Kamis, 21 Oktober 2010

MANUSIA YANG NORMAL BAGI ALLAH

MANUSIA YANG NORMAL BAGI ALLAH

oleh: Pdt. Erastus Sabdono, D.Th.




Saudara-saudaraku yang terkasih,

Semakin kita menjadi manusia normal yang sejati di hadapan Allah, semakin dunia menentang kita. Meskipun kita tidak kehilangan kemanusiaan kita, kita hidup secara wajar seperti manusia lain hidup, pertumbuhan kita sebagai manusia normal di hadapan Allah pasti terbaca.

Biasanya orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang merasa terancam dengan kebenaran yang kita miliki pasti akan menganggap kita sebagai seorang yang sok suci, munafik, aneh, dsb. Namun kita tidak boleh berhenti karena keadaan-keadaan tersebut. Kita harus terus menjadi manusia normal bagi Tuhan, sebab hanya manusia yang normal bagi Tuhanlah yang akan menjadi kekasih-kekasih Tuhan.

Menjadi persoalan di sini adalah, apakah kita sudah menjadi manusia normal bagi Allah? Sebab manusia yang normal bagi Allah adalah seorang yang mengutamakan Allah lebih dari segalanya. Dan orang yang mengutamakan Allah lebih dari segalanya adalah orang yang memuliakan Allah lebih dari segala perkara. Baginya, Tuhan lebih menarik dari apa pun juga. Dengan demikian, segala keinginan mata dan kegemerlapan dunia tidak dapat memperbudaknya.

Setiap kita pasti diperhadapkan pada pilihan mencintai dunia atau mencintai Allah. Tidak bisa dimungkiri bahwa selama kita hidup di dalam dunia ini, pilihan seperti ini akan selalu ada di hati kita. Dunia kita hari ini adalah dunia yang fasik. Lebih banyak manusia yang mencintai dunia daripada mencintai Tuhan. Sekarang di manakah kita akan menjatuhkan pilihan? Dunia atau Tuhan?

Dalam Filipi 3:8 Alkitab berkata, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Di sini kita dapat melihat dengan rela dan sadar, Paulus lebih memilih Yesus daripada dunia. Kita juga harus belajar dari Zakheus ketika ia berjumpa dengan Tuhan. Dia menganggap Yesus lebih mulia dari kekayaannya, padahal untuk memperoleh kekayaannya itu ia harus mempertaruhkan hidupnya. Ia rela dikutuk oleh bangsanya karena telah menjadi kepala pemungut cukai, tetapi untuk memperoleh Yesus, ia rela melepaskan kekayaannya yang sudah dengan susah payah ia peroleh.

Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang rela membiarkan dirinya dikuasai penuh oleh Tuhan. Kalau kita sadar untuk menjadikan Tuhan segalanya, maka kita akan memiliki kerelaan untuk membiarkan Tuhan menguasai kita sepenuhnya.

Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang tidak takut pada keadaan apa pun. Ia mampu menikmati sukacita Allah dalam segala keadaan. Manusia yang normal bagi Allah adalah manusia yang selalu mengandalkan Tuhan dalam keadaan apa pun. Dalam Mazmur 27:5-6 Alkitab berkata, “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.” Orang yang mengandalkan Tuhan seperti ini adalah orang yang tidak cengeng, ia menggantungkan kebahagiaan hidupnya dalam hal-hal rohani.

Akhirnya, manusia yang normal bagi Allah adalah manusia yang melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah. Dalam 1 Korintus 10:31, Alkitab berkata, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Sola Gracia.


Sumber:
http://www.rehobot.net/article/manusia_yang_normal_bagi_allah




Profil Pdt. Erastus Sabdono:
Pdt. Erastus Sabdono, D.Th. adalah gembala sidang Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rehobot, Jakarta dan dosen di Institut Theologi dan Keguruan Indonesia (ITKI) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di ITKI Jakarta; Master of Theology (M.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi (STT) Jakarta; dan Doctor of Theology (D.Th.) di Sekolah Theologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang.

“…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every good, and purity of righteousnessrest in the Lord alone.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.1, hlm. 36)

Tidak ada komentar: