Sabtu, 09 Oktober 2010

SIKAP HIDUP BERSYUKUR

SIKAP HIDUP BERSYUKUR

oleh: Ev. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.




Rasa syukur adalah perasaan terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya kasih Allah berdenyut.

Sejak kecil saya diajar untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur atas segala sesuatu dan pada segala waktu. Tetapi kenyataan hidup yang tidak enak, hanya membuat anjuran itu menjadi beban mental berat yang menghambat lahirnya rasa syukur. Jika orang-tua tidak sanggup membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya menjelang Natal, bagaimana mungkin bersyukur? Jika masalah rumah tangga menjadi-jadi, bagaimana dapat bersyukur? Tetapi tidak bersyukur dalam kesulitan juga merupakan beban berat. Beban itu hanya terangkat tatkala kita mulai belajar bersyukur. Musik indah kesukaan itu terdengar hanya bila kita mulai menggetarkan dawai-dawai hati kita untuk terpesona, takjub, girang, dan heran. Tidak bersyukur adalah ciri orang yang tidak mengenal Tuhan (Rm. 1:21). Ia menggerogoti roh, melayukan jiwa dan membusukkan kehidupan. Jadi bagaimana sebaliknya? Bersyukur atau tidak?

Syukur harus dilihat bukan sebagai kewajiban tetapi sebagai kesempatan. Syukur seumpama tepuk tangan meriah untuk seorang musikus piawai yang membuat dawai hati kita ikut tergetar, atau seumpama tawa lepas karena lawakan yang lucu, atau serupa pelukan spontan untuk seorang yang kita kasihi. Syukur membuat kasih-karunia-Nya terhayati segar di tengah dunia yang kelam dan berat ini.

Syukur atau terima kasih adalah respons terhadap suatu hadiah. Rasa syukur kita akan mengalir lancar bila mendapatkan suatu hadiah sejati. Tidak semua yang kita terima adalah hadiah. Jika seorang pengemis menemukan nasi bungkus utuh di tong sampah seorang kaya, ia tidak bersyukur. Itu bukan hadiah, itu hanya sekadar sesuatu yang di dalamnya terlibat pikiran, perhatian dan hati sang pemberi. Tak perlu mahal, bisa berupa sepucuk surat, sekuntum bunga, atau apa saja yang pemberinya menaruh dirinya di dalam pemberian itu. Pemberian yang pemberinya tidak terlibat adalah sesuatu yang palsu dan tak menggerakkan rasa syukur. Hadiah sejati juga mengandung balik sesuatu darinya. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, uang, talenta, entah apa saja. Tetapi ia tidak diberikan agar dibayar kembali, sebab bila demikian ia bukan lagi hadiah tetapi pinjaman. Hadiah sejati tidak membuat kita merasa berhutang, bahkan juga tidak berhutang syukur. Pemberian selalu merupakan judi, sebab begitu diberikan, terserah kepada penerima hendak diapakan hadiah itu. Hadiah sejati membuat kita terkejut. Jika istri menanyakan dulu apa yang diinginkan suami sebagai hadiah ulang tahunnya, hilanglah unsur kejutan itu. Suami mendapatkan yang diinginkan, tetapi tidak ada kejutan, tidak ada risiko, bukan hadiah sejati! Bukankah Kristus hadiah sejati Allah untuk kita, mengandung semua ciri ini?

Hadiah sejati sesempurna itu hanya datang sesekali dalam hidup. Tetapi jika kita menunggu sampai datang yang sempurna, wajah kita akan terus murung tanpa sinar kesukaan syukur menghiasnya. Orang yang perfeksionis membunuh dorongan syukur dalam hidupnya. Hidup ini memang penuh kepahitan, kesakitan dan masalah. Namun demikian, kita perlu membuka hari bukan memompa perasaan bagi aliran syukur. Syukur itu mungkin bermula dari desah dan bisik lemah terima kasih untuk akhirnya menjadi sorak sorai. Syukur sering kali harus dimulai dari tetes kecil tak berarti yang menganak-sungai ke samudera kesukaan penuh gelora.

Syukur selalu diutarakan atas sesuatu yang lain dari yang lain. Sinar kemilau matahari paling indah terlihat di balik awan-awan. Pernahkah Anda bersyukur bahwa Anda lebih beruntung dari orang lain? Syukur semacam itu sangat memalukan karena bersyukur atas penderitaan orang lain. Namun, jika Anda menunggu sampai semua pengemis punya mobil, sampai semua orang tidak bisa mati, kita tidak akan pernah bisa bersyukur! Bukan penderitaan orang yang menjadi dasar yang membuat hari kita bersyukur, tetapi karena kelemahan kita memang membuat kita harus memiliki pembanding, yang membangkitkan kita untuk bersyukur.

Kedengarannya syukur berlawanan dengan kekuatiran. Namun keduanya berhubungan erat. Jika orang tidak pernah mengizinkan diri merasa kuatir sedikit pun, kejutan syukur ketika rasa kuatir teratasi tak pernah pula dialaminya. Kini banyak orang berusaha membuang kuatir jauh-jauh. Dengan film, makanan, bir, pil penenang, dsb. Kuatir tidak dapat diatasi dengan melarikan diri darinya. Megapa tidak menatap kuatir itu sendiri dan membawanya di hadapan Tuhan? Ketika Dia menerangi situasi dan hati kita, kuatir lenyap dan syukur menggantikannya.

Sekuat apa pun struktur mental dan rohani kita, dalam al bersyukur kita semua seperti busa sabun yang ringan dan mudah tertipu ke sana sini. Tidak heran bila sulit sekali memiliki sikap hidup bersyukur. Namun jika kita membuka hati dan mengizinkan Allah yang meniupkan napas kehidupan mengalir melalui paru-paru kita untuk membangkitkan tenaga syukur itu, kita dapat merayakan hidup ini di dalam dan bersama Tuhan.



Sumber:
http://www.ppa.or.id/artikel/sikap-hidup-bersyukur-378.html




Profil Ev. Paul S. Hidayat:
Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th., Ph.D. (Cand.) adalah Direktur Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA). Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan Master of Theology (M.Th.) di Calvin Theological Seminary, U.S.A. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Oxford Center for Mission Studies, U.K.



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Tidak ada komentar: