Jumat, 29 Oktober 2010

SUATU PENGUJIAN ATAS ISI DOA KRISTEN

SUATU PENGUJIAN ATAS ISI DOA KRISTEN

oleh: Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D., M.B.A.




PENDAHULUAN
Sebagai suatu sikap agama yang perlu, doa diungkapkan oleh hampir setiap orang dengan kesadaran agama. Sesungguhnya, doa mewakili hasrat yang tulus dari seseorang dan pengharapan yang bersemangat di tengah-tengah ketidakberdayaan, penderitaan, dan kesulitan untuk memohon pertolongan dari suatu ilah tertinggi yang diingininya. Meskipun demikian manusia mempunyai obyek yang berbeda tentang pemujaan dan doa. Namun isi doa mereka, seperti yang sering terjadi adalah tidak lebih dari menginginkan dan meminta kepada Allah untuk memenuhi harapan dan keinginan mereka. Ini adalah hal umum pada semua agama. Sekarang bagaimanakah dengan doa-doa Kristen?

Bagi orang Yahudi di zaman Yesus, di tengah-tengah praktek religius mereka, khususnya pada waktu di mana mereka mengalami penderitaan di bawah tentara Romawi. Mereka menggunakan doa sebagai suatu bagian yang esensial dari kehidupan sehari-hari. Sejak kejatuhan bangsa mereka ratusan tahun yang lalu, dari masa pembuangan Babilonia, orang-orang Yahudi yang tulus secara regular melakukan doa minimum tiga kali sehari, berlutut menghadap Yerusalem dan berdoa (bdk. Dan. 6:10). Bagi murid-murid Yesus, ketika mereka mengikut Dia dan mendengar pengajaran Kristus, mereka menyaksikan bagaimana Yesus hidup dan melihat mujizat-mujizat yang telah dibuat-Nya. Pada saat yang genting ini, mereka sangat tertarik dengan doa dan menginginkan Yesus mengajari bagaimana cara berdoa seperti yang Yohanes Pembaptis lakukan kepada murid-muridnya (Luk. 11:1). Nampaknya, kita tidak mempunyai catatan apapun tentang ajaran Yohanes tentang doa; meskipun demikian, sebagai jawaban atas permintaan para murid-Nya, kita mempunyai Doa Bapa Kami, yang kemudian menjadi sebuah mantra – seperti nyanyian bagi banyak orang Kristen sebagai sarana meritorial untuk memperoleh kebaikan Tuhan dan berkat-berkat-Nya.

Dari fakta yang diminta oleh murid-murid Yesus untuk diajari cara berdoa, kita tahu bahwa mereka merasa apa yang dilakukannya dalam doa secara umumnya belumlah cukup, lalu menginginkan jenis doa yang lain, suatu doa sejati. Inilah titik yang kita harus tahu bagaimana doa Kristen berbeda dari yang lainnya, bukan sekedar dalam obyek, sikap, dan maksud dari doa, tetapi juga isi dari doa tersebut. Isi doa kita berbeda dari yang lainnya. Ini adalah perhatian utama kita dalam tulisan ini: “Melihat secara jelas isi doa-doa Kristen, dan menyarankan apa dan bagaimana kita berdoa”.

Melihat lebih dekat doa kita setiap hari, tidaklah sulit untuk mendeteksi kebanyakan doa kita terucap seperti orang-orang tidak percaya pada zaman Yesus dalam mencari apa yang dimakan? dan apa yang diminum? apa yang dipakai? Secara umum doa-doa kita hanya mewakili harapan dan permintaan-permintaan pribadi yang berpusatkan pada keinginan diri sendiri, kebutuhan kita, sebagai pemicu mekanis tekun dalam doa menghasilkan kuasa, berkat-berkat dan kebaikan ilahi untuk memenuhi hal-hal yang sulit bagi kita.

Anehnya, doa semacam itu walaupun tidak sesuai, telah dijawab oleh Allah di dalam kemurahan hati dan pemeliharaan-Nya. Namun betapa sedihnya kita melihat bahwa banyak orang Kristen mengambil jawaban Tuhan untuk doa-doa mereka sebagai persetujuan Tuhan dari isi doa dan secara tidak pandang bulu mengajar orang lain untuk berbuat yang sama dan tinggal di tingkatan yang dasar dan paling rendah dari kerohanian Kristen dan prakteknya. Yesus berkata: “Bapamu yang di sorga tahu apa yang engkau inginkan sebelum engkau memintanya” (Mat. 6:5-8). Faktanya jelas, bahkan doa kita janganlah bertele-tele dan menyesatkan, Allah masih sanggup memperluas belas kasihan, anugerah, dan pemeliharaan-Nya untuk memberi kita apa yang kita butuhkan dan apa yang kita pakai. Namun kita terlalu kekanak-kanakan pada saat menyimpulkan bahwa segala hal terjadi karena doa kita, dan doa kitalah yang menyebabkan Allah menggerakkan tangan-Nya seolah-olah kita memaksa Tuhan untuk menepati janji-Nya. Kadang-kadang, kita bahkan berasumsi lebih jauh bahwa hal inilah pengertian yang baik yang sesuai dengan kebenaran Allah dan mengajarkannya kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sesungguhnya, ini adalah suatu praktek yang menurunkan iman kita pada level memperalat Allah seperti pada agama-agama yang lain.

Fakta bahwa Allah menjawab doa kita yang kekanak-kanakan bukanlah apa-apa, tetapi sebagai bukti belaskasihan-Nya dan kedaulatan pemeliharaan-Nya. Namun demikian, ketika kita melihatnya lebih mendalam sedikit, kita akan mendapatkan bahwa hal ini dalam maksud pendidikan agar kita boleh bertumbuh secara bertahap kearah Kristus. Seperti yang pernah dilakukan Allah kepada Israel ketika meninggalkan Mesir. Allah secara sengaja membawa mereka mengelilingi padang gurun, karena Dia mempedulikan kaum tua, yang muda dan lemah, maka semua dari mereka mempunyai cukup kekuatan dan waktu untuk belajar disiplin, mengalami anugerah, bersyukur dan belajar taat menuju kesempurnaan.

Inilah mengapa kita harus meninggalkan keinginan diri dan keegoisan kita, sehingga kita tidak menyakiti Tuhan dan membuat orang lain memanfaatkan kebaikan Tuhan. Sikap dan isi doa yang benar adalah secara tulus melekat kepada Allah, mencari tahu isi hati-Nya, dan bersyukur di dalam ketaatan yang penuh. Berbicara tingkatan iman, tingkah laku orang Kristen dalam berdoa harus membawa pengertian keagamaan. Doa Kristen bukanlah hanya suatu performans dari praktek keagamaan saja; tidak berhubungan dengan praktek politis dalam memaksimalkan keuntungan dan kegunaan dari fungsi apa yang diharapkann. Secara sederhana, doa Kristen adalah doa di dalam dirinya, doa demi doa. Sebagaimana doa didasarkan kesadaran personal dan respons pada kebenaran penyataan Allah; ini adalah realisasi dan internalisasi iman. Inilah maksud pengujian kita, tingkat demi tingkat, isi doa Kristen.




DOA ADALAH RESPONS ORANG KRISTEN ATAS PENYATAAN DAN PEKERJAAN ALLAH: MENGENAL ALLAH
Penyataan Allah dan Pekerjaan Allah
Secara theologis, penyataan Allah terdiri dari penyataan umum dan khusus. Penyataan umum membawa kita pada pengetahuan tentang Allah dan bagimana Ia menyatakan kuasa, kesetiaan-Nya dan kasih-Nya melalui ciptaan-Nya dan pemeliharaan-Nya, sehingga kita dapat dipenuhi oleh pujian dan ucapan syukur. Inil sesungguhnya tingkat pertama dari doa Kristen, meminta Allah membuka mata kita untuk melihat keilahian dan kuasa-Nya sehingga kita boleh memastikan kesetiaan-Nya, belas kasihan dan keadilan tanpa alasan, dan lebih jauh lagi untuk berterimakasih dan merasa bangga dalam perasaan kagum.

Penyataan khusus Allah yang kita maksudkan adalah kebenaran Allah yang sempurna yang diinspirasikan Allah dalam inskripturasi Firman dalam Alkitab bersama dengan hikmat dan mujizat dalam kehadiran keselamatan Kristus. Melalui Alkitab kita belajar karya Kristus yang menyelamatkan dan kehendak Allah yang sempurna, sehingga kita boleh masuk ke dalam kerajaan-Nya dalam Kristus dan mengenal kemuliaan-Nya. Dengan alasan inilah doa Kristen harus mulai dengan membaca Alkitab. Dengan demikian kita memperoleh pengertian yang baik mengenai ciptaan Allah dan karya pemeliharaan-Nya.

Sekali kita mengakui adanya penyataan dan tindakan-Nya. Anak-anak-Nya akan dimasukkan dalam anugerah-Nya dan menjadi ajaib pada karya harmonisnya dan kebaikan-Nya. Jiwanya akan diangkat untuk bertemu dengan keindahan Tuhan, dan dengan sepenuh hati membuang semua untuk bersatu dengan Allah.

Mempertimbangkan apa yang Tuhan telah lakukan

Doa Musa,
Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.
Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia
diperanakkan, Bahkan dari selama-lamanya sampai
selama-lamanya Engkaulah Allah.
(Mzm. 90:1-2)

Dari semua ekspresi itu, kita mungkin merasakan pertimbangan Musa atas pekerjaan Tuhan yang mengherankan dan ucapan syukurnya kepada Tuhan atas anugerah-Nya. Di bawah keadaan seperti itu, pujian akan keluar dari kita dan secara otomatis hati kita berseru:
Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Pujilah nama-Nya yang kudus, hai Segenap batinku!
Pujilah Tuhan, hai jiwaku,
Dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,
yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur,
yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan,
sehingga masa mudamu menjadi baru
seperti burung rajawali
(Mzm. 103:1-5)

Bukankah juga ini yang telah kita alami? Kapan saja kita mempertimbangkan tentang apa yang telah Tuhan lakukan di masa lalu, terutama semua hal yang baik di dalam hidup kita, kita harus memancarkan keluar perasaan menakjubkan, pujian, dan ucapan syukur, di mana kita akan menjawab dengan mengatakan: Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku? (Mzm. 116:12)


Memanggil Nama Tuhan
Pemazmur selanjutnya berkata:
Aku akan mengangkat piala keselamatan
Dan akan menyerukan nama Tuhan
(Mzm. 116:13)

Di sini kita belajar bahwa isi doa orang Kristen harus seturut dengan panggilan dan proklamasi nama Tuhan, untuk mendeklarasikan kelimpahan sebagaimana memuliakan nama-Nya yang Kudus. Sesungguhnya, memanggil nama Tuhan dan mendeklarasikan kebaikan-Nya tidaklah selalu sama. Mendeklarasikan kebaikan Allah adalah berkaitan dengan tindakan-tindakan baik, di mana orang lainpun akan menyaksikan kehidupan kita dan memuliakan Allah. Di lain pihak dalam memanggil nama Allah, kita mendeklarasikan bahwa Allah adalah akar dari kehidupan kita dan dasar dari tindakan-tindakan kita. Dengan lain kata, doa orang Kristen adalah untuk meletakan hidup kita di hadapan Allah yang ilahi dan kuasa-Nya yang besar akan dimanisfestasikan melalui kehidupan kita yang rendah hati.

Oleh karena itu, doa orang Kristen dan tidaknya dalam berdoa adalah tidak ada artinya selain komitmen total kepada Allah. Yang memperbolehkan masuk ke dalam pemeliharaan-Nya, kedaulatan-Nya dan kuasa-Nya yang besar. Dalam hal ini, orang lain boleh melihat kehidupan kita dan menyatakan: Diberkatilah orang-orang yang takut akan Tuhan” (Mzm. 128:4).




MEMAHAMI APA YANG SEDANG DILAKUKAN ALLAH
Allah orang Kristen adalah Allah yang Hidup dan Benar. Dia selalu bekerja dari hari-kehari. (1Tes. 1:9; Yoh. 5:17). Jika kita gagal melihat, mengamati dan mengalami pekerjaan-pekerjaan Allah, kita akan masuk ke dalam satu langkah orang Israel pada zaman nabi Yesaya, yang menggambarkan sebagai lembu dan keledai yang tidak mengenal tuannya dan juga tidak tahu pemlik mereka.

Menjadi Anak-anak Allah, Allah mengangkat mereka. Mereka memberontak melawan Allah, gagal melihat Allah dan tidak mengenal Allah. Sebagai ganti mereka telah menjadi bangsa yang penuh dosa, orang-orang yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat, dan anak-anak yang berlaku buruk! (Yes. 1:1-4). Betapa suatu situasi yang menyedihkan! Sesungguhnya, orang Yahudi pada masa Yesaya, dekat dengan kehidupan yang suci. Namun, dari ratapan nabi, nyata bahwa mereka hanya mempunyai kealiman yang keluar di dalam kemunafikan. Mereka gagal untuk belajar Hukum TUHAN, dan menolak untuk melihat pekerjaan Tuhan. Di mata Tuhan, mereka disamakan dengan para “penguasa Sodom dan orang-orang Gomora” (Yes. 1:9). Karena alasan ini, Tuhan mengumumkan: “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan menyembunyikan mata-Ku dari kamu. Bahkan kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkan” (Yes. 1:15). Di sini kita melihat bagaimana kejahatan dan kekejaman ini merupakan suatu doa tanpa pembacaan dari Hukum dan Firman Tuhan.

Melalui doa-doalah kita mengenal pekerjaan Allah, mengenal Allah lebih dalam dan mengalami anugerah Allah. Tuhan Yesus pernah berkata kepada murid Yohanes Pembaptis: “Kembali dan katakan kepada nya, apa yang engkau dengar dan lihat ...” (Mat. 11:4). Fakta bahwa Allah menyediakan perayaan untuk orang Israel tidak lain agar mereka mempertimbangkan, merefleksi dan mengingat apa yang Tuhan telah lakukan untuk mereka. Mereka telah diingatkan berulangkali ketika mereka menjauh dari Tuhan, tanpa pengetahuan dari Tuhan, keluar dari perjanjian, di sana mereka akan menyadari bagaimana mereka diberkati di bawah sayap Tuhan untuk lebih dekat dan melayani Dia.

Secara umum, tidak satu orangpun dapat menyangkal hal-hal yang Allah telah kerjakan. Namun jika seseorang tidak memahami apa yang Allah lakukan sekarang, maka seseorang tidak dapat melihat dengan sempurna apa yang Allah sudah lakukan, demikian sebaliknya. Dalam kasus ini, kita menjadi kehilangan tanpa pembacaan yang benar tentang pekerjaan Allah. Hanya ketika kita melihat tangan Allah bekerja menyempurnakan apa yang Dia sedang lakukan, hati kita akan selalu dipenuhi dengan sukacita dan ucapan syukur, selain waspada, berjaga-jaga, sampai kepada penundukkan yang total. Di sanalah kita melihat bahwa Allah kita sedang tersenyum pada kita (Mzm. 42:5). Lihatlah, hamba Elisa, walaupun ia sudah mengikuti tuannya lama, dan telah menyaksikan banyak mujizat,1 Namun, ketika ia melihat bahwa kota dikepung oleh kuda-kuda dan kereta-kereta perang, namun gagal untuk melihat secara penuh kuda dan kereta kuda api menyertai mereka; dia terjatuh dan menangis. “Oh tuanku, apa yang harus kami lakukan? (2Raj. 6:15), untuk alasan itulah Elisa berdoa “Oh Tuhan! Bukakanlah matanya agar dia dapat melihat.” Lalu Allah membuka mata hamba tersebut dan ia melihat dan memandang pegunungan penuh dengan kuda-kuda dan kereta kuda api di sekeliling Elisa. Pada saat itu dia sungguh-sungguh heran dan Allah tidak pernah meninggalkan mereka satu inci pun. Sesungguhnya Allah sedang menyediakan suatu langkah pembebasan dan kemenangan untuk mereka.

Tidak diragukan lagi, teriakan umat yang keras kepada Allah ketika mereka di tengah penderitaan dan kesulitan. Menghadapi keadaan yang sulit, kemiskinan yang memutusasakan, ketidakadilan yang kotor, manusia cenderung mengalami kesulitan dan bertanya, “Mengapa Allah berdiam diri?” Apa yang sedang Ia lakukan? Apakah Ia menghilang?” “Apakah yang sedang Allah lakukan sekarang?” Di tengah-tengah situasi yang paling buruk, Rodion Raskolnikov dalam Kejahatan dan Hukuman bertanya suatu pertanyaan yang keji: “Apakah yang Allah lakukan sekarang ini? Menghadapi pertanyaan yang kasar, Sonya Marmeladova tidak berkata sepatah katapun. Selain dari menggerakkan buah caturnya, ia tetap berdiam dan meminta, “Jangan berbicara, jangan bertanya… Engkau tidak mempunyai hak”. Lalu dia tertawa dalam kegusaran dan berteriak sekeras-kerasnya: “Tetapi Dia sedang melakukan segala sesuatu!”2

Di dalam segala kejadian, TUHAN duduk dan mengatur dari tahta-Nya (Mzm. 29:10). Walau Ayub, di tengah-tengah kesakitan dan kesengsaraan yang besar, berteriak, seandainya aku tahu di mana menemukan Dia! (Ayb. 23:1-3), namun Yakub yang kesepian, berseru di Betel, “Yakinlah, TUHAN ada di tempat ini dan aku sadar akan hal itu” (Kej. 28:16)

Allah orang Kristen adalah Allah yang mengerjakan segala sesuatu. Mari kita bertanya kepada Tuhan dalam doa kita untuk membuka hati kita, bersama sama dengan mata kita, agar kita boleh melihat Dia di tengah-tengah karya-Nya dan melihat Dia sebagai Allah yang sedang bekerja. Biarlah doa kita menjadi saksi agar kita berhati-hati, pasrah, dan berkomitmen, untuk mengenal bahwa Dia mampu melakukan tanpa terukur, jauh lebih dari semua yang kita minta atau bayangkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Ef. 3:20).




MENGAMBIL BAGIAN DI DALAM PEKERJAAN ALLAH
Sangat disayangkan, ada banyak salah pengertian diantara orang Kristen mengenai doa. Banyak orang menilai bahwa pribadi kita seperti halnya doa komunal gereja akan menghasilkan dan menyebabkan Tuhan bekerja. Sangat banyak suara-suara seperti ini bahwa Tuhan terlambat dan hanya doa akan membangunkan Dia bekerja dan membuat berbagai hal terjadi. Ini adalah suatu pemahaman yang salah seperti halnya pengajaran yang salah. Kebenaran adalah: doa adalah dasar kehidupan Kristen dan melayani. Ini merupakan suatu kebutuhan dari hidup kita. Di dalam doa, kita tidak melakukan apa yang kita dapat lakukan, apa yang perlu, dan apa yang penting. Lagi pula, semua berkat dan kebaikan Tuhan mengharuskan hidup doa yang penuh.

Paulus berkata: Janganlah cemas tentang apapun, tetapi nyatakanlah segala sesuatu dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur, dan nyatakanlan permohonanmu kepada Allah (Flp. 4:6). Petrus menambahkan, serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya karena Dia yang memelihara kamu (1Ptr. 5:7). Hal ini bukan berarti bahwa kita tidak melakukan apapun selain berdoa, tetapi kita melakukan segala sesuatu dan berdoa. Kelihatannya, apa yang Rasul-rasul contohkan dan anjurkan bukan berarti untuk menunjukkan bahwa kita tidak melakukan apapun dan membiarkan Tuhan melakukan semuanya oleh doa kita. Mereka menyuruh kita untuk percaya kepada Tuhan dalam segala hal melalui doa, sehingga kita merasa tenang ketika kita melalukan semuanya untuk menyakinkan diri kita, percaya kepada Dia dan membiarkan Dia menggunakan kita seperti yang Dia inginkan. Dalam tindakan, kita dapat menikmati pemeliharaan baik dan kehadiran-Nya yang penuh keagungan, ikut serta dalam pekerjaan-Nya dan mengambil bagian didalam kemuliaan-Nya.

Mengetahui apa yang sudah Allah lakukan, membuat kita selalu bersyukur; memikirkan bahwa Allah sedang bekerja, membuat kita senantiasa menunggu dan berharap kepada Allah bagi ketetapan-Nya, di mana kita boleh mengikuti bibimngan Roh Kudus dan terus bertanya kepada Allah, “Apa yang harus saya perbuat Tuhan?” (Kis. 22:10).

Dengan lain perkataan, akhir dari sebuah doa dan isinya harus ada dalam permintaan Tuhan apa yang Allah inginkan bagi kita untuk kita ambil bagian dan berpartisipasi dalam pekerjan yang sedang Ia lakukan sekarang, di sini, dan di manapun. Mungkin, engkau akan mendengar bisikan Allah: Diam dan tenanglah bahwa Akulah Tuhan (Kel. 14:13; Mzm. 46:10); selain itu kamu dapat mendengar Tuhan berkata: Bangun dan makanlah, karena perjalanan terlalu jauh untukmu (1Raj. 19:7); atau “Sekarang, kamu dan semua orang-orang ini, bersiaplah menyeberangi sungai Yordan ke tanah yang akan Aku berikan kepada mereka” (Yos. 1:2). Singkatnya, apapun yang Allah lakukan, kita akan mendengar dan mengikuti, inilah ketaatan dan partisipasi!




KESIMPULAN
Doa Kristen berbeda dari doa orang tidak percaya, sesungguhnya esensi doa Kristen bukanlah sebuah pelayanan dan bukan juga pekerjaan; ini adalah sebuah pelayanan yang hidup kepada Allah. Doa bukanlah meminta Allah melakukan sesuatu bagi kita, seakan-akan Dia ada di bawah disposal kita, kontrasnya doa adalah memberikan diri kita sendiri di hadapan Allah dalam kesalehan total, penundukan, dan melayani Dia. Isi doa bukanlah menceritakan kepada Allah apa yang kita inginkan dari Dia dan apa yang ingin Dia lakukan bagi kita. Doa yang benar tidak pernah dipusatkan pada diri sendiri, dipenuhi denga harapan-harapan dari interes pribadi kita. Hal itu harus menjadi hasrat kita untuk mengenal kehendak Allah dan pekerjaan-Nya, dalam rangka melihat hati-Nya dan pekerjaan-Nya. “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu memintanya” (Mat. 6:8), maka “cari dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan segala sesuatunya akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Jadi apa yang harus kita lakukan?

Kembali ke awal artikel ini, ada tiga elemen dasar dalam doa Bapa Kami, yaitu: 1) Pujian dan berterimakasih, 2) Percaya dan tunduk, dan 3) Penyembahan dan partisipasi. Hal-hal ini adalah isi yang selayaknya dalam doa-doa orang Kristen. Tulisan pendek ini menyarankan petunjuk yang jelas untuk kontens doa kita. Singkatnya, pertama dari semua kita harus dan meminta Allah membuka mata kita supaya kita dapat melihat apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Di sinilah kita akan dipenuhi dengan sukacita dan ucapan syukur. Kemudian diikuti dengan meminta Allah membuka mata kita agar kita boleh melihat apa yang sedang Allah lakukan sekarang, di sini dan di manapun, maka kita akan merealisasikan pekerjaan-Nya dan dengan sepenuh hati siap dan percaya kepada Dia. Akhirnya kita akan meminta Allah melihat apa yang Dia ingin kita lakukan, yaitu untuk merealisasikan ketetapan-Nya, menanti kehidupan yang kudus, dan dengan sepenuh hati menundukkan diri kita untuk berpartisipasi dalam pekerjaan dan pelayanan-Nya. Menjadi hamba-Nya yang taat dan bekerjasama dengan Dia dalam membangun kerajaan-Nya yang kekal. Ini akan menjadi isi doa-doa kita yang layak, sebagaimana perjanjian yang baik dari kehidupan Kristen yang baik. Melalui ambil bagian dalam pelayanan Allah dan bekerja bersama dengan Allah, kita akan melihat nama-Nya dimuliakan dan berkat-Nya dilimpahkan kepada manusia.




Catatan kaki:
1. Bdk. 2 Raja-raja 2 -6
2. Dalam Feodor Dostoevsky, Crime and Punishment




Sumber:
Jurnal STULOS 7/2 (September 2008), hlm. 227-236
http://www.sttb.ac.id/2007/newLook/uploads/06%20SUATU%20PENGUJIAN%20ATAS%20ISI%20DOA%20KRISTEN_Joseph%20Tong,%20Ph.D..pdf




Profil penulis:
Pdt. Prof. Joseph Tong, B.Th., B.A., B.D., Th.M., Ph.D., M.B.A. adalah Pendiri dan Dosen Filsafat, Praktika, Sistematika di Sekolah Tinggi Theologi Bandung sekaligus Direktur Pascasarjana di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STTIAA). Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Theology (B.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Bachelor of Arts (B.A.) di Calvin College, U.S.A.; Bachelor of Divinity (B.D.) dan Master of Theology (Th.M.) di Calvin Theological Seminary, U.S.A.; Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Southern California, U.S.A.; dan Master of Business Administration (M.B.A.) di Graduate Theological Foundation, Indiana, U.S.A.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Tidak ada komentar: