Jumat, 29 Oktober 2010

SPIRITUALITAS KRISTEN: Dasar, Tujuan, dan Manifestasinya

SPIRITUALITAS KRISTEN:
Dasar, Tujuan, dan Manifestasinya1

oleh: Pdt. Minggus M. Pranoto, M.Th.





PENDAHULUAN
“The greatest problems of our time are not technological, for these we handle fairly well. They are not even political or economic, because the difficulties in these areas, glaring as they may be, are largerly derivative. The greatest problems are moral and spiritual, and unless we can make some progress in these realms, we may not even survive” (D. Elton Trueblood).2

Di tengah-tengah zaman yang semakin sekuler dan materialistis, kehidupan manusia sering kali mengalami kekeringan di dalam batinnya. Kondisi zaman yang demikian acapkali memunculkan kebutuhan yang mendalam di dalam diri manusia untuk secara serius menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Secara umum, yang dimaksudkan dengan spiritualitas di sini adalah usaha pencarian manusia terhadap realitas transenden, baik itu berupa sesuatu yang dipercaya sebagai realitas ilahi atau nilai-nilai luhur yang mana manusia dapat memilikinya agar hidup mereka menjadi saleh.

Fenomena munculnya ketertarikan terhadap hal-hal spiritualitas juga dapat dilatarbelakangi oleh situasi transisi – situasi perubahan yang tidak menentu arahnya di dalam sosial, ekonomi, dan politik - di suatu masyarakat dan bangsa. Bagi orang-orang Jawa, suatu masa yang disebut sebagai masa kalabendu – sebuah masa ketika aneka bencana seperti gempa bumi, banjir air dan lumpur, tanah longsor, gunung meletus, kekerasan, kekacauan, kelaparan besar bertubi-bertubi menimpa suatu masyarakat dan bangsa – dapat menjadi latar belakang munculnya kerinduan yang sangat besar terhadap hal-hal spiritualitas. Orang-orang bertanya “Mengapa kami mengalami bencana yang tragis ini?”; “Apa maksudnya bencana tragis ini bagi kehidupan kami?”; “Apakah ini suatu pertanda bahwa selama ini hidup kami tidak berada di jalan yang ‘lurus’ sehingga kami harus melakukan taubat?”; dst.

Walaupun ada fenomena ketertarikan yang luar biasa terhadap hal-hal spiritualitas sebagai reaksi terhadap zaman sekuler, materialistis, dan situasi perubahan yang tidak menentu. Namun demikian tidak ada kesepakatan tentang pendefinisian terhadap istilah spiritualitas. Hal ini karena pendefinisian istilah tersebut bergantung pada berbagai sudut pandang yang beragam dari para pemeluk aliran-aliran kepercayaan, agama-agama, dan kelompok-kelompok tertentu. Ambil contoh sebagian besar penganut aliran kebatinan di Indonesia mengartikan arti kata spiritualitas sebagai usaha pengolahan diri manusia untuk mencapai budi luhur dan kesempurnaan. Tujuan pengolahan diri ini untuk mencari dan menemukan sifat-sifat ilahi di dalam batin manusia terdalam. Karena di dalam bagian yang terdalam itu ada ‘Roh Suci’ manusia yang menyatakan ‘inti-pati yang hakiki di dalam diri manusia’ ataupun “jiwanya yang sejati.”3 “Sebab itu dapat diajarkan, bahwa manusia harus mengarahkan pandangannya ‘ke dalam,’ kepada batinnya yang sedalam-dalamnya, supaya menyadari serta mengalami keesaannya dengan sumber-hidup yang kekal ilahi”.4 Jika agama-agama orientasi spiritualitasnya lebih bersifat theosentris, sebaliknya kebatinan lebih bersifat anthroposentris.5

Ada juga pendefinisian spiritualitas tertentu, yaitu yang mempunyai sifat keterarahannya kepada alam seperti pantheisme, yang mendasari pencarian spiritualitasnya pada alam dan berusaha untuk mengalami kedalaman kesatuan dengan alam.6 Jenis spiritualitas ini marak juga pada zaman sekarang, yaitu di dalam Gerakan Zaman Baru (GZB).7 Para pengikut GZB mengkombinasikan kepercayaan mereka dengan perkembangan informasi sosial dan teknologi maju.8 Di dalam GZB, spiritualitas9 menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dalam usaha mentransformasi diri sendiri agar dapat menemukan sumber asli bagi hidupnya. Sumber asli itu adalah kehidupan yang harmonis dengan alam.

Apakah arti spiritualitas di dalam kehidupan Kristen? Apakah dasar, tujuan, dan manifestasi-manifestasi spiritualitas Kristen? Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas sehingga diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai ‘keunikan’ spiritualitas Kristen sebagaimana yang dinyatakan oleh Alkitab.




DASAR DAN TUJUAN SPIRITUALITAS KRISTEN
Apakah dasar dan tujuan spiritualitas Kristen? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama perlu dijelaskan dulu pemahaman kata spiritual di dalam terminologi teologi Kristen. Kata spiritual (rohani) dalam bahasa Yunaninya adalah pneumatikos, yang berarti bersifat roh atau berkenaan dengan roh.10 Kata ini di dalam PB, terutama di dalam tulisan Rasul Paulus, mempunyai tiga arti yaitu tentang orang rohani (1Kor. 2:13,15; 3:1); bdk. Gal. 6:1; tentang hal-hal rohani (1Kor. 2:13; 9:11; bdk. Rm. 15:27; Ef. 1:3); dan tentang “benda-benda rohani” yang merupakan suatu gambaran metafora yang menunjuk arti hal-hal yang spiritual (1Kor. 10:3-4; 15:44-46; bdk. 1Ptr. 2:5,9).11 Ketiga arti ini dikaitkan pemahamannya dengan karya Allah di dalam diri Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus.

Rasul Paulus di dalam konteks polemik di surat 1 Korintus, menggunakan kata pneumatikos12 untuk menegur golongan tertentu di dalam jemaat Korintus yang menganggap diri mereka ‘spiritual atau rohani’ dibandingkan yang lainnya. Hal ini dikarenakan mereka merasa memiliki karunia-karunia istimewa, yaitu karunia nubuat dan bahasa roh. Rasul Paulus menegur jemaat Korintus secara keseluruhan, termasuk golongan tertentu tersebut, yang walaupun mereka hidup dipenuhi dengan karunia-karunia tetapi mereka masih hidup di dalam pertengkaran, percabulan, penyembahan berhala, ajaran sesat dan semacamnya. Dia menyebut orang-orang di Korintus sebagai manusia duniawi yang tidak dapat menerima hal-hal spiritual yang berasal dari Roh Allah. Manusia duniawi adalah manusia psukhikos “bersifat jiwa, alamiah” (1Kor. 2:13-15; 15:44-46); dan sarkikos “bersifat daging” (1Kor. 3:1; 9:11-13). Manusia duniawi hidup tanpa Roh Allah dan oleh karena itu mereka tidak dapat mengerti hal-hal yang spiritual. Sebaliknya manusia spiritual adalah manusia yang dapat menilai segala sesuatu (1Kor. 2:15) karena hidupnya dipimpin oleh Roh Allah dan memiliki pikiran Yesus Kristus (ay. 16).14

Kehidupan spiritualitas orang-orang percaya didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat yang telah menebus dosa-dosa dunia dan yang telah bangkit, maka mereka menerima karunia Roh, yaitu Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan mereka.15 Berdasarkan karunia Roh yang diterima dan tinggal di dalam hidup orang-orang percaya, maka kehidupan mereka yang lama diperbarui. Mereka memiliki hidup yang baru yang berada di dalam kasih Allah (1Kor. 13).

Kehidupan spiritualitas Kristen merupakan kasih karunia dan anugerah Allah semata-mata. Kehidupan spiritualitas ini muncul bukan karena reaksi terhadap suatu kondisi zaman yang tidak menentu. Tetapi kehidupan spiritualitas ini muncul pertama-tama oleh karena kasih karunia dan anugerah Allah yang mengerjakan dan mengaruniakan keselamatan di dalam orang-orang percaya melalui karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa munculnya kehidupan spiritualitas di dalam diri orang-orang percaya inisiatifnya datang dari Allah. Secara tepat, McIntosh berkata:
Spirituality, in other words, is not something the believer has but is a new pattern of personal growth taking place in the community of those who have been sought out, converted and cherished by the risen Christ. ‘In this love, not that we loved God but God loved us. …We love because God first loved us (1 John 4. 10,19).16

Di dalam surat-surat Rasul Paulus, pernyataan “di dalam Kristus” atau “di dalam Tuhan” dikutip sebanyak 164 kali,17 hal ini jelas membuktikan bahwa betapa pentingnya dasar kehidupan spiritualitas yang didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Karena melalui Yesus Kristus, kehadiran Allah disingkapkan dan Roh Kudus diberikan kepada orang-orang percaya. Allah memang misteri bagi kehidupan manusia, namun melalui Yesus Kristus Allah menyatakan diri-Nya agar manusia dapat mengenal-Nya. Dan melalui Roh Kudus kehadiran Allah menjadi nyata di dalam diri orang percaya yang ditandai dengan adanya suatu pembaruan hidup.

Selanjutnya, mesti dicatat bahwa dasar spiritualitas Kristen tidak saja berpusat kepada Kristus (Kristus-sentris), tetapi juga berpusat kepada Allah Trinitas (Trinitas-sentris). Kedua pusat ini merupakan satu kesatuan. Kesatuan ini mempunyai pengertian bahwa percaya dan beriman kepada Yesus Kristus menjadi ‘pintu masuk’ bagi kehidupan spiritualitas orang-orang percaya. Namun demikian percaya kepada pribadi Yesus Kristus harus dihubungkan dengan percaya kepada pribadi-pribadi Ilahi lainnya di dalam Allah Trinitas, yakni Allah Bapa dan Roh Kudus. Allah Trinitas yang Agung menuntun orang-orang percaya kepada kepenuhan dan kekayaan kehidupan spiritualitas sejati. Memiliki kehidupan spiritualitas sejati berarti memiliki kesadaran spiritualitas yang peka dan jernih terhadap realitas kehadiran Allah Trinitas, baik di dalam kehidupan pribadi sebagai orang percaya maupun di dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Di wilayah-wilayah kehidupan apa pun misalnya kehidupan emosional pribadi, sosial, ekonomi, moral, seksual, profesi, hubungan dengan sesama dan semacamnya tidak dibiarkan lepas dari kesadaran spiritualitas tersebut. Hal ini didasari pada pengakuan yang sepenuhnya bahwa tidak ada satupun bagian kehidupan orang-orang percaya yang boleh terpisah dari kehadiran Allah Trinitas. Sebagai akibatnya kehidupan yang dijalani oleh mereka adalah kehidupan yang kudus dan benar. Kehidupan semacam ini adalah kasih karunia dan anugerah Allah Trinitas, dan juga merupakan sebuah proses di mana di dalamnya kehidupan orang-orang percaya dituntun dan diajar oleh Roh Kudus untuk mengenal dan mendalami kebenaran Kristus sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab.




MANIFESTASI-MANIFESTASI SPIRITUALITAS KRISTEN
Sedikitnya ada tiga manifestasi Spiritualitas Kristen di dalam kehidupan orang-orang percaya. Ketiga spiritualitas itu adalah kehidupan spiritualitas yang dicirikan dengan persekutuan yang intim di dalam kehidupan pribadi orang percaya bersama dengan Allah; kehidupan spiritualitas yang ada di dalam komunitas orang percaya; dan yang terakhir adalah kehidupan spiritualitas yang dinyatakan di dalam praksis. Ketiga manifestasi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Mereka adalah saling menyatu, memperkaya, dan mengisi satu sama lainnya. Ketiganya merupakan kesatuan yang utuh dan penuh yang butuh diekspresikan di dalam kehidupan orang-orang percaya.

Persekutuan Yang Intim Antara Kehidupan Orang Percaya Dan Allah
Tujuan dari spiritualitas Kristen adalah untuk mencapai persekutuan yang intim antara orang percaya dengan Allah. Persekutuan yang intim ini sering disebut sebagai unio mystica (persatuan atau persekutuan mistik) dengan Allah. Di sini kata mistik tidak berarti sebuah rahasia,18 “but in its use to indicate the mystery of God‘s love for us revealed in Christ – and is a secret, or a mystery, not because it is kept secret, on the contrary it is something to be proclaimed and made known... and accessible to us in the life, death, and resurrection of Christ.”19 Dengan kata lain unio mystica adalah persekutuan yang sangat mendalam antara orang percaya dengan Allah yang telah menyatakan diri-Nya untuk diketahui dan dikenal melalui pribadi Yesus Kristus. Unio mystica ini mendapat dasarnya dari Alkitab seperti di dalam Injil Yohanes 10:30 “Aku dan BapaKu adalah satu”; 17:11 (bdk. Ayb. 21, 22, 23; Fil. 1:23) “...supaya mereka menjadi satu seperti kita.” Melalui unio mystica ini, orang percaya dapat ‘membenamkan (immerse)’ dirinya di dalam kehadiran Allah dan di kedalaman kasih-Nya secara pribadi (juga dapat secara komunal) melalui disiplin-disiplin rohani seperti berdoa, berpuasa, kontemplasi, membaca Firman Tuhan dsb.20

Di dalam sejarah gereja di masa lalu, usaha untuk Unio mystica secara radikal di dalam kehidupan orang percaya banyak dilakukan melalui kehidupan di monasteri atau pertapaan Kristen dengan cara hidup selibat dan menarik diri dari keramaian. Seorang teolog mengatakan bahwa jika perginya orang-orang percaya ke pertapaan Kristen sebagai reaksi terhadap keadaan dunia yang semakin dipenuhi hawa nafsu yang jahat, maka hal itu masih dapat dikatakan mempunyai nilai positif. Oleh karena tindakan tersebut menunjukkan sikap protes terhadap keterpurukan kehidupan manusia di dalam dosa. Tetapi jika kepergian itu sebagai usaha mengisolasi diri dari dunia karena dunia semata-mata dianggap jahat secara keseluruhannya, maka tindakan tersebut adalah keliru. Tindakan ini tidak sesuai dengan dengan pernyataan Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes 17:18 (baca juga ay. 15, 16) yang mengatakan: “sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”

Unio mystica yang dilakukan melalui disiplin-disiplin rohani mempunyai peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan kehidupan spiritualitas orang percaya. Misalnya hal ini dapat dicontohkan dalam tradisi spiritualitas pengikut-pengikut Ordo Fransiskan yang terlibat pelayanan supervisi di dalam pastoral klinis. “…a Fransiscan has committed himself/herself to an on-going personal prayer life containing at least one hour a day of contemplative prayer. This daily contemplative prayer may facilitate the person’s growth in becoming more Christlike in compassion for oneself and others.” 21 Catatan untuk ditegaskan di sini bahwa bukan disiplin-disiplin rohani itu sendiri yang memperbarui hidup orang-orang percaya, tetapi Allah bekerja menyatakan anugerah-Nya melalui tekad dan kesungguhan orang-orang dalam melakukan hal-hal tersebut. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Foster sebagai berikut:
God has given us the Disciplines of the spiritual life as a means of receiving His grace. The Disciplines allow us to place ourselves before God so that He can transform us … The Disciplines are God’s ways of getting us into the ground; they put us where He can work within us and transform us. By themselves the Spiritual Disciplines can do nothing; they can only get us to the place where something can be done. They are God’s means of grace. The inner righteousness we seek is not something that is poured on our heads. God has ordained the Disciplines of the spiritual life as the means by which we are placed where He can bless us.22


Kehidupan Spiritualitas di dalam Komunitas Orang Percaya
Kehidupan spiritualitas setiap pribadi orang percaya mendapat konteksnya di dalam sebuah komunitas orang percaya. Kehidupan spiritualitas yang dihidupi secara sendirian dan terisolasi dari sebuah komunitas adalah bukan manifestasi kehidupan spiritualitas Kristen yang benar. Karena kehidupan spiritualitas yang seperti itu dapat memunculkan sikap egois, sombong, serta memunculkan sikap ketidakpedulian terhadap sesamanya. Kehidupan spiritualitas di dalam komunitas orang percaya sebenarnya mencerminkan kehidupan Allah Trinitas. Seorang penulis berkata bahwa Allah Bapa sejak dari mulanya tidak pernah sendirian dan terisolasi dari pribadi-pribadi lainnya, Ia ada di dalam komunitas, yaitu di dalam komunitas Allah Trinitas. Jika Allah Bapa adalah kasih maka Allah Bapa butuh mengekspresikan dan menyatakan kasih-Nya kepada kedua pribadi Allah Trinitas lainnya dan demikian juga sebaliknya. Kasih tidak dapat diekspresikan jika tanpa adanya komunitas; dan kasih yang tidak diekspresikan maka kasih itu tidak berfungsi.23 Pentingnya sebuah komunitas di dalam membangun kehidupan spiritualitas pribadi orang percaya juga ditegaskan oleh pengajaran Tuhan Yesus tentang doa. Tuhan Yesus menegaskan apabila dua atau tiga orang berkumpul – di dalam sebuah komunitas - sehati dan sepikir di dalam doa maka Allah ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20; bdk. Mat. 5:23-24, 1Kor. 12; Rm. 12:3-8).

Allah menghendaki agar setiap pribadi orang percaya dapat terus menerus - di dalam proses kehidupan yang aktif, dinamis, dan progresif melalui tuntunan dan pimpinan Roh Kudus - menumbuhkan dan menghidupkan kehidupan spiritualitasnya masing-masing di dalam sebuah komunitas. Hal ini penting agar kehidupan spiritualitas mereka dapat ‘dikawal’ oleh komunitas sehingga jika terjadi penyimpangan dapat dikoreksi oleh komunitas dengan berdasarkan pada kebenaran Firman Tuhan. Namun juga bisa terjadi sebaliknya ketika komunitas orang percaya telah berjalan jauh dari Allah, maka Allah memperingatkan mereka melalui nabi-nabi-Nya yang diutus kepada mereka. Dalam hal ini kehidupan spiritualitas komunitas “dikawal” dan dikoreksi oleh hamba-hamba-Nya yang Allah kirim.24 Bersama-sama dan di dalam komunitas, orang percaya dapat menghayati dan mengalami juga unio mystica bersama Allah. Rasul Paulus dan penulis PB lainnya menggambarkan unio mystica secara komunal dengan memakai gambaran komunitas orang beriman sebagai Tubuh Kristus (Rm. 12:3 dst.; 1Kor. 12:14 dst.), mempelai perempuan Kristus (Ef. 5:27 dst.; Why. 21:9), umat Allah (Gal. 6:15-16; Ef. 2:12; Ibr. 8:8-10; 1Ptr. 2:9; 1Kor. 10:1-10; Rm. 15:8-10); komunitas Roh Kudus (1Kor. 3:16; Ef. 2:17-22; 1Ptr. 2:4-7) dsb.

Manifestasi kehidupan spiritualitas Kristen bersama di dalam sebuah komunitas mempunyai tujuan untuk membentuk kesatuan dalam penyembahan yang tertuju kepada Allah (worship); pembangunan rohani bersama antar orang percaya; kesatuan iman, kasih, dan pengharapan bersama; kerjasama pelayanan bersama dengan diperlengkapi karunia-karunia rohani; penghayatan sakramen bersama; dan kesaksian hidup komunal Kristen di dalam kata dan perbuatan kepada komunitas lainnya dsb. Masing-masing komunitas orang percaya yang berada di berbagai denominasi gereja boleh mempunyai konfesi (pernyataan iman gerejawi lokal teruntuk aliran gerejanya sendiri), bentuk pemerintahan gerejawi, dan ajaran penekanan teologi yang beragam sesuai dengan konteksnya pergumulannya masing-masing. Namun demikian perbedaan- perbedaan tersebut sebaiknya tidak menjadi penghambat dan penghalang bagi persatuan gereja. Kehidupan spiritualitas bersama yang berpusat kepada Kristus dan Allah Tritinitas menjadi dasar pengikat dan pemersatu yang ampuh dan kokoh. Di dalam kedua pusat spiritualitas ini, kehidupan bersama dirayakan. Mungkin pencarian dan pencapaian kesatuan gereja yang kelihatan (the visible unity of the Church) secara oikumenis dapat ditempuh melalui manifestasi kehidupan spiritualitas Kristen bersama ini.25


Kehidupan Spiritualitas Kristen Di Dalam Praksis26
Sangat sering terjadi pemahaman yang keliru mengenai spiritualitas di dalam kehidupan orang-orang percaya. Di mana hal-hal yang menyangkut kehidupan spiritualitas orang-orang percaya hanya dipahami dalam kategori urusan- urusan batin saja dan tidak kait-mengkait dengan soal fisik atau jasmani (tubuh). Akibatnya, penekanan spiritualitas yang demikian berakibat hanya fokus kepada aspek pengalaman spiritualitas yang dianggap “luar biasa“ seperti mempunyai penglihatan-penglihatan rohani; dan penekanan pada perasaan ekstasi misalnya penekanan utama pada karunia bahasa roh, pujian, dan penyembahan yang sangat emosional dsb. Jelas sekali bahwa pemahaman kehidupan spiritualitas sejenis ini berpusat kepada pencapaian pengalaman spiritual pribadi sebagai tujuannya akhirnya. McIntosh mengkritik jenis spiritualitas ini dengan menegaskan bahwa:
“...personal exerience is not in itself the goal of spirituality. Individuals are not so much seeking to discover their own feeling as to live into the knowledge and love of God through the hard work of being members one with another of the Body of Christ. Spirituality in this early Christian sense is inherently mutual, communal, practical and oriented towards the God who makes self-known precisely in this new pattern of life called church.”27

Lagi, jenis kehidupan spiritualitas yang berpusat kepada pencapaian pengalaman spiritual pribadi sebagai tujuannya ini melihat hidup tidak sebagai keseluruhan yaitu kesatuan tubuh dan jiwa (roh). Hidup dilihat di dalam perspektif dikotomi sehingga sebagai akibatnya perkara-perkara kehidupan jasmanih atau tubuh dan sosial ditempatkan di bawah perkara-perkara kehidupan spiritual yang berorientasi pada kepuasan batin dan diri pribadi. Spiritualitas jenis ini tidak melihat hidup sebagai sesuatu yang holistik yang harus dipersembahkan kepada Allah. Oleh karena tubuh digolongkan kepada dunia fisik atau dunia fenomena sebaliknya jiwa digolongkan pada dunia noumena (metafisika); tubuh dianggap sebagai belenggu atau rantai bagi jiwa. Spiritualitas semacam ini mempengaruhi juga di dalam konsep keselamatan, yakni keselamatan yang hanya berfokus pada perkara keselamatan jiwa saja. Akibatnya keselamatan hanya dipahami di dalam perkara-perkara eskatologis di masa yang akan datang. Spiritualitas semacam ini juga tidak mencerminkan mengenai esensi tugas gereja secara benar. Tugas gereja dipahami sekedar proporsional, yakni sekedar pemberitaan nama Yesus Kristus semata-mata agar siapa yang percaya dapat diselamatkan di dunia akhirat; dan bukan menyatakan tindakan-tindakan sosial di dalam kehidupan praksis.

Kalaupun tindakan-tindakan sosial dijalankan oleh Gereja, maka itu adalah urutan kedua atau kesekian setelah tugas pemberitaan Injil yang mendapat prioritas utamanya. Hal ini mengabaikan esensi tugas Gereja yang sebenarnya, yang meliputi penginjilan dan tindakan sosial. Melba Padilla Maggay, seorang teolog perempuan dari Filipina, mengatakan bahwa penginjilan dan tindakan sosial adalah tugas yang esensi dari Gereja; penginjilan berbicara mengenai proklamasi keselamatan di dalam nama Yesus Kristus dan tindakan sosial berbicara mengenai kehadiran Gereja di suatu konteks.28 Kedua esensi tugas gereja ini bertujuan menghadirkan kesaksian tentang Kerajaan Allah dan kedua tugas Gereja ini adalah intisari Injil (berita gembira, Yunani: euangelion).29

Spiritualitas Kristen yang benar harus diaktualisasikan juga di dalam kehidupan yang menaruh perhatian terhadap jasmani (tubuh) dan sosial. Spiritualitas demikian berfokus pada tindakan praksis yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah seperti kemiskinan, gender, ketidakadilan sosial, problem ekologi dan sosial politik, dst. Manifestasi spiritualitas ini mendorong kehidupan orang percaya baik secara pribadi dan komunal – sesuai tugas panggilannya masing-masing - bergumul dan berjuang untuk mendatangkan tanda-tanda Kerajaan Allah: kasih, keadilan, kuasa, dan damai sejahtera di tengah-tengah kehidupan sosial yang dihadapinya. Hal ini adalah sebagaimana Yesus Kristus telah lakukan. Ia dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Allah untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah-tengah pergumulan masyarakat pada waktu itu. Hal yang sama semestinya juga diperbuat oleh Gereja sebagai kumpulan orang-orang percaya – yang mengaku sebagai murid dan pengikut Kristus – untuk dapat terus peka terhadap tuntunan Roh Kudus yang terus aktif, dinamis, serta progresif di dalam dunia ini. Roh Kudus memimpin Gereja untuk hadir di setiap konteks di mana ia ada dan dapat menunaikan tugas esensi panggilan-Nya. Gereja yang sejati adalah Gereja yang berdoa memohon kepada Roh Allah agar menguduskan kehidupannya; dan menjadikannya sebagai alat Tuhan untuk dapat menjadi ‘terang dan garam’ guna mendatangkan pembaruan di masyarakat dan dunia.30 Gereja yang demikian adalah gereja yang rajin dan tekun berbuat didasari oleh kasih karunia dan anugerah Allah yang telah menyelamatkan hidupnya.




KESIMPULAN
Kehidupan spiritualitas Kristen di dalam diri orang-orang percaya dimulai ketika mereka percaya dan beriman kepada Yesus Kristus dan sebagai akibatnya mereka mempunyai karunia Roh. Roh Kudus tinggal di dalam hidup mereka dan memimpin mereka untuk melakukan kehendak Allah sebagaimana Yesus Kristus telah lakukan. Spiritualitas Kristen memiliki keunikannya sendiri oleh karena merupakan kasih karunia dan anugerah semata-mata dari Allah. Spiritualitas Kristen menekankan kehidupan persekutuan yang intim antara orang-orang percaya bersama dengan Allah Trinitas. Di dalam persekutuan tersebut kehidupan orang-orang percaya ditransformasi untuk hidup sesuai dengan kasih Allah. Kehidupan spiritualitas Kristen adalah aktif, dinamis, dan progresif – baik di dalam diri orang percaya maupun komunitas orang percaya – seturut tuntunan dan pimpinan Roh Kudus untuk menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam tindakan praksis sebagai respon terhadap tantangan-tantangan pergumulan yang dihadapinya.




Catatan kaki:
1. Paper ini pernah dipresentasikan di kegiatan workshop hamba-hamba Tuhan Gereja Isa Almasih pada tanggal 15 Januari 2007 di kampus STT Abdiel, Ungaran. Namun demikian paper ini telah diolah dan direvisi kembali untuk dapat dipublikasikan melalui jurnal ini.
2. “Foreword,” di dalam Richard J. Foster, Celebration of Dicipline: The Path to Spiritual Growth (New York: Harper & Row Publishers, 1978), hlm. x
3. G.C. Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), hlm. 334.
4. Ibid.
5. Lih. Harun Hadiwijono memberi contoh tentang hal ini dengan mengatakan bahwa “Ajaran Sesat Wirid bersifat anthroposentris, sikap terhadap Tuhan adalah negatif, manifestasi dari Nan Mutlak adalah sebenarnya manifestasi manusia (Man In The Present Javanese Mysticism, Baarn 1967), hlm. 230-245. Dikutip oleh Rahmat Subagya di dalam bukunya berjudul Kepercayaan, Kebatinan, dan Kejiwaan Agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1976), hlm. 55. Demikian juga C. Geertz berpendapat bahwa “kekuasaan asasi (pada mereka) selalu terletak dalam kesamaan: rasa – aku – Tuhan. Itulah dianggap cukup dibenarkan oleh pengalaman batin, yang membuktikan dirinya tidak pernah dibenarkan oleh logika atau iman (dikutip oleh Subagya, Kepercayaaan, hlm. 55).
6. John P. Newport, Life’s Ultimate Questions: Contemporary Philosophy of Religion (Dallas: Word Publishing, 1989), hlm. 408. Selain mistik yang terarah kepada alam, Newport juga menjelaskan bahwa ada mistik yang bersifat introvertif dan obatan-obatan (drug mysticism). Yang introvert penekanannya pada diri manusia dan ini nampaknya mirip dengan kebatinan Jawa.
7. Lih. Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1990), hlm. 18-22.
8. John Naisbitt, “Foreword,” di dalam Marilyn Ferguson, The Aquirium Conspiracy: Personal & Social Transformation In Our Time (New York: Martin’s Press, 1987), hlm. 14.
9. Spiritualitas yang populer di GZB seperti Yoga, Prana, transendetal meditasi, Taoisme, Tai Chi Waitankung, Astrologi, Feng Shui dst. Lihat juga, Herlianto, Humanisme, hlm. 51-55, 67- 82.
10. Pneumatikos berasal dari kata pneuma yang memiliki beberapa arti seperti angin, nafas, hidup, dan roh. Penggunaan pneuma dapat ditemukan diberbagai konteks seperti digunakan dalam konteks Yunani, mitologi dan agama-agama, Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru (lih. Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of The New Testament: Abridged in One Volume (Grand Rapids: Zondervan, 1985), hlm. 876-885.
11. Bdk. David L. Baker, Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat: Tafsiran Surat 1 Korintus 12-14 (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 34.
12. Menurut David L. Baker kata pneumatikos yang digunakan oleh Rasul Paulus sebenarnya terlebih dulu telah biasa digunakan oleh jemaat Korintus. Hal ini telah digunakan di dalam pasal 12:1; 14:1; 14:37; dan bdk. 14:12. Kata ini dipahami oleh jemaat Korintus untuk menunjuk kelompok yang bersemangat untuk memiliki karunia-karunia yang istimewa, terutama nubuat dan bahasa roh (lih. Roh dan Kerohanian, hlm. 35). Namun demikian Rasul Paulus menggunakan kata ini dengan makna yang baru dengan mengikatkan kepada karya pembaruan Allah dan kehidupan Kristen yang didasari oleh Kasih (1Kor. 13).
13. Baker, Roh dan Kerohanian, hlm. 34.
14. Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in The Letters of Paul (Peabody: Hendrickson Publishers, 1994), hlm. 30-1.
15. Lih. surat Efesus 1:3 & 13; 2 Korintus 1:22.
16. Mark A. McIntosh, Mystical Theology: the Integrity of Spirituality and Theology (Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1998), hlm. 6.
17. Ibid.
18. Dalam bahasa Yunani misterion berarti sesuatu yang disembunyikan atau ditutup.
19. Andrew Louth, “Mysticism,” dalam The Wesminster Dictionary of Christian Spirituality, ed. Gordon S. Wakefield (Philadelphia: The Westminster Press, 1983).
20 Sebagai sebuah catatan tambahan bahwa di sana ada beragam disiplin-disiplin rohani. Misalnya Foster menyebutkan berbagai macam mengenai disiplin rohani dan ia juga membagi disiplin-disiplin itu dalam tiga kategori seperti: Kategori pertama yang disebut sebagai “The Inward Disciplines: meditation, prayer, fasting, study”; kategori yang kedua: “The Outward Disciplines: simplicity, solitude, submission, service”; kategori yang ketiga: “the Corporate Disciplines: confession, worship, guidance, celebration.” (lih. Richard J. Foster, Celebration of Dicipline: The Path to Spiritual Growth (New York: Harper & Row Publishers, 1978).
21. John Brice dan Celia Kourie, “Contemplation dan Compassion: The Heart of a Fransiscan Spirituality of Clinic Pastoral Supervision,” dalam The Journal of Pastoral Care & Counseling, vol. 60 (Spring-Summer 2006): 110.
22. Foster, Celebration of Dicipline, hlm. 6.
23. Bdk. Geevarghese Mar Osthathios, Sharing God and A Sharing World (ed 2nd Thiruvalla, Kerala: ISCPK, 1999), hlm. 9.
24. Hal ini dapat dicontohkan melalui pelayanan nabi-nabi di Perjanjian Lama, seperti Yeremia dan Yehezkiel (contoh Yer. 2:1-37; Yeh. 2:1- 3:1-27).
25. Lih. Ion Bria, “A Fresh Breath of Spirituality,” dalam Journal Ecumenical Review 44 (2004): 429.
26. Kata ‘Praksis’ yang saya artikan di sini adalah tindakan yang didasari oleh refleksi teologis yang mendalam. Refleksi teologis ini didasari oleh kebenaran Firman Allah dan kemudian diaktualisasikan ke dalam sikap hidup yang memperhatikan pergumulan konteks yang dihadapinya.
27. Mystical Theology, hlm. 7.
28. Transformation Society (Quezon City, Phil: The Institute for Studies in Asian Church and Culture, 1996), hlm. 15.
29. Ibid.
30. Bdk. Dewan Gereja-Gereja Dunia dalam sidang raya VII di Canberra tahun 1991, didasari dengan tema “Come the Holy Spirit – renew the whole Creation,” rediscovered the power of the Holy Spirit, a power for the sanctification of the heart, transformation of society, renewal of the world. The member of the member churches, gathered at the assembly, prayed: “Holy Spirit, transform and sanctify us.” yang dikutip oleh Bria, A Fresh Breath, hlm. 430.




Sumber:
Jurnal Theologi STULOS 7/1 (April 2008), hlm. 37-50
http://www.sttb.ac.id/2007/newLook/uploads/SPIRITUALITAS%20KRISTEN...%20Minggus%20M.%20Pranoto%2037-50.pdf




Profil penulis:
Pdt. Minggus Minarto Pranoto, S.Th., M.Div., M.Th. adalah Wakil Ketua III Bidang Mahasiswa dan dosen Theologi Sistematika di Sekolah Tinggi Theologi Abdiel, Ungaran. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di STT Abdiel; Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Bandung; dan Master of Theology (M.Th.) di Asia Graduate School of Theology - Philippines (AGST - Philippines).




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Tidak ada komentar: