Bukankah melalui hal ini, Jemaat tidak bisa dibangun imannya? Setelah menyuruh berdiam, Paulus melanjutkan bahwa mereka yang berbahasa lidah silahkan melakukannya secara pribadi antara Allah dengan diri mereka sendiri. Dengan kata lain, Paulus kembali menekankan bahwa karunia bahasa lidah HANYA untuk kepentingan pribadi dengan Allah, bukan untuk dipergunakan di dalam pertemuan Jemaat.

6. Orang yang berbahasa lidah HARUS taat kepada firman Tuhan (ay. 37-38)
Meskipun Paulus menghargai kebebasan dalam mempergunakan karunia Roh, namun ia juga membatasinya demi ketertiban jemaat, karena “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” (ay. 33) Demi menjaga ketertiban, maka sekali lagi dengan tegas Paulus mengatakan, “Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan.” (ay. 37) Kata “kukatakan” dalam ayat ini TIDAK tepat terjemahannya, karena kata Yunani yang dipakai adalah gráphō yang menunjuk pada tulisan (beberapa terjemahan Inggris juga menggunakan kata write). Dengan kata lain, Paulus hendak mengatakan bahwa mereka yang mengatakan memiliki karunia rohani HARUS mengetahui dengan jelas (Yunani: epiginōskétō) bahwa yang dituliskan Paulus ini adalah perintah dari Tuhan dan itu HARUS ditaati. Bahkan di ayat selanjutnya, yaitu di ayat 38, ia berkata dengan tegas, “Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.” Dengan kata lain, barangsiapa yang tidak memperhatikan peringatan Paulus tentang hal ini, maka orang tersebut TIDAK perlu diperhatikan juga pengajarannya. Berarti, karunia Roh Kudus TIDAK bisa dilepaskan dari pentingnya firman Tuhan. Karunia Roh Kudus diberikan untuk meneguhkan berita firman Tuhan demi pertumbuhan iman bagi sesama tubuh Kristus, bukan membuat orang makin menghina firman Tuhan dengan menciptakan ajaran baru yang justru melawan Alkitab. Mereka yang mengkritik berbagai penyimpangan bahasa roh selalu dicap tidak ada “roh kudus”, menghujat “roh kudus”, bahkan sesat/“menghakimi”, padahal Allah melalui Paulus mengajarkan bahwa justru yang tidak menaati pengajaran Paulus lah yang seharusnya tidak perlu didengarkan ajarannya. Sungguh suatu ironi yang memalukan.

7. Pemakaian bahasa lidah harus berlangsung sopan dan teratur (ay. 40)
Setelah menjelaskan panjang lebar tentang karunia bahasa lidah dan penjelasan bahwa ia tidak melarang bahasa lidah (ay. 39), maka di ayat 40, mengulang ayat 33, Paulus mengatakan, “segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Kata “sopan” seharusnya diterjemahkan semestinya/seharusnya. Dengan kata lain, penggunaan bahasa lidah harus dilakukan dengan seharusnya sesuai dengan perintah Allah dan juga dengan suatu urutan/keteraturan yang jelas. Berarti, Tuhan mengizinkan kebebasan dalam mengembangkan karunia yang Roh Kudus berikan, namun Ia TIDAK mengizinkan kebebasan itu dipakai sewenang-wenang tanpa batasan/aturan, karena “Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2Tim. 1:7) Jika Allah menginginkan kebebasan disertai dengan ketertiban, bagaimana sikap orang Kristen seharusnya?




IV. KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Setelah Paulus menjelaskan panjang lebar tentang pemakaian bahasa lidah di 1 Korintus 14, apa yang menjadi reaksi kita? Marah, lalu menuduh Paulus tidak ada “roh kudus”? Speechless (tidak bisa berkata apa-apa) karena kita belum mengerti? Ataukah kita dengan rendah hati taat akan firman Tuhan? Biarlah Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita untuk menaati apa yang telah Tuhan firmankan kepada kita melalui Alkitab, sehingga kita tidak mudah ditipu oleh berbagai angin pengajaran yang menyesatkan namun dibungkus dengan kulit luar yang begitu indah dan “rohani.” Amin. Soli Deo Gloria.

“Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.”
(Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., Depresi, hlm. 115)

Tidak ada komentar: