Selasa, 12 Oktober 2010

DOKTRIN TRITUNGGAL-15: Ayat-ayat Pendukung-2 (Flp. 2:6)

DOKTRIN TRITUNGGAL-15:
Ayat-ayat Pendukung-2 (Flp. 2:6)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Filipi 2:6 sebenarnya tidak termasuk teks yang menegaskan keilahian Yesus Kristus secara eksplisit, dalam arti teks ini tidak menyebut Yesus sebagai Allah dalam cara yang sama yang telah kita lihat di Yohanes 1:1, Yohanes 1:18, Yohanes 20:28, Kisah Rasul 20:28 maupun Roma 9:5. Filipi 2:6 hanya menjelaskan bahwa Yesus ”berada dalam rupa Allah”. Bagaimanapun, jika kita menyelidiki lebih lanjut, maka kita akan melihat bahwa teks ini cukup jelas mengajarkan tentang keilahian Kristus.


Rupa Allah (morfh theou)
Apakah arti ”berada dalam rupa Allah” (en morfh qeou huparcwn)? Para teolog memberikan jawaban yang berbeda-beda, tergantung penafsiran mereka terhadap makna kata morfh theou (”rupa Allah”). Ada beberapa faktor yang memicu perbedaan ini: (1) kata morfh dalam Perjanjian Baru hanya muncul dua kali, yaitu di teks yang sedang kita bahas: ayat 6 (”rupa Allah”) dan ayat 7 (”rupa hamba”); (2) dalam literatur-literatur filsafat Yunani kata morfh sering kali berarti ”apa yang ditangkap oleh panca indera”,[1] padahal definisi ini jelas tidak dapat dikaitkan pada Allah, karena Allah adalah roh (Yoh. 4:24) dan tidak terlihat (Kol. 1:15; 1Tim. 1:17), sehingga tidak bisa dipahami melalui indera manusia; (3) dalam Septuaginta (LXX) kata morfh hanya muncul empat kali dan itu pun untuk menerjemahkan empat kata yang berbeda (Hak. 8:18; Ayb. 4:16; Yes. 44:13; Dan.. 3:19); (4) Filipi 2:6-11 adalah sebuah hymne,[2] sehingga tidak boleh ditafsirkan seperti sebuah prosa atau pernyataan theologis.

Di antara beragam pendapat di atas, ada tiga pandangan utama tentang makna morfh qeou yang perlu mendapat perhatian khusus. Pertama, morfh qeou dipahami sebagai ”kemuliaan Allah”.[3] Argumen yang dipakai untuk mendukung gagasan ini adalah beragam teks Perjanjian Lama (Septuaginta) yang menghubungkan penampakan diri Allah (theofani) dengan morfh (”rupa”, Ayb. 4:16) atau doxa (”kemuliaan”, Kel. 16:10; 24:15; Im. 9:6, 23; Bil. 12:8; 14:10). Jika ini diterima, maka gambaran tentang Kristus di Filipi 2:6 sama dengan Yohanes 17:5.[4] Walaupun pandangan ini menarik, tetapi makna kata morfh seperti ini tidak dapat diaplikasikan ke frase ”rupa hamba” (Flp. 2:7). Kita tidak dapat memahami ”rupa hamba” sebagai ”kemuliaan hamba”. Selain itu, jika arti morfe tersebut dipaksakan di ayat 7 (rupa hamba = penampakan hamba), maka kita akan terjebak pada bidat doketisme yang melihat kemanusiaan Yesus hanya sebagai penampakan saja (Yesus bukan sungguh-sungguh manusia).

Kedua, morfh qeou dipahami sebagai ”gambar Allah”. Mereka yang memegang pandangan ini menganggap bahwa Yesus sedang ditampilkan sebagai Adam terakhir. Adam yang pertama diciptakan dalam gambar dan rupa Allah (Kej 1:26) tetapi gagal dalam pencobaan karena ingin menjadi seperti Allah (Kej 3:1-5), sedangkan Yesus adalah Adam terakhir dan gambar Allah yang tidak mau menjadi seperti Allah. Jika pandangan ini diterima, maka Filipi 2:6 memiliki makna yang sama dengan 2Korintus 4:4 dan Kolose 1:15 yang menampilkan Yesus sebagai gambar Allah.

Pandangan ini harus diakui lebih berbobot daripada pandangan yang pertama. Bagaimanapun, pandangan ini tetap sulit untuk diterima. Ada beberapa kelemahan fundamental dari pandangan ini: (1) frase “gambar Allah” dalam Alkitab memakai kata Yunani eikwn qeou, bukan morfh qeou. Beberapa orang memang sudah mencoba membuktikan bahwa eikwn sinonim dengan morfh, tetapi argumen yang dipakai sangat tidak memadai;[5] (2) dalam LXX kata morfh tidak pernah dipakai untuk menerjemahkan “gambar” atau “rupa” Allah di Kejadian 1:26, 5:1 maupun 9:6;[6] (3) teks secara jelas menyatakan bahwa Yesus “berada dalam rupa Allah”, bukan “adalah rupa Allah”, sebagaimana kita temui di 2Korintus 4:4 dan Kolose 1:15;[7] (4) makna morfh yang diusulkan tidak dapat diterapkan pada frase “rupa hamba” di Filipi 2:7.[8] Kalau “rupa Allah” merujuk balik pada Adam, bagaimana dengan “rupa hamba”? Apakah frase ini juga berkaitan dengan Adam? (5) “rupa Allah” di Filipi 2:6 merujuk pada pra-inkarnasi Kristus, sehingga sangat janggal apabila kita membandingkannya dengan Adam sebagai manusia.[9] Perbandingan ini akan menjadi sejajar apabila “rupa Allah” merujuk pada status Kristus yang sudah berinkarnasi.

Ketiga, gambar Allah dipahami sebagai “hakekat Allah”. Pandangan ini adalah yang paling konsisten dengan arti kata morfh dan konteks Filipi 2:6. Sesuai sejarah pemakaian kata morfh, baik di literatur Alkitab maupun di luar Alkitab, akar kata morf- selalu menunjukkan pada “sifat-sifat esensial dari sesuatu”. Jika dikaitkan dengan Allah, maka morfh qeou merujuk pada sesuatu/pribadi yang memiliki sifat-sifat esensial Allah. Dengan demikian, frase “berada dalam rupa Allah” menyiratkan bahwa Yesus memiliki hakekat ilahi seperti Allah.[10]

Pendapat di atas juga didukung oleh konteks yang ada. Dalam Filipi 2:1-11 Paulus sedang menasehati jemaat untuk saling rendah hati dan mengutamakan orang lain (ay. 1-4). Sebagai dasar sekaligus contoh bagi nasehatnya (ay. 5), Paulus lalu memaparkan hymne di ayat 6-11. Jika Kristus bukan Allah yang sejati, maka frase “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan” (ay. 6b) tidak memiliki bobot apa pun. Jika Kristus bukan Allah sejati, maka sikap-Nya di ayat 6b tidak menunjukkan sebuah kerendahhatian. Bukankah sudah seharusnya bagi seseorang yang bukan Allah untuk tidak mencoba menjadi Allah? Kerendahhatian Yesus justru akan terlihat jelas apabila kita menyadari bahwa Dia memiliki hakekat keilahian yang sempurna, tetapi Ia mau mengambil rupa seorang hamba.

Lebih jauh, pendapat di atas juga dapat diterapkan secara konsisten pada frase “rupa hamba” di ayat 7. Yesus mengambil rupa hamba dalam arti Ia benar-benar memiliki sifat-sifat esensial dari seorang hamba, yaitu ketaatan yang total. Dia mau menjadi manusia yang hidup-Nya hanya untuk menaati kehendak Bapa-Nya (ay. 7-8). Ketaatan ini bahkan harus dibayar-Nya dengan kematian yang sangat hina di atas kayu salib (ay. 8b).

Yang terakhir, pendapat di atas didukung oleh ayat 6b “kesetaraan dengan Allah itu”. Frase ini dimulai dengan sebuah artikel (to), sehingga menunjukkan bahwa kesetaraan ini sudah disinggung sebelumnya. Kapan hal ini disinggung? Pada waktu Paulus menegaskan bahwa Yesus “berada dalam rupa Allah”![11] Dengan kata lain, “berada dalam rupa Allah” memiliki makna yang sama dengan “setara dengan Allah”.


Berada (huparcwn)
Setelah kita meneliti makna “berada dalam rupa Allah”, sekarang kita akan menyelidiki pentingnya pemakaian kata “berada” (huparcwn) di ayat 6. Supaya semakin jelas, kita perlu membandingkan frase “berada dalam rupa Allah” (ay. 6) dengan “mengambil rupa seorang hamba” (ay. 7). Kristus tidak mengambil (lambanw) rupa Allah; Dia memang berada (huparcw, dari akar kata “adalah”) dalam rupa Allah. Keberadaan-Nya sebagai Allah bukanlah sesuatu yang Dia usahakan, tetapi sesuatu yang memang sudah begitu dari awalnya.

Perbandingan lain yang perlu dicermati adalah pemakaian keterangan waktu (tense). Kata huparcwn memakai tense present yang menyiratkan bahwa Kritus terus-menerus berada dalam rupa Allah. Keterangan waktu ini bukan hanya menunjukkan bahwa selama inkarnasi Kristus tetap sebagai Allah, tetapi sebelum inkarnasi pun Dia terus-menerus berada dalam rupa Allah. Sebaliknya, ketika Dia menjadi hamba, peristiwa ini tidak terus-menerus. Bentuk tense aorist pada kata “mengambil” (labwn) dalam konteks Filipi 2:6-11 merujuk pada tindakan yang pernah terjadi di masa lampau. Pemuliaan Kristus di ayat 9-11 turut mempertegas ide bahwa posisi Yesus sebagai hamba tidak berlangsung terus-menerus. Dia kini adalah Tuhan atas segala sesuatu.


Bantahan dan Jawaban
Walaupun keilahian Kristus dalam Filipi 2:6-11 sudah cukup jelas dinyatakan, tetapi sebagian orang tetap berusaha membantah hal tersebut. Bantahan pertama berkaitan dengan frase “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan”. Yang menjadi inti masalah adalah kata “milik yang harus dipertahankan” (arpagmos). Kata ini diterjemahkan secara beragam dalam berbagai versi, misalnya “perampokan” (KJV/NKJV/WEB), “sesuatu yang ditangkap/dipegang” (ASV/RSV/NIV/NASB) atau “sesuatu yang dieksploitasi” (NRSV). Jika arpagmos diterjemahkan “perampokan”, maka Yesus jelas tidak setara dengan Allah. Dia berada di bawah Allah. Dia hanya tidak mau menyamai Allah.

Apakah arti kata arpagmos yang sebenarnya? Kata benda arpagmos hanya muncul sekali. Kata lain yang berkaitan dengan arpagmos memang bisa merujuk pada sesuatu yang diambil dengan paksa, misalnya arpagh (Mat. 23:25//Luk. 11:39; Ibr. 10:34) atau arpazw (Mat. 12:29; 13:19; Yoh. 10:28). Kata kerja arpazw juga bisa berarti “mengangkat”, tetapi tanpa ada unsur paksaan (2Kor. 12:2; 1Tes. 4:17). Jadi, arti mana yang paling sesuai dengan konteks Filipi 2:6?

Ternyata, studi kata tentang arpagmos tidak akan banyak membantu kita memahami apa yang dimaksud Paulus di Filipi 2:6b jika kita hanya menyelidiki kata ini saja. Sekarang semakin banyak teolog yang menyadari bahwa kata arpagmos tidak boleh ditafsirkan secara independen. Kata ini harus dipahami bersamaan dengan kata hgeomai (“menganggap”), karena dua kata ini dalam literatur Yunani memang sering kali muncul bersamaan dan kemunculan keduanya dalam bentuk ungkapan. Sebagai sebuah ungkapan, dua kata tersebut berarti “menganggap sesuatu sebagai kemujuran, durian jatuh atau sebuah nasib baik”.[12] Jika diterapkan pada Filipi 2:6b, maka ungkapan ini menyiratkan sikap Kristus yang tidak mau menganggap kesetaraan diri-Nya dengan Allah sebagai sebuah batu loncatan untuk menyenangkan diri sendiri, sebagaimana yang biasa dilakukan orang yang mendapatkan kekayaan/keberuntungan secara tiba-tiba. Kesetaraan Kristus dengan Allah bukanlah sebuah keberuntungan (Kristus memang dari kekal berada dalam rupa Allah). Kesetaraan ini juga bukan alasan bagi Kristus untuk menyenangkan diri-Nya.

Penafsiran di atas bukan hanya didukung oleh bukti-bukti linguistik yang kuat, tetapi juga sesuai dengan konteks yang ada. Di Filipi 2:1-4, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, Paulus sedang mengajarkan jemaat Filipi untuk saling rendah hati, memikirkan kepentingan orang lain, menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Dalam konteks seperti ini sangat cocok apabila Paulus menampilkan Kristus sebagai teladan. Kristus lebih utama dari segala sesuatu (karena Dia berada dalam rupa Allah dan setara dengan Allah), tetapi Dia justru tidak mau menggunakan kelebihan ini untuk kepentingan-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia mau mengosongkan dan merendahkan diri untuk kepentingan orang lain (ay. 7-8). Jika Kristus hanya ditampilkan sebagai Pribadi yang lebih rendah dari Allah dan tidak mau merampok kesetaraan dengan Allah, maka makna seperti ini jelas kurang sesuai dengan konsep tentang kerendahhatian dan kerelaan melepas hak bagi orang lain yang sedang diajarkan Paulus di ayat 1-4.[13]

Walaupun bukti linguistik dan analisa konteks di atas sudah cukup jelas, kita masih bisa menambahkan argumen lain untuk mendukung hal itu. Pembacaan yang sederhana sebenarnya sudah cukup untuk melihat kelemahan pendapat yang menafsirkan arpagmos sebagai perampokan. Arti seperti ini jelas tidak cocok jika dikaitkan dengan kesetaraan dengan Allah, karena kesetaraan dengan Allah tidak mungkin dirampok.[14] Mengapa? Perampokan selalu berakibat hilangnya kepemilikan dari orang yang dirampok. Jika Kristus “merampok” kesetaraan dengan Allah, maka Allah tidak akan memiliki kesetaraan itu lagi. Hal ini tentu saja tidak masuk akal. Kesetaraan dengan Allah tidak mungkin dirampok. Sekalipun beberapa orang berpikir bahwa itu mungkin, maka pada saat hal itu berhasil dirampok, maka yang merampok tidak akan setara dengan Allah. Dia lebih besar daripada Allah yang berhasil dia rampok.

Seandainya pun kita memaksakan arti kata arpagmos sebagai perampokan, maka hal itu tidak secara otomatis melemahkan keilahian Kristus. Hal ini tergantung pada pemahaman kita tentang fungsi participle huparcwn (“berada”) di ayat 6a. Terjemahan “yang walaupun berada dalam rupa Allah” (LAI:TB/NASB/RSV) mengasumsikan bahwa participle huparcwn adalah concessive participle. Jika kita memahami huparcwn sebagai causative participle (menunjukkan sebab/alasan), maka ayat 6a akan memiliki arti “yang karena berada dalam rupa Allah”.[15] Jika fungsi participle yang terakhir ini tepat, maka ayat 6a menjelaskan mengapa Kristus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai “sesuatu yang tidak perlu dirampok”, yaitu karena Kristus sudah memiliki hal tersebut. Dengan kata lain, karena Kristus berada dalam rupa Allah, maka Dia tidak perlu merampok hal itu.[16]

Bantahan kedua yang sering diajukan untuk menetang keilahian Yesus di Filipi 2:6 adalah dari pertimbangan konteks. Filipi 2:6-11 berbicara tentang pra-inkarnasi Kristus (ay. 6), inkarnasi (ay. 7-8) dan pemuliaan Kristus (ay. 9-11). Jika sebelum inkarnasi Kristus sudah mulia (setara dengan Allah), maka pemuliaan di ayat 9-11 menjadi tidak berguna. Otoritas dan kemuliaan Kristus di atas segala sesuatu merupakan hasil ketaatan-Nya di kayu salib, bukan sesuatu yang secara esensial Dia miliki.

Untuk meresponi bantahan ini kita perlu melihat ajaran Alkitab secara keseluruhan lebih dahulu. Apakah otoritas Kristus atas segala sesuatu dimiliki-Nya oleh Kristus sebelum atau sesudah kebangkitan-Nya? Dua-duanya benar. Di satu sisi Alkitab mencatat dengan jelas bahwa sebelum kematian dan kebangkitan Kristus, Dia sudah memiliki otoritas atas segala sesuatu.[17] Dia menciptakan segala sesuatu (Yoh. 1:3; Kol. 1:16) dan menopang semuanya itu (Kol. 1:17). Selama inkarnasi Dia memiliki otoritas atas alam (Mat. 8:26), penyakit (Mat. 4:23; 9:35), kematian (Yoh. 11) dan hukum Allah (Mat. 5:17-48). Di sisi lain Alkitab juga menuliskan tentang otoritas Yesus yang Dia terima setelah kematian dan kebangkitan-Nya. Dia dinyatakan sebagai Anak Allah yang penuh kuasa melalui kebangkitan-Nya (Rm. 1:4). Segala otoritas di surga dan di bumi telah diserahkan kepada-Nya (Mat. 28:18).

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa membicarakan kemuliaan Kristus sebelum dan sesudah inkarnasi-Nya bukanlah dua hal yang asing bagi para penulis Alkitab. Mereka mengakui dua aspek kemuliaan ini. Kemuliaan yang pertama berkaitan dengan Yesus Kristus dalam keilahian-Nya sebelum inkarnasi (Filipi 2:6), sedangkan kemuliaan yang kedua mencakup keilahian dan kemanusiaan-Nya sebagai Mesias yang menderita dan dimuliakan (Filipi 2:9-11). Penjelasan ini tidak berarti ada dua jenis kemuliaan yang berbeda. Kita tidak boleh melupakan bahwa Pribadi yang sedang dibicarakan di ayat 6-11 adalah Pribadi yang sama, walaupun ada perubahan (penambahan) hakekat selama inkarnasi. #


________________________________________
[1] Behm, “morfh”, TDNT Vol. IV, ed., G. Kittel, 745.
[2] Ibid., 750.
[3] Lihat Ralph P. Martin, Carmen Christi (Cambridge: University Press, 1967), 108-109; Behm, “morfh”, 751.
[4] Robert B. Strimple, “Philippians 2:5-11 in Recent Studies: Some Exegetical Studies”, WTJ 41 (1979), 261.
[5] Robert L. Reymond, Jesus: Divine Messiah (Ross-shire: Christian Focus Publication/Mentor, 2002), 447.
[6] Ibid.
[7] Ibid., 448.
[8] Ibid., 448; Gerald F. Hawthrone, Philippians, WBC 43 (Waco: Word, 1983), electronic edition.
[9] Hawthrone, ibid.
[10] J. B. Lightfoot, Saint Paul’s Epistle to the Philippians (Grand Rapids: Zondervan, 1953), 110; Hawthrone, ibid.; Reymond, Jesus: Divine Messiah, 448-449.
[11] Hawthrone, ibid.
[12] Strimple, “Philippians 2:5-11 in Recent Studies: Some Exegetical Studies”, 263-264; untuk mengetahui berbagai tulisan Yunani di luar Alkitab yang memakai ungkapan seperti ini, lihat BAGD, 108.
[13] William Hendriksen, A Commentary on the Epistle to the Philippians, GSC (London: Banner of Truth Trust, 1962), 129, note 87.
[14] BAGD, 108.
[15] Hawthrone, ibid.
[16] Secara tata bahasa fungsi participle seperti ini memang dapat dibenarkan. Bagaimanapun, hal ini tampaknya kurang mendapat dukungan dari teks. Paulus sedang mengajarkan kerendahhatian, sedangkan penafsiran seperti ini tidak terlalu jelas menampilkan kerendahhatian Kristus.
[17] Reymond, Jesus: Divine Messiah, 453.





Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?DOC-TRITUNGGAL-15





Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita."
(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)

Tidak ada komentar: