Jumat, 24 September 2010

MASALAH DALAM MASALAH KEJAHATAN

MASALAH DALAM MASALAH KEJAHATAN

oleh: Ev. Perdian K. M. Tumanan, S.T., M.Div.




PENDAHULUAN
Ada kisah unik yang penulis dapatkan dari sebuah wawancara stasiun televisi CNN dengan sepasang suami-istri yang terhindar dari penawanan teroris di sebuah hotel yang dibajak teroris di kota Mumbai, India 26-29 November 2008. Peristiwa ini sendiri menewaskan 173 orang dan menyebabkan 308 orang luka-luka. Suami-istri ini berhasil bersembunyi di kamar dan melihat para teroris dari celah pintu. Yang terkesan konyol dan menggelikan dari keterangan mereka adalah mereka mengatakan bahwa para teroris tersebut tidak berkumis atau terlihat jahat. Salah seorang saksi mata lain yang lolos dari penyanderaan mengungkapkan kepada CNN sosok teroris yang ia lihat di lokasi dengan mimik yang masih terheran-heran, “Dia mungkin berusia sekitar 22 tahun, berpenampilan bersih, berambut pendek, sepertinya orang yang terdidik, dan menurut saya tidak seperti model teroris . . . [radikal] biasanya.”1

Penulis juga tidak lupa tentang sebuah pengalaman yang pernah diceritakan oleh seorang adik Kelompok Tumbuh Bersama, bagaimana ia sangat gugup dan takut ketika di bis kota duduk bersebelahan dengan seorang berpakaian putih-panjang, bersorban, berjanggut lebat dan menenteng sebuah tas besar. Pikiran liarnya mengimajinasikan jangan-jangan tas besar itu berisi “sajam” (senjata-senjata tajam) atau mungkin Uzi, AK-47, M-16, Revolver dan pistol semi-automatic. Memang saat itu sedang hangat-hangatnya berita tentang kerusuhan Ambon dan Poso yang memakan korban ribuan orang.


MASALAH KEJAHATAN MENURUT DUNIA: MASALAH DENGAN “DIA”
Suka tidak suka, tampaknya ini adalah pandangan umum masyarakat dan dunia tentang kejahatan dan orang jahat. Kejahatan disempitkan menjadi soal kelompok ini atau kelompok itu; tipikal orang seperti ini atau seperti itu. Ornamen-ornamen atau simbol-simbol tertentu yang melekat pada seseorang langsung ditendensikan sebagai simbol dari kejahatan.2 Tentu, bukan hanya orang yang berkumis lebat, berjanggut tebal, atau bersorban yang akan mendapat penilaian a priori yang subjektif (sebagai teroris), tapi tato, tindik, berambut gondrong atau bermodel Mohawk dapat juga menjadi dasar profil soal baik jahatnya seseorang (tidak heran kita mudah tertipu dengan sosok Suharto, the smiling general, yang tidak berkumis, berjanggut apalagi bertato dan bertindik, yang menjadi diktator selama 32 tahun telah membantai dan menghilangkan begitu banyak orang). Wajar kalau semestinya kita menyebut zaman ini (seperti ujaran seorang teman penulis) zaman “casing”karena terlalu mudah tertipu oleh penampilan lahiriah seseorang.

Ini pula yang didengungkan sebagai tesis awal Miroslav Volf, pakar eklesiologi, saat mengeritik keberadaan gereja di tengah-tengah budaya dunia yang jahat. Alih-alih memberikan budaya alternatif dalam memerangi kejahatan serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian dunia, “Our coziness with the surrounding culture has made us so blind to many of its evils that, instead of calling them into question, we offer our own versions of them—in God's name and with a good conscience. Those who refuse to be party to our mimicry we brand sectarians.”3 Bahkan hal ironis yang dikatakannya, mengutip Peter Berger, dalam lingkungan Kekristenan sendiri masih terdapat kebencian, kecurigaan dan permusuhan, “Still today, many black Baptists or Methodists feel closer to black Muslims than to their white fellow Christians.”4 Bukannya menjadi part of the solution, gereja makin dalam terbenam dalam part of the problem.5 Akar dari masalah ini—mengutip Ralph Premdas, seorang Guru Besar bidang kebijakan publik di University of West Indies, Trinidad—Volf melanjutkan, “... interlocking relations of church and cultural section which spill into partisan politics marked by the mobilization of collective hate and cultivated bigotry. Along with their parishioners the clergy are often “trapped within the claims of their own ethnic or cultural community”and thus serve as “legitimators of ethnic conflict” their genuine desire to take seriously the Gospel call to the ministry of reconciliation notwithstanding.”6

Bukannya keluar dari dilema dunia, sebaliknya gereja menautkan dirinya dengan budaya dunia dan membuatnya turut terjebak dalam sistem kultur yang bersifat prejudice dan penuh kecurigaan terhadap kultur lain. Parahnya lagi, pertautan gereja-budaya ini menghasilkan tindakan “rohanisasi” atau “sakralisasi” (pembenaran) terhadap keunggulan identitas kultur komunitas “saya”dan pengabaian serta kecurigaan terhadap kultur lain.7 Kebenaran-kebenaran kristiani dianggap identik dengan kultur, nilai, dan identitas komunitas “saya.” Secara tidak langsung nilai, kultur, dan identitas kultur “lain” pun akan serta-merta atau perlahan namun pasti, dianggap sebagai kejahatan (evil).8


MASALAH KEJAHATAN MENURUT ALKITAB: MASALAH KITA SEMUA
Menurut penulis, sebelum melihat lebih jauh apa yang Alkitab katakana tentang masalah kejahatan, mungkin penulis perlu memberi sedikit kritik kepada theologi Kristen masa kini yang cenderung memandang persoalan kejahatan ini semata berkaitan dengan soal filsafat dan logika berpikir dan kurang berkaitan dengan kehidupan praktis.9 Akibatnya, masalah kejahatan hanya dianggap sebagai the battle of the mind, bukan the battle of the real life. Penilaian a priori penulis berdasar pada kecenderungan dimasukkannya pokok problem kejahatan ini dalam ranah filsafat ke-Tuhanan (atau filsafat agama) dan sama sekali tidak melibatkan theologi pastoral di dalamnya. Sebenarnya, ilmu khusus yang membahas problem ini, theodicy (berasal dari dua kata theos, Tuhan, dan dike, yang berarti keadilan), dicetuskan pertama kali oleh seorang filsuf Jerman, Gottfried Wilhem Leibniz lewat penerbitan bukunya Théodicée pada 1710 yang berisikan analisis-analisis filosofis.10 John Milbank, mengatakan bahwa:
Traditionally, in Greek, Christian and Jewish thought evil has been denied any positive foothold in being. It has not been seen as a real force or quality , but as the absence of force and quality, and as the privation of being itself. It has not been regarded as glamorous, but as sterile; never as more, always as less.11

Para bapa gereja sendiri, yang hidup di abad pertama sebagai pewaris ajaran para rasul, tidak pernah melihat masalah kejahatan semata-mata bicara soal problem filosofis. Mereka melihat kejahatan sebagai sesuatu yang konkret. Contohnya, Clement dari Roma (30-100 M), dalam surat pertamanya kepada jemaat Korintus, mengaitkan kejahatan dengan soal iri hati (envy) yang sudah mengakibatkan begitu banyaknya kisah-kisah tragis dan ironis dalam sejarah umat manusia. Misalnya, pembunuhan Kain terhadap Habel atau Yusuf dibuang dan dijual sendiri oleh saudarasaudaranya.

Ignatius (30-107 M), seorang bapa gereja yang bersama Polikarpus merupakan murid dari rasul Yohanes, mengatakan dalam suratnya kepada jemaat di Smirna bahwa perpecahan merupakan asal mula segala kejahatan, “... avoid all divisions, as the beginning of evils.”12 Menurut hemat penulis, Alkitab menempatkan masalah kejahatan secara tepat. Alkitab tidak menempatkan masalah kejahatan sebagai sebuah problem logika bernalar saja. Alkitab lebih jauh menempatkan masalah kejahatan sebagai sebuah kekuatan yang maha dashyat dan nyata, bukan sekadar konsep yang dapat hilang hanya melalui diskusi-diskusi ilmiah kelas kuliah filsafat agama, seminar-seminar doktrinal, atau ceramah-ceramah theologi.13 Ini bukan masalah yang hanya ditemukan dalam ruang-ruang kuliah dan yang serta-merta dapat diselesaikan tatkala kita sanggup menemukan premis-premis logis sambil menyusun rumusan analogi yang tepat darinya. Masalah kejahatan adalah masalah semua orang dan semua kelompok masyarakat tanpa pandang tingkat pendidikan, status sosial, tingkat ekonomi, kelompok umur, dan asal usul suku-bangsa. Ia bisa datang ke dalam kehidupan nyata siapa saja secara tiba-tiba dan di luar prediksi ahli filsafat dan ahli theologi mana pun.

Bagi orang yang dikenai langsung kejahatan itu, penulis yakin tidak akan ada pembelaan filosofis sebagus apa pun yang dapat menghilangkan kepedihannya dengan serta-merta. Penulis yakin pula bahwa kita dapat berargumentasi secara filsafat-theologis soal kejahatan karena kita bukanlah korban ( victim) dari kejahatan tersebut dan karena kita berada dalam, “a safe cognitive and emotional remove,”istilah Samuel Joeckel, seorang pakar literatur-literatur sastra Inggris abad 18.”14 Daniel Howard Snyder, profesor filsafat di Western Washington University, demi melihat tidak mudahnya masalah kejahatan ini, kemudian membagi masalah kejahatan ini dalam dua ranah: practical problem of evil dan theoritical problem of evil.15 Bahkan ia meminta maaf kepada pembacanya yang mungkin akan kecewa karena fokusnya yang lebih kepada persoalan-persoalan teoritis, “I am in sympathy with them. After all, evil and suffering are too real to be dealt with on a merely theoretical level. ...”16

Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud Alkitab dengan problem kejahatan? Apa kaitannya hal ini dengan Allah? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita melihat dulu konsep “baik”menurut Alkitab sebagai antitesis dari masalah kejahatan.

Bagi Alkitab, kebaikan tidak sekadar soal kebaikan dalam perspektif moral saja. Dalam Kitab Kejadian pasal 1 jelas disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi ini, “... sungguh amat baik.” Saya tertarik dengan terjemahan New Living Translation (NLT), “... and he saw that it was excellent in every way.” Penulis setuju dengan tafsiran Gordon J. Wenham yang pada bagian ini mengatakan bahwa ungkapan “sungguh amat baik”ini mewakili kesempurnaan karya final Allah.17 “Final” di sini tentu dalam pengertian semesta secara utuh, langit bumi dan segala isinya, tidak hanya untuk manusia saja. Berikutnya, Allah melihat semua ini “sungguh amat baik,” karena penciptaan ini mewakili antusiasme Allah dalam mencipta dan menikmati ciptaan-Nya. Tentu saja semuanya sempurna karena seluruh karya cipta Allah yang sangat indah, harmonis, dan menyatu dengan begitu mengagumkannya ini, bagi Allah telah merepresentasikan sifat dan kemuliaan yang luar biasa dari Dia, Sang Pencipta. Dengan demikian, ungkapan “baiknya” ciptaan di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kesepadanan ciptaan dengan maksud dan tujuan Allah, Penciptanya.

Beberapa ayat di Alkitab jelas menunjukkan bahwa kebaikan merupakan salah satu karakter Allah yang penting. Bahkan Alkitab tegas menyatakan bahwa hanya Allah sumber kebaikan (Mzm. 147:1; Mat. 19:17; Mrk. 10:18). Dengan demikian, semesta ini dan manusia sebagai gambar dan rupa Allah hanya akan menjadi baik tatkala ia lekat-erat, berpaut tanpa lepas dari tujuan dan mandat mula-mula yang sudah ditetapkan Allah atasnya. Ini pula yang menjadi maksud Alkitab tatkala memberikan komentar repetitif dalam setiap fase penciptaan, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21, 25) dan diakhiri dengan ungkapan superlatif “sungguh amat baik”sebagai klimaks setelah menuntaskannya (1:31).

Karena itu, tidak mengherankan jika di dalam Alkitab kebaikan sering dikaitkan dengan pengenalan akan Allah (Mzm. 14:1; 53:2; 147:11). Kebaikan Allah akan berbuah kehidupan, sukacita, damai sejahtera, dan hidup baru. Konsekuensi logisnya tentu sudah bisa ditebak. Kejahatan adalah segala sesuatu yang bersifat merusak, menghambat, dan menghancurkan tujuan dan makna mula-mula Allah dalam mencipta semesta ini. N. T. Wright memberikan definisi tentang kejahatan demikian: “Evil is the force of anti-creation, anti-life, the force which opposes and seeks to deface and destroy God’s good world of space, time and matter, and above all God’s image-bearing human creatures.”18 Sesuatu yang anti-Allah! Kejahatan adalah segala sesuatu yang berupaya menjauhkan manusia dari rencana Allah yang menghidupkan. Taman Eden atau Firdaus (Yun. paradeisos), menurut penulis, dapat menjadi tempat awal bertanya dan merenung apa arti kejahatan. Dari informasi Alkitab diketahui bahwa di taman itu ditempatkan dua pohon yang punya makna penting: pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Selama ini, orang banyak hanya tahu satu pohon yakni yang kedua saja, pohon yang memiliki buah menggoda yang menyebabkan kejatuhan Adam dan Hawa.

Dalam perkembangan theologisnya, bagi orang-orang Yahudi “pohon” mengandung makna simbolisme yang penting. Pohon sering diibaratkan sebagai lambang dari kehidupan (Mzm. 1:3; Ams. 3:18; 11:30; 13:12; 15:4; Yer. 17:8; Yeh. 47:12; Why. 2:7).19 Yang menarik, Alkitab Kristen diawali dan diakhiri oleh kisah simbolisme tentang pohon kehidupan. Dalam Kejadian 2:9, Allah menciptakan pohon kehidupan dan di Wahyu 22:2 dalam langit baru dan bumi yang baru terdapat pohon-pohon kehidupan yang daunnya dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa; sebuah symbol pemulihan, restorasi dan rekonsiliasi universal yang sempurna pada masa eskatologi.

Dalam Yeremia 11:16-17, 19, penghancuran kepada pohon merupakan simbol dari penghukuman atau bahaya yang mengancam kehidupan (bdk. Yeh. 20:47). Bahkan, ornamen penting dalam ibadah Bait Allah, kandil atau kaki dian yang memiliki sebuah batang di tengah, enam carang masing-masing tiga di sebelah kanan dan tiga di sebelah kiri dan pada ujungnya terdapat tangkup berbentuk “kelopak berupa bunga badam,” (Kel. 25:34) rupa-rupanya merupakan simbolisasi dari pohon kehidupan ini!20

Bagaimana dengan pohon paling kontroversial sepanjang sejarah umat manusia, “pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat?” Banyak teori yang dikemukakan berkaitan dengan pohon ini, tapi, seperti pohon kehidupan yang buahnya bisa dikenali dari namanya, maka pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat pun memiliki makna yang serupa. Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat membimbing manusia untuk mengetahui apa yang baik dan yang jahat. Mungkin ada yang bertanya, “Lho, ini ‘kan buah yang baik, sebab memberi ‘pengetahuan?’” Mengapa harus tidak boleh dimakan?” Sebelum menjawab makna buah ini, ada baiknya dilihat dulu konsep besar tentang “pengetahuan”menurut Alkitab, sesuai dengan nama buah ini.

Dalam PL, “pengetahuan” (atau “hikmat”; Ibr.: hokmah/hakal) lebih dari sekadar wawasan intelektual seperti yang dipahami sekarang, yang cenderung bersifat abstrak.21 Ia juga tidak sama dengan definisi “pengetahuan” (knowledge) yang ada dalam klasifikasi tingkatan intelektual versi Benjamin Bloom (taksonomi Bloom). Perjanjian Lama jelas melukiskan “pengetahuan” sebagai sebuah realitas hidup konkret yang lebih tepat diterjemahkan sebagai skill of living. Tidak heran jika dalam Amsal, hikmat dikaitkan dengan aspek-aspek praktis dalam hidup.22

Kemampuan skill of living itu tidak berasal dari manusia tapi dari Allah, dan hanya didapatkan tatkala seseorang takut akan Tuhan, tunduk mutlak dan terus berpaut pada Dia (Ams. 1:7).23 Apa yang diinginkan Adam dan Hawa lewat persetujuan mereka dengan pesan setan untuk mengambil dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat ini adalah kebalikan dari rumus ini. Mereka ingin mendapatkan “hikmat/pengetahuan”itu secara otonom: tanpa Allah dan di luar Allah.24 Bahkan, lewat kalimat redaksi godaan setan, kelihatannya mereka memang ingin mengudeta Allah sebagai sumber kebaikan dan menggantikannya dengan kebaikan versi mereka! Mereka merasa pengetahuan Allah tentang kebaikan bagi mereka, tidak lebih baik dari apa yang mereka pikirkan. Ya, yang terjadi adalah ciptaan merasa lebih (berpenge) tahu(an) tentang yang baik dan yang jahat dari Pencipta. John H. Sailhamer memaknai buah ini demikian, “It is . . . portrayed as a quest for wisdom and ‘ the good’ apart from God’ s provision.”25 Inilah kejahatan!

Dari sini dapat disimpulkan bahwa keliru besar jika terus-menerus mengasosiasikan kejahatan dengan kelompok-kelompok yang mengenakan simbol-simbol tertentu, apalagi langsung “menuduh”orang yang berkumis dan berjambang lebat sebagai (pembawa) masalah kejahatan. Kejahatan selalu berbicara soal hasrat untuk memperoleh pengetahuan tentang yang baik dan jahat secara otonom lepas dari Allah, sesuatu yang memang pada dasarnya ada dalam hati setiap orang sebagai potensi yang menunggu trigger-nya masing-masing.26 Masalah kejahatan berhubungan erat dengan masalah kemanusiaan. Kemanusiaan yang gambar ilahinya, yang mengandung kebaikan itu, sudah rusak sebab secara sengaja kita tidak mau lagi berpaut dengan maksud mula-mula Sang Pencipta. Masalah ini adalah masalah yang universal yang tidak pandang bulu.27 Masalah tidak hanya terjadi pada Ryan si “jagal dari Jombang,” atau trio Tengulun, teroris Mumbai, Al Qaeda, Hamas, dan kelompok Hezbollah. Bukankah Roma 3:23 jelas berkata, “Karena semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah?”28 Juga, bukankah Roma 3:12 dengan lantang mengingatkan, “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak?” Mengapa tidak ada yang berbuat baik? Karena, “Tidak ada seorangpun yang berakal budi [baca: berhikmat], tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm. 3:11).29 Saat manusia merasa lebih pintar mengatur dirinya dan dengan hikmatnya yang terbatas menggugat hikmat Sang Khalik, ingin berpisah dari-Nya, menyaingi-Nya bahkan mengkudeta-Nya sebagai satu-satunya yang patut berdaulat dalam segenap ciptaan dan yang punya pengetahuan tuntas tentang kebaikan ciptaan; di situ kejahatan mulai mengintip dan menebarkan pesonanya yang sangat mematikan.30 Bukankah problem kerusakan lingkungan hidup saat ini juga dikarenakan manusia sok pandai mengatur alam dengan eksploitasi gila-gilaan? Bukankah problem kelaparan dan kemiskinan dunia yang makin parah disebabkan sekelompok elit politik yang merasa lebih tahu mengatur negara dan dunia? Juga, bukankah (maaf) perpecahan gereja dan banyak lembaga Kristen yang sudah menjadi masalah klasik, terjadi karena ada orang-orang yang sudah merasa menjadi pemilik pelayanan dan lupa siapa Pemilik sebenarnya? Apakah masalah kejahatan juga bisa terjadi dengan kita? O, tentu saja! Sudah lupakah kita dengan pengkhianat-pengkhianat iman model Kain, Akhan, Gehazi, Bileam, Yudas, dan Demas?

Memang benar, setan (Ibr.: si penuduh) adalah musuh terbesar dan perancang kejahatan yang harus ditaklukkan (bdk. Ayb. 1-2; Dan. 10:13, 20; Ef. 6:11-12), tetapi ia tidak akan berdaya seandainya manusia tidak sok pandai, merasa lebih tahu tentang mana yang baik dan yang jahat, melainkan sebaliknya rela terus-menerus mempautkan dan menundukkan hidupnya kepada sumber kebaikan yang sejati, TUHAN Allah (Yak. 4:7; bdk. Ams. 3:34).


SOLUSI ALLAH TERHADAP KEJAHATAN: MENJADI MANUSIA YANG TAAT
Telah disebut di atas bahwa masalah kejahatan adalah masalah nyata kehidupan, bukan sekadar soal filsafat. Selain itu, telah diuraikan pula bahwa akar problem kejahatan berhubungan dengan masalah prinsipil kemanusia kita yang telah melenceng dan tidak lagi sesuai dengan blue print Allah. Ini pula yang menjadi dasar Allah bertindak dalam menghancurkan kejahatan. Allah tidak menyelesaikan masalah kejahatan dunia dengan menggelar seminar, kuliah, atau ceramah tentang masalah kejahatan dan menyusun premis-premis valid untuk meyakinkan para penentangnya (kaum ateis) bahwa terlepas dari masalah kejahatan yang ada di dunia Ia tetap eksis. Ia bertindak secara konkret. Ini yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus dalam kelahiran, pekerjaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

Di dalam karya-Nya, Kristus sebagai Allah sejati menjadikan dirinya sebagai model kemanusiaan yang sejati; kemanusiaan yang hanya benar-benar menjadi manusia tatkala berpaut mutlak kepada Bapa dan kehendak-Nya, sebab hanya manusia sejati yang sempurna di dalam Allah saja yang sanggup menjalankan mandat ilahi untuk mengusahakan dan menguasai bumi sesuai dengan maksud kebaikan Allah.31 Hal tersebut terlihat jelas tatkala dalam injil dikisahkan kehidupan doa Yesus (Mat. 14:23; 26:36; Mrk. 14:32; Luk. 3:21; 6:12; 9:18, 28; 11:1; 18:1), kehidupan dengan firman Tuhan (Mat. 21:42; 22:29; Luk. 2:46-47; 4:1-13, 17), indikator yang memperlihatkan bagaimana Yesus, walaupun adalah Oknum kedua dari Allah Tritunggal, tetap menunjukkan kepatuhannya kepada Bapa yang mengutus-Nya. Penulis yakin itu pula yang membuat dalam peristiwa pembaptisan Bapa berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan,” (Mat. 3:17) dan yang dalam transfigurasi kemudian ditambahkan, “. . . dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5).

Yesus berbeda dengan Adam. Kalau Adam merasa sok berhikmat dan ingin menyaingi bahkan mengkudeta Allah, maka Yesus sebaliknya. Sebagai Allah, Ia taat bulat-mutlak, tak tergoyahkan bahkan di tengah-tengah ancaman yang paling mematikan sekalipun, tidak sedikit pun terbersit niat untuk playing God (Rm. 5:12-21). Ia bahkan sengaja membiarkan diri-Nya ditimpa kejahatan yang paling jahat sekalipun, supaya Ia dapat merasakan pedih yang dunia rasakan sebab hanya dengan cara itu Ia sempurna menjadi Imam di hadapan Allah (Ibr. 4:15). Di sini, Yesus menghancurkan segala kejahatan dan mengembalikan segenap ciptaan untuk berpaut kepada pencipta-Nya. Bukan dengan kekuatan militer model Amerika yang suka labeling (memberi julukan-julukan) the axis of evil kepada bangsa yang dianggap mengancam keberadaan eksistensinya dan mengambil posisi sebagai world police, tetapi dengan pengorbanan eksistensi diri dan ketaatan untuk terus melekat kepada Bapa.

Itu yang diingatkan Paulus lewat Roma 12:17-21. Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan tidak sebatas bicara soal menciptakan sebuah tatanan kaidah moral-etis, melainkan menggambarkan sebuah cita-cita kreasionis yang berujung pada kepenuhan eskatologis untuk mengembalikan seluruh ciptaan ini kepada Allah sebagai sumber kebaikan dan kepada kodrat mula-mula yang memang telah Allah untuk ciptaan-Nya yang, “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Itu sebabnya mengapa dengan sangat lantang dan tanpa bosan-bosannya Paulus menghimbau gereja lewat surat-suratnya sebagai umat yang telah dibarui Allah terus mengingat bahwa di tengah-tengah dunia yang sulit dan jahat ini mereka dipanggil untuk hidup sesuai dengan panggilan ilahinya (baca: kodrat mula-mula) dan tidak hidup dalam cara hidup dunia. “Sebab itu jadilah penurutpenurut [peniru-peniru] Allah, seperti anak-anak yang kekasih” (Ef. 5:1; Rm. 8:29; 12:2; 2Kor. 3:18; Fil. 3:10).

Hanya lewat orang-orang yang serupa seperti Dia dan senantiasa berpaut kepada Allah sebagai sumber kebaikan itu dunia yang sudah sangat jahat ini masih punya harapan baru; harapan yang membuat orang percaya tidak akan pernah berhenti untuk melayani, mempersembahkan hidup dan secara total melayani Allah. Harapan yang membuat orang percaya tidak pernah skeptis dan apatis untuk melihat dan mengasihi dunia ciptaan Allah ini beserta segala isinya melainkan dengan hati yang terus terbakar oleh kasih-Nya hadir semangat untuk hidup dalam kekudusan yang radikal; harapan yang tetap membuat orang percaya yakin bahwa Allah yang sama yang menciptakan semua ini tetap mengasihi dan merindukan-Nya untuk kembali memuliakan Dia (Yoh. 3:16).

Harapan itu tentu tidak sia-sia sebab orang Kristen tidak bekerja sendirian. Kristus yang telah mengalahkan kejahatan (Yoh. 16:33) itu dengan segala kuasa yang dimiliki-Nya berjanji untuk menyertai mereka (Mat. 28:19-20) dan Roh Kudus sebagai penasihat telah dicurahkan untuk membuat orang Kristen kuat menjalankan tugas berat demi menggiring dunia kembali menyembah kepada Dia, sumber kebaikan itu (Rm. 5:5; 15:13; 2Kor. 1:22; Ef. 1:14).

Rumus “perubahan” yang diberikan oleh Wright saat ia memberikan seminar di Persekutuan Kampus Universitas Harvard, yang turut disponsori oleh InterVarsity Christian Fellowship (Perkantas Amerika Serikat) baru-baru ini di hadapan sekitar 1000 mahasiswa mengatakan, “Hope plus you, a human being renewed by God, equals change,”32 Ya, dunia masih punya harapan keselamatan jika mereka yang telah dibarui ini mau, rela dan bersedia dengan pimpinan Tuhan memberikan hidup dan hadir di tempat-tempat kejahatan bertakhta. Mereka harus punya semangat seperti yang dikemukakan Wright, “that the whole world is now God's holy land, we must not rest as long as that land is spoiled and defaced.”33 Bukankah bumi dan segala isinya memang diciptakan untuk memuji-muji Allah (Mzm. 19:1-7; 47:1; 66:1-4; 98:7-8; 100; Yes. 6:3; 12:5) dan segala suku bangsa untuk menyembah Dia (Mzm. 67).

Pertanyaanya, di mana orang-orang Kristen pada saat kejahatan bencana kelaparan pertempuran saudara terjadi merajalela di seantero bumi; pada saat tingkat kriminalitas makin tinggi; pada saat jurang antara si kaya dan si miskin makin lebar;34 pada saat banyak “TKW” kita dibantai di luar negeri karena sulit mencari lapangan kerja di dalam negeri? Di mana orang-orang Kristen pada saat makin banyak orang yang kehilangan kasih, dan hidup dalam keputusasaan? Inilah perjuangan kita! Ini adalah pertempuran yang “tidak melawan darah dan daging,”pertempuran yang “melawan penguasa-penguasa kegelapan di udara,”melawan si penuduh yang memang sejak dunia diciptakan selalu berupaya meyakinkan umat manusia bahwa rencana Allah dengan menciptakan dunia dengan segala isinya ini bukan rencana yang baik.35


KESIMPULAN
Segenap gereja Tuhan harus bersatu padu, bergerak bersama melihat visi inkarnasi Kristus ini, dan berdiri paling depan menghadapi krisis. Orang-orang Kristen perlu banyak berdoa memohon hikmat-Nya dan Roh-Nya agar diberi pencerahan memikirkan akar masalah dan mengambil langkah-langkah bersama yang strategis. Kalau di atas telah disebut bahwa masalah kejahatan tidak akan berakhir hanya dengan kuliah-kuliah filsafat agama, ceramah, dan seminar, maka satu-satunya cara menghentikan kejahatan adalah dengan hadirnya orang-orang yang telah dibarui Allah dalam situasi konkret dan melakukan aksi-aksi yang konkret pula, seperti Yesus, Tuhan dan Allah.



Catatan Kaki:
1. “He is probably 22 years old, clean cut, short hair looked, like a smart young guy, not like typical . . . [radical] terrorist I supposed.”
2. Sikap curiga ini yang juga tampaknya menjadi dasar pelarangan pemakaian jilbab di sekolah dan universitas umum di negara-negara Eropa seperti Jerman, Denmark dan Perancis khususnya paska serangan 9/11. Salah satu tokoh yang pro terhadap pelarangan jilbab ini adalah Daniel Pipes, direktur forum Timur Tengah yang juga mengajar di Universitas Stanford. Ia mengklaim bahwa website-nya adalah sumber yang paling banyak diakses berkaitan dengan Timur Tengah dan Islam. Dalam analisisnya terhadap perbedaan kebijakan politik Perancis dan Inggris terhadap Islam, ia mengungkapkan bahwa pemerintah Perancis lebih tegas terhadap masalah terorisme daripada Inggris; misalnya lewat kebijakan anti jilbab di sekolah-sekolah umum dan universitas (lih. “Britain and France,” http://www.danielpipes.org/2765/britain-andfrance; diakses 8 September 2009). Sebenarnya, bagi kalangan perempuan muslim sendiri ada banyak alasan untuk memakai jilbab. Jetti R. Hadi, editor umum majalah Noor, sebuah majalah yang secara khusus membahas fashion Muslim, saat diwawancarai, mengatakan, “ If you ask 10 different women why they’re wearing jilbab, you’ll get 10 different answers” (“Why Wearing the Jilbab Has Become a Burning Poll Issue,” http://www.mail-archive.com/keluarga-sejahtera@yahoogroups.com/ msg05862.html; di-akses 8 September 2009). Tentu ini menegaskan kepada kalangan yang cenderung mudah curiga, untuk tidak cepat mengasumsikan atau menyamakan jilbab sebagai simbol terorisme.
3. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation (Nashville: Abingdon, 1996), hlm. 36.
4. Ibid.
5. Volf mengatakan, “The overriding commitment to their culture serves churches worst in situations of conflict. Churches, the presumed agents of reconciliation, are at best impotent and at worst accomplices in the strife” (ibid).
6. Ibid., hlm. 37.
7. Ibid.
8. Brian D. Mclaren mengeritik bentuk ortodoksi masa kini yang cenderung menyempitan makna ortodoksi sekadar, “‘what we think’ [right] as opposed to ‘what they think’ [false].” Pandangan ini pada akhirnya bukan hanya berpengaruh pada cara kita melihat tradisi Kekristenan lain tapi juga cara melihat agama lain secara tidak Alkitabiah. Ia menawarkan sebuah bentuk ortodoksi baru yang disebutnya Generous Orthodoxy yang punya karakteristik, “... while never pitching its tent in the valley of relativism, nevertheless seeks to see members of other religions and non-religions not as enemies but as beloved neighbors, and whenever possible, as dialogue partners and even collaborators” (A Generous Orthodoxy [Grand Rapids: Zondervan, 2004], hlm. 28, 35 [penekanan oleh penulis]).
9. W. Gary Crampton—mengutip pandangan filsuf Kristen Ronald Nash—mengatakan bahwa “tantangan paling serius terhadap pandangan teisme dari dulu, sekarang bahkan sampai seterusnya adalah masalah kejahatan.” Mengutip pandangan David E. Trueblood, Crampton juga mengatakan bahwa batu sandungan kejahatan dan penderitaan yang terus ada di dalam dunia adalah “fakta bagi kaum ateis” (“A Biblical Theodicy: God & Evil,” http://gospelpedlar.com/articles/God/god_evil.html; diakses 8 September 2009).
10. Beberapa pertanyaan filosofis-theologis yang diperdebatkan para theolog dan filsuf seputar problem kejahatan ini biasanya mengacu kepada premis-premis: Jika berdasarkan Alkitab, Allah yang adalah mahakuasa dan penuh kasih, dalam kekekalan telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi, dan jika Ia dengan kedaulatan-Nya dan pemeliharaan-Nya mengontrol segala sesuatu dalam semesta cipta-Nya, bagaimana mungkin Ia bukanlah pencipta kejahatan? Bagaimana kejahatan dapat ada di dunia? Bagaimana kita membenarkan tindakan Allah yang menyebabkan kejahatan, penderitaan, dan kepahitan? Pada umumnya para theolog mengelompokkan masalah kejahatan dalam dua ranah: masalah kejahatan moral (moral problem of evil) dan masalah kejahatan alam ( natural problem of evil). Namun tampaknya kurang tepat mengaitkan peristiwa bencana alam dalam ranah theologi. Karena itu, dalam artikel ini penulis sama sekali tidak menyinggung soal natural problem of evil dan penulis cenderung mengerucutkan problem of evil, strictly kepada moral problem of evil. Penulis berterima kasih kepada sahabat penulis Jonatan Lassa, Ph.D. (cand.), seorang Junior Researcher pada Center for Development Research (ZEF) di Universitas Bonn, Jerman, yang memberikan pencerahan pada penulis lewat diskusi pribadi. Ia merasa aneh kalau urusan bencana alam dikaitkan dengan bidang theologi. Ia bahkan dengan tegas mengatakan, “Pemahaman tentang bencana dalam kalangan Kristen, sudah lama masuk dalam debat the problem of evil dengan monopoli argumentasi theologis tapi minim inspirasi dari science kebencanaan. Sebagai misal, gempa kerap dianggap sebagai bencana ketimbang sebuah peristiwa geologis yang normal. Kehilangan dalam wujud material, nyawa dan non/i-material yang kemudian dimaknai manusia sebagai bencana atau bahkan sebuah loncatan pemaknaan yang akrab bagi kaum beragama, ‘kutukan Tuhan.’ Dalam konteks masyarakat dengan sistem yang korup, menyalahkan alam dan Tuhan, memberikan keuntungan politis tersendiri ketimbang mengakui kegagalan-kegagalan dalam memiliki perencanaan/pelaksanaan tata ruang dan tata bangunan (built environment) yang lebih baik” (“Mengurai Bencana dalam Perspektif Theologis, Mungkinkah?,” Disciples [Juli-Agustus 2008], hlm. 33). Ben Witherington III mengatakannya dengan lebih sederhana, “Natural disasters are only natural disasters when they affect the life of higher sentient beings adversely. Over two thirds of the world is water, and indeed close to half the world is uninhabited. Had this hurricane happened on a remote Pacific atoll, we would not even be talking about it” (“Natural Disasters and the Problem of Evil,” http://jabouma.blogspot.com/2008/04/naturaldisasters-and-problem-of-evil.html; diakses 6 Oktober 2009 [penekanan oleh penulis]). Karena itulah penulis lebih suka menerjemahkan “natural” dalam frase “natural disaster” sebagai ajektiva menjadi “bencana alamiah” [yang sewajarnya/kodratnya/sepantasnya terjadi] daripada “bencana alam” [alam yang membuat bencana]. Natural problem of evil pada intinya harus kembali dikaitkan dengan moral problem of evil.
11. Being Reconciled: Ontology and Pardon (London: Routledge, 2003), hlm. 1 [penekanan oleh penulis].
12. Roberts, Donaldson, dan F. Crombie, trans., Ante-Nicene Christian Library: the Writings of the Apostolic Fathers (Edinburg: T&T Clark, 1866) 248 dari http://books.google.co.id/books?id=TcEUAAAAQAAJ&pg=PA207&dq=%22The+Writings+of+the+Apostolic+Fathers&hl=id#v=onepage&q=&f=false; diakses 27 Oktober 2009.
13. Chris Rice dan Emmanuel Katongole mengatakan, “We live in a broken world. Start the day with the newspaper or start it with a quiet time, you’ll soon come face to face with the sin that separates us from God and puts up walls between people. The brokenness of our world is more than a point of Christian doctrine. It is a reality that shapes our daily lives” ( Reconciling All Things: A Christian Vision for Justice, Peace and Healing [Downers Grove: InterVarsity, 2008] 21 [penekanan oleh penulis]).
14. “Localizing the Problem of Evil: William Cowper and the Poetics of Perspectivalism,” http://www. quodlibet.net/joeckel-evil.shtml; diakses 8 September 2009.
15. Ibid.
16. Ibid.
17. Genesis 1-15 (WBC; Dallas: Word, 1987), hlm. 35.
18. Evil and the Justice of God (Downers Grove: InterVarsity, 2006), hlm. 89.
19. Orang Yahudi punya perayaan khusus untuk merayakan “Tahun Baru Pohon” (New Year for Tree atau biasa disebut Tu Bishvat) pada hari ke lima belas bulan Syebat (antara pertengahan Januari-pertengahan Februari). Ini karena pohon punya makna yang khusus di hati orang Yahudi. Ada banyak makna pohon bagi orang mereka, baik metaforis maupun literal. Namun semuanya mengarah kepada makna kehidupan. Bagi orang mereka pohon kehidupan mengingatkan mereka terhadap Allah dan kekudusan-Nya. Dalam liturgi ibadah Taurat terdapat frasa yang sangat familiar bagi mereka, “She is a tree of life to those who grasp it, and whoever holds on to her is happy.” Di sini pohon kehidupan adalah gambaran untuk Taurat (bdk. dengan kalimat Miriam Chaikin, “Jews call the Torah Scroll a ‘tree of life.’ They believe the study of the Torah leads to good deeds, and good deeds lead to a good life. In prayers, that thought is encapsulated in the phrase It is a tree of life to those who cling to it, and all its paths are peace” (Menorahs, Mezuzas and Other Jewish Symbols [New York: Clarion, 1990], hlm. 45-46). Pohon juga dikaitkan dengan pohon keluarga. Pohon keluarga mengingatkan mereka bagaimana “kehidupan”sebuah keluarga; dari komunitas nenek moyang mereka yang awalnya kecil dapat bertumbuh dan bercabang menjadi banyak. Dalam makna harfiah pohon sangat penting karena ada banyak manfaatnya bagi kehidupan. Daun mereka mengubah energi matahari menjadi makanan yang menjadi awal dari rantai makanan yang diteruskan kepada hewan dan manusia. Pada musim semi bunga mekar, daun-daun bermunculan sebagai tanda dari hadirnya kehidupan baru. Secara khusus mereka mengingat pohon kehidupan dalam perayaan ini (Katy Z. Allen, “Branch Out and Celebrate the Many Meanings of Trees,” http://www.jweekly.com/article/full/7532/branch-out-and-celebrate-the-many-meaningsof-trees/; diakses 3 Oktober 2009). Beberapa pohon punya arti penting bagi mereka. Pada saat kelahiran anak laki-laki ditanam aras dan pada saat kelahiran anak perempuan ditanam cemara. Pohon murad (myrtle) menggambarkan kekekalan (Gershon Winkler, “Trees in Ancient Jewish Lore,”http://telshemesh.org/earth/trees_in_ancient_jewish_lore_gershon_winkler.html; diakses 3 Oktober 2009). Lihat juga makna pohon yang sangat variatif dalam, “Trees”dalam New Dictionary of Biblical Imagery (eds. Leland Ryken., et. al; Downers Grove: InterVarsity, 1998), hlm. 2991-2997.
20. “Over centuries, the seven branches of the menorah came to symbolize the seven heavenly bodies and the seven days of Creation. The shape, a central shaft with three branches on either side, suggests a tree. The ‘tree of life’ theme is common in Jewish thought , and the menorah, like the Torah, is sometimes referred to as a ‘tree of life’” (Cynthia Benedict, “Jewish Symbol,”http://www.evjcc.org/resources/arts/symbols.html; diakses 3 Oktober 2009).
21. Amsal 24:5; Pengkhotbah 8:17; Yesaya 5:21; 29:14; 44:25; Yeremia 8:9; 9:12; 9:23-24; 1 Korintus 1:25-27.
22. Keluaran 31:6, “Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu.”Kata ahli/keahlian di sini berasal dari kata hakam yang biasanya diterjemahkan “hikmat” (Kel. 35:10; 36:1-8; 1Taw. 22:15; 2Taw. 2:7). Dalam 1 Raja-raja 3:7-9 Salomo meminta kepada Tuhan hikmat (ay. 12) yang sebenarnya berkaitan dengan menimbang perkara hukum secara adil (bdk. Ams. 24:23). Beberapa bagian Amsal mengaitkan hikmat dengan soal lidah (Ams. 10:8, 12:8; 14:3; 15:2, 7; 16:23), sikap yang rajin bekerja dan tidak malas (26:16, tidak cinta harta (28:11; bdk. Pkh. 7:7), pembawa damai (29:8, 11). Emmet Russell menulis, “In man wisdom is an eminently practical attribute, including technical skill (Ex. 28:3), military prowess (Is. 10:13), and shrewdness for questionable ends (1Kings 2:6). Wisdom is shown in getting desired ends by effective means” (“Wisdom,”dalam New International Bible Dictionary [ed. J. D. Douglas; Grand Rapids: Zondervan, 1987], hlm. 1066-1067 [penekanan oleh penulis]).
23. Ulangan 4:5-6, “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul. 16:19). Lihat juga Amsal 3:7. Russell mengatakan, “God is the source of wisdom as of power, and wisdom is given to people through the fear of the Lord” (“Wisdom”dalam New International Bible Dictionary 1066).
24. D. Edmond Hiebert mengatakan, “The sin in eating its fruit did not lie in the tree but in the disobedience of the persons who ate” (“Tree of Knowledge” dalam New International Bible Dictionary, hlm. 1033-1034)
25. “Genesis”dalam Expositors Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1994) 1.9.
26. Purwa Hardiwardoyo, seorang penulis Katolik menuliskan definisi dosa demikian, “Tuhan Yesus pernah menegaskan bahwa dosa berakar dalam hati dan menimbulkan berbagai hal lahiriah yang buruk” (Pertobatan dalam Tradisi Katolik [Yogyakarta: Kanisius, 2007], hlm. 20). Definisi ini jelas mendapat banyak dukungan dari firman Tuhan, di antaranya: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15; bdk. Mzm. 140:3; Ams. 6:18; 12:20; 21:10; Pkh. 9:3; Yer. 17:9). Coba lihat definisi kejahatan menurut Tuhan Yesus yang sangat eksplisit menyebutkan bahwa hatilah yang menjadi akar kejahatan, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:21-23; bdk. Mat. 22:18).
27. Penulis tertarik dengan tafsiran Hardiwardoyo yang menyebut bahwa kesimpulan dari Kejadian pasal 3-11 adalah menegaskan ciri universalitas dosa (ibid., hlm. 15). Yang menarik setelah pasal 3 bagian berikutnya berisikan beberapa silsilah (Ibr. toledoth) yang memang tampaknya mulai menunjukkan dosa yang merambah secara universal (bdk. dengan dosa Lamekh yang mengadakan pembunuhan dan mengaitkannya dengan Kain [4:23-24]. Perhatikan juga siklus silsilah Adam pada pasal 5 yang semuanya berakhir dengan kematian, kecuali Henokh yang hidup bergaul dengan Allah [ay. 21-24]. Jelas kematian di sini merujuk ke 2:17. Sebaliknya mulai pasal 12 diketengahkan tema baru bahwa lewat pemilihan dan benih turunan [ toledoth] Abraham masalah kejahatan akan dihancurkan [12:2-3]).
28. Ben Witherington III mengatakan bahwa kata “hysterountai”berarti, “lack, fail to obtain, be wanting, fall short.” Menurutnya, teks-teks rabinik kemudian (later rabbinic), memperbincangkan Adam yang memiliki kemuliaan ini namun kehilangannya, dan ini cocok dengan bagian selanjutnya yang berbicara soal Adam di pasal 5 (Paul’s Letter to the Romans: A Socio-Rhetorical Commentary [Grand Rapids: Eerdmans, 2004], hlm. 102). Jelas bagian ini ini mengajak kita kembali mengingat kisah Kejadian 3.
29. Bandingkan Roma 1:19-23, 25, 31. Perhatikan dampak-dampak buruk yang ditimbulkan dari sikap hidup manusia yang dengan sengaja meninggalkan Allah di ayat 24, 26-30.
30. Lih. dosa Kain. Problemnya adalah Kain mendiamkan teguran Allah yang mengajaknya untuk berbuat baik. Kalau kita memperhatikan alur dari Kejadian 1-3 maka tentu ajakan Allah berbuat baik adalah ajakan supaya Kain mengingat kodratnya dan berpaut kembali kepada Dia, Sang Sumber kebaikan.
31. Istilah “mengusahakan”dan “memelihara” (Kej. 2:15) adalah kata-kata yang sebenarnya bermakna religius dan bukan seperti definisi pekerjaan sekular yang kita pahami saat ini. Dalam bahasa Ibrani kata “mengusahakan”berasal dari kata ‘abad (lit. “melayani/to serve”) biasa dipakai untuk menunjuk pada aktivitas religius melayani Tuhan (Ul. 4:19). Kata ini juga dipakai untuk menunjuk kepada tugas para imam di Kemah Suci (Bil. 3:7–8; 4:23–24, 26). Kata “memelihara”yang berasal dari kata Ibrani shamar juga dipakai untuk tindakan para imam yang menjaga Kemah Suci (Bil. 1:53; 3:7-8). Walter Brueggemann mengatakan, “From the beginning, the human creature is called, given a vocation, and expected to share in God's work” (Genesis [Interpretation; Louisville: Westminster/John Knox, 1982], hlm. 46 [penekanan oleh penulis]).
32. Gordon Govier, “Harvard Mission with N. T. Wright,”http://www.intervarsity.org/news/harvard-mission-with-nt-wright; diakses 8 September 2009.
33. “Heaven Is Not Our Home,”http://www.christianitytoday.com/ct/2008/april/13.36 html?start=3; diakses 8 September 2009.
34. Bandingkan dengan tingginya angka bunuh diri dan beberapa peristiwa tragis seperti pembagian zakat, dan lain-lain. Perhatikan pula perilaku konsumtif sebagian kecil masyarakat kaya yang tetap gila-gilaan.
35. Buku-buku yang menurut pandangan penulis baik untuk membuka cakrawala kita tentang makna misi Allah di dunia yang penuh kejahatan ini, yang tentu saja tidak lepas dari spiritualitas pribadi adalah: McLaren, A Generous Orthodoxy, Shane Claiborne & Jonathan Wilson-Hartgrove, Becoming the Answer to Our Prayers (Downers Grove: InverVarsity, 2008); Howard Peskett dan Vinoth Ramachandra, The Message of Mission (BST; Downers Grove: InterVarsity, 2003); Henri Nouwen, Peacework: Mengakarkan Budaya Damai (terj.; Yogyakarta: Kanisius, 2007); Volf, Exclusion and Embrace; N. T. Wright, Surprise by Hope: Rethinking Heaven, Resurrection and the Mission of the Church (New York: HarperOne, 2008); Todd Hunter, Christianity Beyond Belief: Following Jesus for the Sake of Others (Downers Grove: InterVarsity, 2009); Emmanual Katangole dan Chris Rice, Reconciling All Things: A Christian Vision for Justice, Peace and Healing (Downers Grove: InterVarsity, 2008); Julie Clawson, Everyday Justice: The Global Impact on Our Daily Choices (Downers Grove: InterVarsity, 2009); Andy Crouch, Culture Making: Recovering Our Creative Calling (Downers Grove: InterVarsity, 2008); Gary A. Haugen, Good News About Injustice: A Witness of Courage in a Hurting World (Downers Grove: InterVarsity, 2009); Christopher J. Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible Grand Narrative (Downers Grove: InterVarsity, 2006).



Sumber:
VERITAS 10/2 (Oktober 2009), hlm. 171-187



Profil Penulis:
Ev. Perdian K. M. Tumanan, S.T., M.Div. adalah Direktur Regional Persekutuan Antar Universitas (PERKANTAS) Jawa Timur. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Teknik (S.T.) di Universitas Kristen Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menikah dengan Hilda Melanie dan dikaruniai seorang anak: Hannah Adelene Victoria Tumanan.





Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

Tidak ada komentar: