Jumat, 19 November 2010

IMAN KRISTEN DAN KEDEWASAAN

IMAN KRISTEN DAN KEDEWASAAN

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”
(Ibr. 5:14)



Ketika mendengar kata “dewasa”, apa yang ada di benak kita? Ada yang mengatakan bahwa orang yang telah berusia 25 tahun ke atas. Orang lain mengatakan bahwa orang dewasa adalah orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Pada umumnya orang mengidentikkan kedewasaan dengan tingkat usia seseorang atau hal-hal superficial atau fenomenal yang dapat dilihat mata. Salahkah hal tersebut? Tentu TIDAK! Namun fakta membuktikan bahwa orang yang sudah berusia 25 tahun ke atas pun bertindak tidak dewasa, misalnya kalau ditegur langsung ngambek, setiap perkataannya harus ditaati sampai sedetail-detailnya, berkata apa pun selalu tidak bisa dipertanggungjawabkan (bahasa Jawanya: esuk dele sore tempe), dll. Lalu, jika kedewasaan HANYA diukur dari tingkat usia seseorang atau hal-hal superficial, apakah gejala-gejala di atas menunjukkan bahwa orang tersebut telah dewasa? TIDAK. Lalu, apa sebenarnya makna dewasa?


Iman Kristen dan Alkitab mengajarkan beberapa presuposisi kedewasaan:
Pertama, kedewasaan itu menyeluruh (holistik). Di dalam kuliah Surat Ibrani di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika, Pdt. Thomy Job Matakupan, M.Div. mengatakan bahwa kedewasaan itu adalah sesuatu yang menyeluruh, meliputi kedewasaan: rohani, karakter, dll. Dengan kata lain, ada orang Kristen yang dewasa secara rohani namun tidak dewasa secara karakter dan sebaliknya. Sehingga adalah tugas orang Kristen untuk saling menguatkan dan menegur satu sama lain untuk mendewasakan satu sama lain di dalam pertumbuhan yang sehat dan menyeluruh ke arah Kristus.

Kedua, kedewasaan itu proses. Karena kedewasaan itu adalah hal yang menyeluruh, maka tentu saja kedewasaan itu membutuhkan proses. Artinya, seorang Kristen untuk menjadi dewasa secara menyeluruh dibutuhkan sebuah proses waktu. Oleh karena itu, jangan pernah menghina orang Kristen yang sedang bertumbuh, karena fakta membuktikan orang yang gemar menghina orang lain dengan celetukan, “kayak anak kecil”, orang yang menegur tersebut pun secara tidak sadar juga seperti anak kecil, misalnya ngambek kalau ditegur.

Ketiga, kedewasaan itu perlu bantuan. Karena kedewasaan itu sebuah proses, maka dibutuhkan bantuan untuk mendewasakan seseorang. Bantuan tersebut bisa berupa teguran dan pengajaran dari Alkitab, hamba Tuhan, saudara seiman, orangtua, saudara, dll. Nah, sering kali orang yang merasa diri sudah berumur/tua paling berbangga diri karena merasa diri sudah dewasa, sehingga kalau ditegur, selalu mengeluarkan seribu jurus melawan teguran tersebut! Justru, orang yang merasa paling dewasa dan tidak butuh orang lain untuk menegur, orang tersebut justru TIDAK dewasa, karena dewasa bukan suatu keadaan statis!


Dari presuposisi tentang kedewasaan, maka kita dapat menarik beberapa ciri kedewasaan. Saya membagi kedewasaan menjadi dua: internal dan eksternal.

Ciri-ciri kedewasaan internal:
Pertama, mengonsumsi makanan keras. Kalau kita kembali melihat Ibrani 5:14, penulis Ibrani mengatakan bahwa makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. Kata “dewasa” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya telei┼Źn artinya sempurna atau dewasa (mature). Hanya orang-orang dewasa yang dapat mengunyah makanan keras karena gigi-gigi mereka sudah terlatih. Di dalam kehidupan sehari-hari, orang (yang bertumbuh) dewasa adalah orang yang tidak lagi mendengarkan dongeng, namun sudah terbiasa membaca surat kabar dan buku-buku yang sulit. Di dalam kerohanian, orang Kristen (yang bertumbuh) dewasa adalah mereka yang sudah terlatih mendengarkan khotbah-khotbah yang keras yang menegur dosa supaya mereka bertobat dan kembali kepada Kristus. Namun berhati-hatilah, mendengarkan khotbah keras JANGANLAH menjadi suatu arogansi bagi kita lalu menghina khotbah-khotbah yang sederhana (sederhana TIDAK sama dengan dangkal!)

Kedua, peka membedakan yang baik dan jahat. Dalam bahasa Yunani, kata membedakan adalah diakrisis bisa berarti discerning atau judging (=membedakan, melihat, menghakimi). Dengan kata lain, kedewasaan internal diukur dari kepekaan seseorang (Kristen) mengetahui dengan jelas sesuatu atau seseorang apakah itu baik atau jahat, lalu pengetahuan itu menuntut pembedaan yang jelas antara keduanya, sehingga tidak mengaburkan dan menyesatkan. Kepekaan mengetahui dengan jelas dan kemudian membedakannya hanya dimiliki oleh seorang yang sudah dewasa. Orang dewasa mengetahui dan dapat membedakan mana etika yang benar dan salah. Di dalam kerohanian, orang Kristen (yang bertumbuh) dewasa peka membedakan mana yang baik dan jahat. Namun ingatlah, peka membedakan yang baik dan jahat HENDAKlah tidak mengakibatkan kita menjadi arogan lalu gemar mengkritik sini-sana. Peka membedakan yang baik dan jahat seharusnya berlaku pertama-tama bagi diri kita sendiri (introspeksi diri) dan kemudian bagi orang (dan ajaran) lain.

Ciri-ciri kedewasaan eksternal:
Pertama, mandiri. Mandiri adalah sikap berdikari sendiri, berani melakukan segala sesuatunya secara sendiri. Mandiri tidak berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain sama sekali, tetapi mandiri adalah sikap seorang yang dewasa dalam mengerjakan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain, entah itu teman, orangtua, dll (meskipun bantuan mereka TIDAK boleh kita abaikan sama sekali). Mandiri berwujud: Pertama, menguasai banyak hal. Artinya, sebisa mungkin, orang yang bertumbuh dewasa adalah orang yang cukup menguasai banyak hal (theologi, filsafat, politik, pendidikan, ekonomi, dll), meskipun hal ini TIDAK berarti kita menjadi ahli dalam segala hal. Kedua, bijaksana. Secara implisit, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. mendefinisikan bijaksana sebagai suatu tindakan yang diambil dengan tepat dengan pertimbangan yang matang di dalam kondisi yang tepat. Artinya, selain pintar, bijaksana juga membutuhkan hikmat tertinggi yaitu dari Tuhan. Bijaksana ini bisa diaplikasikan dalam: mengambil keputusan dan mengelola sesuatu (misalnya: keuangan, waktu, dll). Ketiga, bertanggung jawab. Seorang yang mandiri haruslah seorang yang bertanggung jawab atas apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Jangan merasa diri mandiri, namun ketika berkata sesuatu selalu mencla-mencle!

Kedua, kemampuan bersosialisasi. Mandiri saja TIDAK cukup syarat bagi seorang yang bertumbuh dewasa, karena jika yang diperlukan hanya mandiri, maka kita nantinya menjadi pribadi yang egois dan arogan. Oleh karena itu, seorang yang bertumbuh dewasa perlu memiliki kemampuan untuk bersosialisasi. Artinya, orang tersebut harus bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan dunia luar, misalnya lingkungan gereja, masyarakat, pekerjaan, pendidikan, dll. Dengan berhubungan dengan dunia luar (berkomunitas), kita bisa belajar banyak hal, mulai dari prinsip hidup, kondisi masyarakat, dll. Selain itu, G. I. Jeffrey Siauw, M.Div. di dalam khotbahnya tentang komunitas di dalam Seminar Redemptive Spirituality Series pada tanggal 20 September 2008 di Surabaya mengajarkan bahwa pentingnya komunitas itu membukakan kepada kita realitas kita yang negatif dan teman kita dapat memberi terang kepada diri kita. Tanpa komunitas, kita tidak pernah merasa diri kita memiliki kelemahan/hal negatif. Tuhan memakai komunitas yang bertanggungjawab sebagai sarana mempertumbuhkan iman dan karakter kita.

Ketiga, rendah hati. Kemampuan bersosialisasi mengakibatkan seorang yang bertumbuh dewasa memiliki suatu kerendahan hati. Rendah hati TIDAK sama dengan rendah diri atau sungkan (bahasa Jawa: enggih-isme). Rendah hati adalah suatu sikap merendahkan hati kita untuk siap ditegur dan diajar oleh orang lain, sehingga kita bisa bertobat dari yang lama. Saya menjumpai terlalu banyak orang yang mengklaim diri dewasa (baca: yang sudah berumur/tua), tetapi ketika ada pendapat mereka yang salah secara objektif, mereka menjadi keras kepala dan enggan ditegur dengan beribu argumentasi “logis”. Tidak heran, saya sering mendengar orang berkata bahwa semakin tua usia seseorang, semakin susah orang tersebut ditegur! Mengapa? Karena orang itu sudah TIDAK memiliki sikap rendah hati ditambah kebanyakan mereka menjadi sombong. Kesombongan mereka ditandai dengan perkataan yang sering mereka ucapkan bahwa mereka sudah berpengalaman, sudah banyak makan asam garam (sampai darah tinggi, kolesterol, dll, hehehe). Orang yang bertumbuh dewasa khususnya orang Kristen seharusnya TIDAK meniru apa yang dunia pikir, katakan, dan lakukan, tetapi harus berubah. Kerendahan hati adalah sikap yang HARUS dimiliki orang Kristen dari segala macam usia untuk bertumbuh makin serupa dengan Kristus.


Bagaimana dengan kita? Biarlah artikel singkat ini boleh menyadarkan kita agar kita semakin lama semakin bertumbuh dewasa menuju ke arah Kristus dan tentunya kita membutuhkan bantuan agar kita bisa berada di dalam proses menuju kedewasaan itu. Jadilah orang yang membantu orang lain untuk bertumbuh dewasa dan rendah hatilah dalam menerima setiap teguran dan pengajaran dari orang lain yang sesuai dengan Alkitab agar kita pun juga bertumbuh makin dewasa. Amin. Soli Deo Gloria.

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Tidak ada komentar: